Kementerian Agama (Kemenag) dalam waktu dekat akan meluncurkan program Masjid Ramah Pemudik. Program ini akan diresmikan pada Rabu, 11 Maret 2026. Peluncuran program tersebut akan digelar di Kantor Kementerian Agama (Kemenag) Jakarta.
Program ini merupakan kolaborasi nasional yang bertujuan memantau sekaligus memperkuat pelayanan masjid selama Ramadan, terutama pada masa arus mudik dan arus balik Lebaran.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Direktur Jenderal Bimbingan Masyarakat Islam Kementerian Agama, Abu Rokhmad, mengatakan program ini dihadirkan untuk memastikan masyarakat yang melakukan perjalanan mudik tetap mendapatkan pelayanan ibadah sekaligus tempat beristirahat yang layak di sepanjang jalur perjalanan.
"Insyaallah besok Rabu tanggal 11 Maret 2026 bertempat di kantor Kementerian Agama Lapangan Banteng akan kami kick-off program Masjid Ramah Pemudik dan Ekspedisi Masjid Indonesia. Ini merupakan bagian dari pelayanan masjid selama Ramadan, termasuk saat arus mudik dan arus balik," kata Abu Rokhmad di Jakarta, Senin (9/3/2026).
Menurutnya, Idul Fitri tidak hanya menjadi momentum keagamaan, tetapi juga momentum sosial yang sangat besar di Indonesia. Tradisi mudik merupakan bagian yang tidak terpisahkan dari perayaan tersebut.
"Selama ini Idul Fitri sebenarnya merupakan momentum keagamaan yang kemudian berkembang menjadi momentum sosial. Jika tidak ada Idul Fitri, tentu tidak ada mudik Lebaran dan arus balik Lebaran," ujarnya.
Karena itu, Kementerian Agama ingin berkontribusi lebih besar untuk mendukung kenyamanan dan keselamatan para pemudik melalui fasilitas masjid di sepanjang jalur perjalanan.
Abu Rokhmad menjelaskan, masjid yang mengikuti program Masjid Ramah Pemudik diharapkan menyediakan berbagai layanan dasar bagi para pelintas yang membutuhkan tempat singgah.
"Para pemudik yang menempuh perjalanan panjang diharapkan tetap menjaga kesehatan dan tidak meninggalkan ibadah. Mereka bisa mampir ke masjid-masjid di sepanjang jalur mudik yang menjadi bagian dari program ini," jelasnya.
Ia menambahkan, salah satu ciri masjid ramah pemudik adalah membuka layanan selama 24 jam, sehingga pemudik dapat beristirahat kapan pun dibutuhkan.
"Masjid pada dasarnya memang tidak pernah libur. Oleh karena itu, kami berharap masjid yang terlibat dalam program ini menyediakan ruang yang cukup untuk beribadah maupun untuk melepas lelah," lanjut Abu Rokhmad.
Selain ruang istirahat, fasilitas lain yang diharapkan tersedia antara lain air wudhu, kamar mandi, tempat mandi, serta fasilitas pengisian daya telepon seluler. Bahkan jika bertepatan dengan waktu berbuka puasa, masjid juga diharapkan dapat menyediakan takjil bagi para pemudik.
"Jika saat itu waktunya berbuka puasa, para pemudik juga bisa mendapatkan takjil di masjid-masjid tersebut," ujarnya.
Program ini juga akan dipantau melalui berbagai kanal informasi, termasuk melalui jaringan radio dan mitra media yang terlibat dalam ekspedisi masjid.
"Melalui mitra kami, termasuk radio, masyarakat dapat mengetahui masjid-masjid yang melayani pemudik serta berbagai cerita di balik pelayanan yang diberikan kepada masyarakat," pungkas Abu Rokhmad.
(dvs/erd)












































Komentar Terbanyak
Nabi-nabi dari Kalangan Bani Israil, Ini Daftar Lengkapnya
Apakah Haji Bisa Tidak Mabrur? Ini Kesalahan yang Sering Dilakukan Jemaah
Pendapat Hukum Austria Sebut Larangan Jilbab Tak Sesuai dengan Konstitusi