Tata Cara Puasa Daud, Bacaan Niat, Dalil dan Keutamaannya

Tata Cara Puasa Daud, Bacaan Niat, Dalil dan Keutamaannya

Salsa Dila Fitria Oktavianti - detikHikmah
Senin, 20 Apr 2026 08:59 WIB
Tata Cara Puasa Daud, Bacaan Niat, Dalil dan Keutamaannya
Ilustrasi puasa. Foto: Getty Images/rachasuk
Jakarta -

Puasa Daud merupakan salah satu puasa sunnah yang dianjurkan dalam Islam dan memiliki keutamaan tersendiri. Ibadah ini dilakukan secara bergantian, yakni satu hari berpuasa dan satu hari tidak.

Merujuk pada buku Menggapai Cinta-Nya karya Dedi Saputra, puasa Daud dijelaskan sebagai puasa sunnah yang dilakukan secara selang-seling. Pola ini menjadikannya berbeda dari puasa sunnah lainnya.

Puasa ini juga dinisbatkan kepada Nabi Daud AS, yang dikenal sebagai hamba yang tekun dalam beribadah, namun tetap mampu menjaga keseimbangan antara kewajiban ibadah dan aktivitas duniawi.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Dalam hadits dari 'Abdullah bin 'Amr bin Al 'Ash, ia berkata bahwa Rasulullah SAW bersabda,

أَحَبُّ الصَّلاةِ إِلَى اللَّهِ صَلاةُ دَاوُدَ - عَلَيْهِ السَّلامُ - وَأَحَبُّ الصَّيَامِ إِلَى اللَّهِ صِيَامُ دَاوُدَ ، وَكَانَ يَنَامُ نِصْفَ اللَّيْلِ وَيَقُومُ ثُلُثَهُ وَيَنَامُ سُدُسَهُ ، وَيَصُومُ يَوْمًا وَيُفْطِرُ يَوْمًا

ADVERTISEMENT

Artinya: "Sebaik-baik salat di sisi Allah adalah salatnya Nabi Daud 'alaihis salam. Dan sebaik-baik puasa di sisi Allah adalah puasa Daud. Nabi Daud dahulu tidur di pertengahan malam dan beliau salat di sepertiga malamnya dan tidur lagi di seperenamnya. Adapun puasa Daud yaitu puasa sehari dan tidak berpuasa di hari berikutnya." (HR. Bukhari).

Tata Cara Puasa Daud

Pada dasarnya, tata cara puasa Daud tidak berbeda dengan pelaksanaan puasa di bulan Ramadan. Hal ini sebagaimana dijelaskan dalam buku Siapa Berpuasa Dimudahkan Urusannya karya Khalifa Zain Nasrullah.

Dalam pelaksanaannya, orang yang menjalankan puasa Daud tetap dianjurkan untuk melakukan amalan-amalan sunnah, seperti mengakhirkan sahur dan menyegerakan berbuka ketika waktu Magrib telah masuk.

Selain itu, seluruh adab dalam berpuasa juga tetap berlaku, di antaranya menjaga lisan, menahan diri dari hal-hal yang dapat membatalkan puasa, serta memperbanyak ibadah.

Niat Puasa Daud

Pada dasarnya, niat puasa Daud cukup dihadirkan dalam hati tanpa harus dilafalkan. Namun, bagi yang ingin mengucapkannya secara lisan, terdapat bacaan niat yang dapat dijadikan panduan sebagai berikut:

نَوَيْتُ صَوْمَ دَاوُدْ سُنَّةً لِلَّهِ تَعَالَى

Latin: Nawaitu shauma daawud sunnatan lillaahi ta'aala.

Artinya: Aku berniat puasa Daud, sunnah karena Allah Ta'ala.

Keutamaan Puasa Daud

Dikutip dalam buku Puasa Daud untuk Kecerdasan & Keberuntungan Akademikmu oleh Yanuar Arifin, berikut beberapa keutamaan puasa Daud:

1. Puasa sebagai Perisai (Pelindung)

Puasa berfungsi sebagai benteng bagi seorang Muslim, baik dalam menjaga diri dari perbuatan dosa maupun dalam mengendalikan hawa nafsu. Dalam hal ini, Abu Hurairah meriwayatkan bahwa Rasulullah SAW bersabda:

"Puasa itu adalah perisai. Oleh karena itu, jika salah seorang di antara kalian berpuasa, maka janganlah ia berkata-kata kotor dan jangan pula berlaku bodoh. Jika ada orang yang memerangi atau mencacinya, maka hendaklah ia mengatakan, 'Sesungguhnya aku sedang berpuasa' (sebanyak dua kali). Demi Rabb yang jiwaku berada di tangan-Nya, bau mulut orang yang berpuasa itu lebih harum di sisi Allah Ta'ala daripada aroma minyak kasturi, di mana dia meninggalkan makanan, minuman, dan nafsu syahwatnya karena Aku (Allah). Puasa itu untuk-Ku, dan Aku akan memberikan pahala karenanya, dan satu kebaikan itu dibalas dengan sepuluh kali lipatnya." (HR. Bukhari).

Hadits ini menegaskan bahwa puasa bukan hanya menahan lapar dan dahaga, tetapi juga menjaga lisan dan perilaku agar tetap baik.

