Peristiwa menegangkan pernah terjadi pada Hari Raya Idul Adha 10 Zulhijah 1381 Hijriah atau tepatnya 14 Mei 1962. Presiden pertama Republik Indonesia, Soekarno, nyaris menjadi korban pembunuhan saat tengah melaksanakan salat Idul Adha di Istana Merdeka, Jakarta.
Insiden tersebut terjadi ketika salat Idul Adha berlangsung khusyuk. Dikutip dari situs resmi PDI Perjuangan Jawa Timur, peristiwa berlangsung sekitar pukul 07.50 WIB saat salat memasuki rakaat kedua.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Di tengah suasana ibadah, seorang pria yang berada di barisan keenam mendadak berteriak "Allahu akbar!" sambil mengeluarkan pistol dan menembakkan senjatanya ke arah Soekarno sebanyak tiga kali.
Beruntung, upaya penembakan itu gagal mengenai sasaran. Jarak pelaku dengan posisi presiden yang cukup jauh serta banyaknya jemaah di sekitar Soekarno membuat peluru meleset. Namun, beberapa orang di sekitar presiden terkena tembakan dan mengalami luka di bagian kepala, bahu, hingga punggung.
Situasi saat itu langsung berubah kacau. Pelaku disebut sempat mencoba menerobos maju untuk mendekati Soekarno dan melanjutkan aksinya. Akan tetapi, para pengawal presiden bergerak cepat menghentikannya. Terjadi perkelahian singkat sebelum akhirnya pelaku berhasil dilumpuhkan dan diamankan.
Di tengah kekacauan tersebut, Soekarno segera dievakuasi dari lokasi kejadian dan dipastikan selamat dari percobaan pembunuhan itu.
Diceritakan Wakil Komandan Tjakrabirawa, H Maulwi Saelan seperti dalam buku autobiografinya yang ia tulis, Kesaksian Wakil Komandan Tjakrabirawa: Dari Revolusi 45 Sampai Kudeta 66.
Dalam bukunya, Maulwi Saelan, menjelaskan penembak berada dalam jarak 4 shaf (barisan dalam salat) dari Bung Karno.
"Ketika diperiksa, penembak mengaku melihat Bung Karno yang dibidiknya ada dua orang. Maka bingunglah ia hendak menembak yang mana," tulis Maulwi yang pernah menjadi kiper Timnas Sepakbola Indonesia saat berlaga di Olimpiade ke-16 Tahun 1956 di Melbourne, Australia melawan Timnas Uni Sovyet.
Lima orang dilaporkan terluka akibat insiden penembakan tersebut. Pelaku yang diketahui bernama Sanusi langsung ditangkap aparat keamanan.
Setelah kejadian, aparat melakukan penyelidikan mendalam. Dari hasil investigasi terungkap ancaman terhadap Soekarno sebenarnya telah terdeteksi sebelum pelaksanaan salat Idul Adha berlangsung.
Dalam konferensi pers usai insiden, ajudan presiden Kolonel Sabur mengungkap aparat keamanan sebelumnya telah menerima informasi terkait rencana pembunuhan terhadap kepala negara.
"Sebelum perayaan Idul Adha alat-alat negara telah menerima info bahwa Kartosuwirjo, Kepala Gerombolan Darul Islam, telah memerintahkan sembilan orang anak buahnya untuk membunuh Presiden Soekarno. Berhubung dengan itu alat-alat negara telah mengambil tindakan preventif," kata Sabur, dikutip dari Warta Bhakti (15 Mei 1962).
Kartosuwirjo sendiri dikenal sebagai tokoh yang mendeklarasikan Negara Islam Indonesia (NII) pada 1949. Gerakan tersebut selama bertahun-tahun mendapat perlawanan militer dari pemerintahan Soekarno.
Karena adanya informasi ancaman tersebut, pengamanan salat Idul Adha saat itu sebenarnya telah diperketat. Area ibadah diperiksa secara menyeluruh dan dijaga melalui enam titik pengamanan dengan personel bersenjata lengkap.
Komandan Pasukan Pengawal Pribadi Presiden, Mangil Martowidjojo, bahkan memastikan seluruh jemaah yang hadir menjalani pemeriksaan ketat sebelum memasuki lokasi salat.
Dalam autobiografi Kesaksian tentang Bung Karno, 1945-1967 (1999), Mangil mengungkap lima baris paling depan sengaja dikosongkan dari masyarakat umum dan hanya diisi personel militer dari berbagai matra. Jemaah umum baru diperbolehkan berada di barisan belakang.
Meski demikian, seluruh sistem pengamanan tersebut ternyata belum mampu mencegah pelaku masuk ke area salat.
Penyelidikan berikutnya juga menemukan bahwa Sanusi tidak bergerak sendirian. Aparat kemudian menangkap sejumlah orang lain yang diduga terlibat dalam rencana pembunuhan tersebut, yakni Harun, Djaja Permana Tapbi, Abidin, Cholil, Dachja, dan Nurdin.
Mereka disebut memperoleh akses masuk melalui undangan dari seseorang di Bogor. Saat berada di lokasi, para pelaku berpencar dan membawa perlengkapan berbeda. Sebagian membawa granat, sementara lainnya membawa pistol. Namun, hanya Sanusi yang akhirnya melakukan aksi penembakan.
Kasus percobaan pembunuhan terhadap Soekarno itu kemudian diproses hingga pengadilan. Para pelaku akhirnya dijatuhi hukuman mati.
Peristiwa berdarah pada Hari Raya Idul Adha 1962 tersebut menjadi salah satu titik penting dalam sejarah pengamanan presiden di Indonesia. Setelah kejadian itu, pemerintah memperkuat sistem pengawalan kepala negara dengan membentuk Pasukan Tjakrabirawa yang kemudian dikenal sebagai cikal bakal Pasukan Pengawal Presiden (Paspampres).
(dvs/lus)
