Puasa Syawal jadi amalan sunnah yang disebut penyempurna puasa Ramadan. Biasanya, muslim melaksanakan ibadah ini selama enam hari mulai tanggal 2 Syawal.
Menurut buku Fiqih Puasa susunan Thoat Setiawan, kedudukan puasa Syawal terbilang istimewa dalam Islam. Nabi Muhammad SAW bersabda dalam haditsnya,
"Barang siapa yang berpuasa Ramadan kemudian diikuti dengan enam hari di bulan Syawal, maka ia seperti berpuasa setahun penuh." (HR Muslim)
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Lantas, bolehkah muslim puasa Syawal tidak berurutan? Apa hukumnya?
Bolehkah Puasa Syawal Tidak Berurutan?
Dilansir dari buku Dahsyatnya 7 Puasa Wajib, Sunnah, & Thibbun Nabawi karya Maryam Kinanthi N, Ibnu Utsaimin dalam fatwanya dalam kitab Ad Da'wah mengatakan diperbolehkan mengerjakan puasa sunnah secara berurutan atau terpisah. Meski begitu, puasa lebih utama dikerjakan secara berurutan.
"Boleh melaksanakan puasa sunnah secara berurutan atau terpisah-pisah. Namun, mengerjakannya dengan berurutan, itu lebih utama karena menunjukkan sikap bersegera dalam melaksanakan kebaikan, dan tidak menunda-nunda amal yang bisa menyebabkan tidak jadi beramal," tulisnya.
Kemudian, turut dijelaskan dalam buku Menjadi Takwa dengan Puasa susunan Fajar Jurnianto, jumhur ulama tidak mengharuskan puasa Syawal dikerjakan berurutan walau hal itu diperbolehkan. Menurut mereka, tidak ada anjuran atau larangan dari Nabi Muhammad SAW.
Artinya, muslim boleh saja melaksanakan puasa Syawal meski selang-seling dan tidak berurutan. Asalkan, puasa tersebut masih dilakukan di bulan Syawal.
Niat Puasa Syawal: Arab, Latin dan Arti
نَوَيْتُ صَوْمَ غَدٍ عَنْ أَدَاءِ سُنَّةِ الشَّوَّالِ لِلهِ تَعَالَى
Nawaitu shauma ghadin 'an adâ'i sunnatis Syawwâli lillâhi ta'âlâ
Artinya: "Aku niat puasa besok pagi pada bulan Syawal, sunah karena Allah Ta'ala."
Pahala Puasa Syawal bagi Muslim
Dikutip dari buku Buka Puasa Bersama Rasulullah SAW oleh Muhammad Ridho al-Thurisinai, puasa Syawal diibaratkan sebagai salat sunnah rawatib yang mengiringi salat wajib lima waktu. Puasa ini dianggap sebagai penyempurna Ramadan.
Saat kiamat tiba, amalan-amalan wajib akan dilengkapi dengan perbuatan sunnah yang dikerjakan, salah satunya puasa Syawal. Nabi Muhammad SAW bersabda dalam haditsnya terkait ganjaran pahala puasa Syawal,
"Barangsiapa yang berpuasa Ramadan kemudian berpuasa enam hari di bulan Syawal, maka baginya (pahala) puasa selama setahun penuh." (HR Muslim)
Sayyid Sabiq dalam kitabnya Fiqh As Sunnah menuturkan para ulama menyebut puasa Ramadan sama dengan berpuasa selama sepuluh bulan, karena setiap amal kebaikan yang dikerjakan seseorang yang berpuasa di bulan itu pahalanya dilipatgandakan menjadi sepuluh. Kemudian, puasa enam hari di bulan Syawal setara dengan puasa dua bulan, jadi jika ditotal maka menjadi 12 bulan yang artinya sama dengan setahun.
Melalui hadits lainnya, Ibnu Majah berkata:
"Seperti diceritakan Muhammad bin Ibrahim, Usamah bin Zaid terbiasa puasa di bulan-bulan suci. Rasulullah SAW kemudian berkata, 'Puasalah di bulan Syawal,' Lalu dia melaksanakan puasa tersebut hingga akhir hayat." (HR Sunan Ibnu Majah)
Wallahu a'lam.
(aeb/inf)












































Komentar Terbanyak
Soal Presiden Beli Sapi Kurban Pakai APBN, MUI: Disunnahkan bagi Pemimpin
Prabowo Akan Salat Idul Adha di Prancis, Kurban 1.098 Sapi Tetap Jalan
Guru Besar UIN Jakarta: Sapi Kurban Presiden Dipahami sebagai Program Sosial Negara