Tradisi Unik Menyambut Ramadan di Berbagai Negara

Tradisi Unik Menyambut Ramadan di Berbagai Negara

Devi Setya - detikHikmah
Minggu, 15 Feb 2026 19:00 WIB
Tradisi Unik Menyambut Ramadan di Berbagai Negara
ilustrasi tradisi menyambut Ramadan Foto: Muhammad Firman Maulana
Jakarta -

Ramadan bukan sekadar bulan puasa. Bagi muslim di seluruh dunia, Ramadan adalah momen yang ditunggu-tunggu setiap tahun.

Menariknya, cara menyambut bulan suci ini berbeda-beda di setiap negara. Ada yang merayakannya dengan lentera warna-warni, parade meriah, hingga dentuman meriam penanda waktu berbuka.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Keberagaman tradisi ini menunjukkan bahwa meski ajaran Islam satu, budaya lokal tetap memberi warna tersendiri dalam menyambut Ramadan.

Dilansir dari berbagai sumber, berikut deretan tradisi unik dari berbagai belahan dunia.

Tradisi Unik Menyambut Ramadan

1. Fanous Ramadan di Mesir

Jika berkunjung ke Mesir menjelang Ramadan, masyarakat akan dimanjakan dengan pemandangan jalanan dipenuhi lentera warna-warni yang disebut fanous. Tradisi ini sudah ada sejak era Dinasti Fatimiyah.

Anak-anak biasanya membawa lentera sambil bernyanyi menyambut bulan suci. Fanous menjadi simbol kebahagiaan dan cahaya yang menerangi hati selama Ramadan.

2. Meriam Ramadan di Indonesia

Di beberapa daerah di Indonesia, ada tradisi membunyikan meriam atau bedug besar sebagai penanda waktu berbuka puasa dan sahur. Di Pontianak misalnya, meriam karbit menjadi atraksi khas setiap Ramadan tiba.

Dentuman suara meriam ini bukan hanya penanda waktu, tapi juga simbol semangat dan kebersamaan masyarakat.

3. Parade Lampu di Turki

Di Turki, suasana Ramadan terasa sangat khas dengan lampu-lampu bertuliskan pesan religius yang dibentangkan di antara dua menara masjid. Tradisi ini dikenal dengan istilah mahya.

Ketika malam tiba, tulisan bercahaya seperti "HoÅŸgeldin Ramazan" (Selamat Datang Ramadan) menghiasi langit kota, menciptakan suasana yang hangat dan khusyuk.

4. Tradisi "Haq Al Laila" di Uni Emirat Arab

Beberapa minggu sebelum Ramadan, anak-anak di Uni Emirat Arab berkeliling lingkungan sambil mengenakan pakaian tradisional dan membawa tas kain. Mereka mengetuk pintu rumah dan menerima permen serta kacang-kacangan.

Tradisi ini mirip dengan perayaan kecil yang mempererat hubungan antarwarga sekaligus menanamkan semangat berbagi sejak dini.

5. Dentuman Meriam Penanda Iftar di Lebanon

Suasana Ramadan di Lebanon memiliki ciri khas tersendiri. Dentuman meriam terdengar memecah senja saat Ramadan tiba, menjadi penanda bahwa waktu berbuka puasa telah tiba. Tradisi ini bukan sekadar seremoni, melainkan simbol kebersamaan yang telah diwariskan lintas generasi.

Sebagaimana dikutip dari IndonesiaBaik, kebiasaan menembakkan meriam saat Ramadan berakar dari era Kesultanan Ottoman di Mesir. Dari sana, tradisi tersebut menyebar ke berbagai wilayah Timur Tengah, termasuk Lebanon.

Dentuman meriam menjadi isyarat yang ditunggu-tunggu, terutama pada masa ketika penanda waktu belum semudah sekarang. Hingga kini, suara ledakan itu tetap dinanti sebagai momen sakral yang mengawali kebersamaan keluarga di meja makan.

6. Genderang Sahur di Turki

Sementara itu, suasana Ramadan di Turki juga tak kalah unik. Di tengah malam yang hening, suara tabuhan genderang terdengar menyusuri lorong-lorong kota. Para penabuh genderang berjalan berkeliling dari satu jalan ke jalan lain untuk membangunkan warga agar tidak melewatkan sahur.

Dikutip dari Antara, para penabuh ini mengenakan busana tradisional era Ottoman sambil memainkan irama khas yang mudah dikenali. Tradisi ini telah bertahan selama berabad-abad dan menjadi bagian penting dari identitas budaya Ramadan di Turki.

Lebih dari sekadar membangunkan sahur, kehadiran mereka menghadirkan nuansa kebersamaan dan nostalgia, menghubungkan masa kini dengan jejak sejarah yang panjang.

7. Musaharati di Suriah

Di beberapa negara Timur Tengah seperti Suriah, masih ada tradisi musaharati, yaitu seseorang yang berkeliling kampung pada dini hari untuk membangunkan warga sahur dengan tabuhan drum dan lantunan doa.

Walaupun berbeda-beda, semua tradisi tersebut memiliki benang merah yang sama: persiapan menyambut Ramadan dengan sukacita dan kebersamaan.




(dvs/inf)
Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Hide Ads