Puasa sunnah merupakan salah satu amalan yang sangat dianjurkan dalam Islam. Di antara puasa sunnah yang paling dikenal dan rutin dilakukan oleh Rasulullah SAW adalah puasa hari Senin.
Amalan ini memiliki nilai ibadah yang besar. Banyak umat Islam yang mengamalkan puasa Senin, tetapi tidak sedikit pula yang belum memahami secara mendalam alasan Nabi Muhammad SAW secara khusus memilih hari tersebut untuk berpuasa.
Dalam khazanah bahasa Arab, hari Senin disebut al-Itsnain. Penamaan ini tidak lepas dari makna kebahasaannya yang berarti dua. Hari Senin disebut demikian karena diyakini sebagai hari kedua proses penciptaan seluruh makhluk selain bumi. Penjelasan ini sebagaimana dikemukakan oleh Al-Bujairami dalam Hasyiyah al-Bujairami 'Alal Khatib.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Dalil Hadits tentang Puasa Hari Senin
Dasar utama puasa hari Senin bersumber dari hadits shahih yang diriwayatkan oleh Imam Muslim. Dalam hadits tersebut, Rasulullah SAW menjelaskan secara langsung alasan beliau berpuasa pada hari Senin.
Rasulullah SAW bersabda,
ذَاكَ يَوْمٌ وُلِدْتُ فِيهِ، وَيَوْمٌ بُعِثْتُ أَوْ أُنْزِلَ عَلَيَّ فِيهِ
Artinya: "Itu adalah hari aku dilahirkan, hari aku diutus (menjadi nabi), dan hari diturunkannya wahyu kepadaku." (HR Muslim)
Hadits ini menjadi penjelasan paling kuat bahwa puasa Senin memiliki keterkaitan langsung dengan peristiwa-peristiwa besar dalam kehidupan Rasulullah SAW.
1. Hari Kelahiran Nabi Muhammad SAW
Mengutip buku Inilah Alasan Rasulullah SAW Menganjurkan Puasa Sunah karya H. Amirulloh Syarbini, salah satu alasan Rasulullah SAW berpuasa pada hari Senin adalah karena beliau dilahirkan pada hari tersebut. Kelahiran Nabi Muhammad SAW merupakan peristiwa agung yang membawa rahmat bagi seluruh alam.
Allah SWT berfirman dalam Al-Qur'an surah Al-Anbiya ayat 107,
وَمَا أَرْسَلْنَاكَ إِلَّا رَحْمَةً لِلْعَالَمِينَ
Artinya: "Dan tidaklah Kami mengutus engkau (Muhammad), melainkan sebagai rahmat bagi seluruh alam."
Puasa hari Senin menjadi bentuk syukur Rasulullah SAW kepada Allah SWT atas nikmat kelahiran dan kehidupan yang Allah SWT anugerahkan kepadanya untuk menjalankan misi kenabian.
2. Hari Diutusnya Rasulullah SAW sebagai Nabi
Selain sebagai hari kelahiran, hari Senin juga merupakan hari Rasulullah SAW diangkat sebagai nabi dan rasul. Pada hari tersebut, wahyu pertama diturunkan kepada beliau melalui Malaikat Jibril AS di Gua Hira.
Peristiwa turunnya wahyu pertama menandai dimulainya risalah Islam yang membawa petunjuk bagi umat manusia. Puasa pada hari Senin menjadi wujud rasa syukur dan pengagungan Rasulullah SAW atas amanah besar yang Allah SWT berikan kepadanya.
3. Hari Diturunkannya Wahyu Pertama
Hari Senin adalah hari diturunkannya wahyu. Wahyu merupakan cahaya petunjuk yang membedakan antara kebenaran dan kebatilan.
Dengan berpuasa pada hari Senin, Rasulullah SAW menunjukkan betapa agungnya peristiwa turunnya wahyu dan betapa pentingnya Al-Qur'an sebagai pedoman hidup umat Islam.
Puasa menjadi sarana untuk mendekatkan diri kepada Allah SWT dan merenungi nikmat terbesar berupa petunjuk dan hidayah.
4. Hari Diangkatnya Amal Manusia
Terdapat hadits lain yang menjelaskan keutamaan hari Senin dari sisi amal perbuatan manusia. Rasulullah SAW bersabda,
تُعْرَضُ الْأَعْمَالُ يَوْمَ الِاثْنَيْنِ وَالْخَمِيسِ فَأُحِبُّ أَنْ يُعْرَضَ عَمَلِي وَأَنَا صَائِمٌ
Artinya: "Amal-amal perbuatan diperlihatkan pada hari Senin dan Kamis, maka aku ingin ketika amalku diperlihatkan, aku dalam keadaan berpuasa." (HR Tirmidzi)
5. Bentuk Syukur dan Keteladanan Rasulullah SAW
Puasa hari Senin juga mengajarkan umat Islam tentang cara bersyukur yang benar. Rasulullah SAW mencontohkan bahwa rasa syukur tidak hanya diungkapkan dengan ucapan, tetapi juga dengan amal ibadah.
Sebagaimana Rasulullah SAW melaksanakan puasa sebagai wujud syukur atas nikmat kelahiran, kenabian, dan wahyu, umat Islam dianjurkan untuk meneladani amalan tersebut sesuai kemampuan masing-masing.
Hukum Puasa Hari Senin
Merujuk buku Fiqh Puasa Wajib dan Sunnah Syarh Kitabus Shiyam min Bulughil Maram karya Abu Utsman Kharisman, puasa hari Senin termasuk kategori puasa sunnah. Artinya, ibadah ini sangat dianjurkan dan memiliki pahala besar bagi yang melaksanakannya, tetapi tidak berdosa bagi yang meninggalkannya.
Meskipun demikian, konsistensi dalam menjalankan puasa sunnah menunjukkan kecintaan seorang muslim kepada Rasulullah SAW dan kesungguhan dalam mengikuti sunnahnya.
(dvs/kri)












































Komentar Terbanyak
MUI Desak RI Keluar dari Board of Peace Buntut Serangan AS-Israel ke Iran
Pernyataan Soal Zakat Picu Polemik, Menag Sampaikan Klarifikasi
PBNU Kutuk Serangan AS-Israel ke Iran: Brutal dan Merusak Tatanan