Ramadan menjadi momen yang paling ditunggu-tunggu oleh umat Islam di seluruh dunia. Di beberapa negara, Ramadan bahkan menjadi bulan yang paling festive karena sambutan yang meriah. Setiap daerah punya caranya masing-masing dalam menyambut bulan Ramadan, termasuk di Suriah.
Setelah bertahun-tahun dilanda konflik, Suriah kini mulai merasakan ketenangan. Beberapa hari sebelum Ramadan, masyarakat Suriah khususnya di Damaskus, menghiasi hampir setiap sudut kota dengan lampu-lampu berwarna-warni dalam rangka menyambut bulan suci ini.
Suasana Ramadan 2026 di Damaskus Suriah. Warga Suriah berburu takjil dan manisan khas Ramadan di jalan Jazmatiyyah di sore hari. Foto: Dok Muhammad Nabil Charomaein |
Pasar-pasar tradisional penuh sesak dengan para pengunjung yang ingin membeli persiapan bahan-bahan makanan untuk bekal selama satu bulan penuh. Bagi mereka, ini adalah momen spesial yang harus dihadapi dengan persiapan terbaik.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Memasuki hari pertama, suasana kota Damaskus berubah total. Hiruk pikuk kota seakan lenyap. Kota ini mendadak sepi dan tidak banyak aktivitas di luar rumah. Tradisi berburu takjil sebelum berbuka menjadi satu kesamaan antara kampung halaman dan tanah perantauan. Hanya saja, Damaskus menampilkan ritme kota yang berbeda dari banyak kota di Indonesia.
Suasana Ramadan 2026 di Damaskus. Jalan Jazmatiyyah yang terlihat sepi selepas Magrib hingga selesai Tarawih. Foto: Dok Muhammad Nabil Charomaein |
Sebagai contoh di kawasan Jazmatiyyah-salah satu pusat perbelanjaan manisan yang terletak di tengah kota Damaskus. Di sore hari, jalanan Jazmatiyyah akan ramai dipadati oleh orang-orang yang ingin berburu manisan juga jajanan khas Ramadan untuk berbuka. Tapi menjelang magrib, jalanan mulai lengang. Kota perlahan sepi. Warga lebih memilih untuk berbuka puasa bersama keluarganya di rumah masing-masing.
Tidak banyak kedai-kedai yang buka ketika magrib. Bahkan kedai makanan. Bagi masyarakat Suriah, berbuka puasa bersama lebih terasa nikmat dan syahdu jika dilakukan bersama keluarga di rumah masing-masing. Toko-toko tutup, kota beristirahat sejenak. Aktivitas publik berhenti sejenak sampai Tarawih selesai.
Setelah Tarawih selesai, toko-toko kembali dibuka. Orang-orang keluar rumah, anak-anak bermain, orang dewasa saling menyapa, kota perlahan hidup kembali. Jeda ini barangkali adalah satu Fenomena unik yang membedakan Suriah dengan negara-negara lainnya. Di mana ruang untuk beribadah lebih didukung. Masyarakat tetap melakukan aktivitas sosialnya sambil tetap memberi ruang kebersamaan dengan keluarga, juga menghidupi malam Ramadan dengan melaksanakan salat Tarawih berjamaah di masjid.
Ritme Ramadan di Suriah bukanlah garis lurus yang monoton. Melainkan gelombang yang unik di mana aktivitas sosial berjalan seimbang tanpa kehilangan ketenangannya.
--
Muhammad Nabil Charomaein
Mahasiswa Jurusan Sastra Arab
Universitas Bilad Al Syam Mujamma' Fath Islami
Artikel ini merupakan kolaborasi detikHikmah dengan PPI Dunia. Seluruh isi artikel menjadi tanggung jawab penulis. (Terima kasih - Redaksi)
(kri/kri)














































Komentar Terbanyak
Anggaran Sewa Laptop & Meja Disebut Terlalu Besar, Kemenag: Ini Jauh Lebih Efisien
Jemaah Haji RI Ditangkap di Madinah Usai Videokan Wanita Tanpa Izin
Kenapa Mayoritas Penduduk Madinah Dulu Beragama Yahudi?