2. Puasa Menjadi Jalan Masuk Surga

Puasa juga termasuk amalan istimewa yang dapat mengantarkan seseorang menuju surga. Dalam hal ini, Sahl bin Sa'ad meriwayatkan bahwa Rasulullah SAW bersabda:

"Sesungguhnya, di dalam surga itu terdapat sebuah pintu yang bernama Rayyan. Orang-orang yang berpuasa akan masuk lewat pintu itu pada hari kiamat. Tidak ada orang selain mereka yang masuk bersama mereka. Ditanyakan, 'Di mana orang-orang yang puasa?' Kemudian, mereka masuk lewat pintu tersebut. Ketika orang yang terakhir dari mereka sudah masuk, maka pintu itu ditutup kembali, dan tidak ada seorang pun yang akan masuk lewat pintu itu." (HR. Bukhari dan Muslim).

Pintu Ar-Rayyan menjadi bentuk kemuliaan khusus bagi orang-orang yang tekun berpuasa.

3. Pahala Puasa Tidak Terbatas

Salah satu keutamaan utama dari puasa adalah pahala yang diberikan langsung oleh Allah SWT dengan jumlah yang tidak terbatas.

Dalam hal ini, Abu Hurairah meriwayatkan bahwa Rasulullah SAW bersabda:

"Allah berfirman, 'Semua amalan Bani Adam untuknya, kecuali puasa (pahalanya tak terbatas). Puasa itu untuk-Ku, dan Aku yang akan membalasnya. Puasa adalah perisai. Jika salah seorang kalian sedang berpuasa, janganlah berkata keji dan berteriak-teriak. Jika ada orang yang mencercanya atau memeranginya, ucapkan, 'Aku sedang berpuasa.' Demi Dzat yang jiwa Muhammad di tangan-Nya, sesungguhnya bau mulut orang yang berpuasa lebih wangi di sisi Allah daripada bau misik. Orang yang berpuasa punya dua kegembiraan; jika berbuka gembira, jika bertemu dengan Rabb-nya gembira karena puasa yang ia lakukan." (HR. Bukhari dan Muslim).

Dalam riwayat lain disebutkan:

"Semua amalan Ibnu Adam dilipatgandakan, kebaikan dibalas dengan sepuluh kali, sampai tujuh ratus kali lipat. Allah SWT berfirman, 'Kecuali puasa, karena ia itu untuk-Ku, dan Aku yang akan membalasnya, dan ia meninggalkan syahwat dan makanannya karena Aku. Bagi orang yang berpuasa, ada dua kegembiraan; gembira ketika berbuka, dan gembira saat bertemu dengan Rabbnya, dan sungguh bau mulut orang yang puasa di sisi Allah adalah lebih wangi daripada bau misik." (HR. Muslim).

Hal ini menunjukkan betapa istimewanya ibadah puasa dibandingkan amalan lainnya.

4. Puasa dan Al-Qur'an Memberi Syafaat

Puasa tidak hanya memberikan manfaat dalam kehidupan di dunia, tetapi juga akan menjadi penolong bagi seseorang di akhirat. Dalam hal ini, Rasulullah SAW bersabda:

"Puasa dan al-Qur'an akan memberikan syafaat kepada seorang hamba pada hari kiamat. Puasa akan berkata, 'Wahai Rabbku, aku menghalanginya dari makan dan syahwat, berilah ia syafaat karenaku.' Al-Qur'an pun berkata, 'Aku telah menghalanginya dari tidur pada malam hari, berilah ia syafaat.' Maka, keduanya memberi syafaat." (HR. Ahmad, Hakim, Abu Nu'aim dari jalur Huyyay bin Abdullah, dari Abdurrahman al-Hubuli, dari Abdullah bin Amr).
Ini menjadi bukti bahwa ibadah puasa dan tilawah Al-Qur'an memiliki kedudukan yang sangat tinggi di sisi Allah.

5. Puasa sebagai Kafarat (Penebus Dosa)

Puasa juga memiliki fungsi sebagai kafarat atau penebus dosa dalam kondisi tertentu. Hal ini sebagaimana ditegaskan dalam firman Allah SWT:

فَمَن لَّمْ يَجِدْ فَصِيَامُ ثَلَاثَةِ أَيَّامٍ فِي الْحَجِ وَسَبْعَةٍ إِذَا رَجَعْتُمْ تِلْكَ عَشَرَةٌ كَامِلَةٌ ذَلِكَ لِمَن لَّمْ يَكُنْ أَهْلُهُ حَاضِرِي الْمَسْجِدِ الْحَرَامِ وَاتَّقُوا اللَّهَ وَاعْلَمُوا أَنَّ اللَّهَ شَدِيدُ الْعِقَابِ

"...Tetapi, jika ia tidak menemukan (binatang kurban atau tidak mampu), maka wajib berpuasa tiga hari dalam masa haji dan tujuh hari (lagi) apabila kamu telah pulang kembali. Itulah sepuluh (hari) yang sempurna...." (QS. al-Baqarah [2]: 196).

Ayat ini menunjukkan bahwa puasa dapat menjadi pengganti atau penyempurna ibadah tertentu sekaligus sebagai bentuk ketaatan kepada Allah SWT.




(inf/inf)
Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Hide Ads