Memutus Silaturahmi karena Konflik Keluarga, Apa Hukumnya dalam Islam?

Memutus Silaturahmi karena Konflik Keluarga, Apa Hukumnya dalam Islam?

Tia Kamilla - detikHikmah
Rabu, 21 Jan 2026 20:52 WIB
Ilustrasi silaturahmi saat Lebaran.
Ilustrasi silaturahmi. Foto: Shutterstock
Jakarta -

Konflik keluarga sering kali datang dari orang terdekat. Mulai dari salah paham, masalah warisan, hingga ucapan yang menyakitkan hati. Tak sedikit yang akhirnya memilih menjauh, bahkan memutus silaturahmi. Namun, apakah keputusan itu dibenarkan?

Dalam Islam, silaturahmi memiliki kedudukan yang sangat mulia. Allah SWT memerintahkan umat Islam untuk menjaga silaturahmi dan melarang keras memutuskannya. Sebagaimana dijelaskan dalam surah An-Nisa' ayat 1,

يَٰٓأَيُّهَا ٱلنَّاسُ ٱتَّقُوا۟ رَبَّكُمُ ٱلَّذِى خَلَقَكُم مِّن نَّفْسٍ وَٰحِدَةٍ وَخَلَقَ مِنْهَا زَوْجَهَا وَبَثَّ مِنْهُمَا رِجَالًا كَثِيرًا وَنِسَآءً ۚ وَٱتَّقُوا۟ ٱللَّهَ ٱلَّذِى تَسَآءَلُونَ بِهِۦ وَٱلْأَرْحَامَ ۚ إِنَّ ٱللَّهَ كَانَ عَلَيْكُمْ رَقِيبًا

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Artinya: "Wahai manusia, bertakwalah kepada Tuhanmu yang telah menciptakanmu dari diri yang satu (Adam) dan Dia menciptakan darinya pasangannya (Hawa). Dari keduanya Allah memperkembangbiakkan laki-laki dan perempuan yang banyak. Bertakwalah kepada Allah yang dengan nama-Nya kamu saling meminta dan (peliharalah) hubungan kekeluargaan. Sesungguhnya Allah selalu menjaga dan mengawasimu."

Lantas, bagaimana hukum memutus silaturahmi karena konflik keluarga dalam pandangan Islam? Simak penjelasannya berikut.

ADVERTISEMENT

Hukum Memutus Silaturahmi karena Konflik Keluarga

Memutuskan silaturahmi karena konflik keluarga hukumnya tidak diperbolehkan dalam Islam. Sebagaimana dikutip dari buku Ayat-Ayat Nasihat karya Mohamad As'adi bin Tawi, Allah SWT memberikan ancaman tegas kepada orang-orang yang dengan sengaja memutus tali silaturahmi.

Larangan tersebut ditegaskan dalam sabda Rasulullah SAW, "Tidak akan masuk surga orang yang memutus silaturahmi." (HR Bukhari dan Muslim)

Hadits ini menjelaskan adanya ancaman dari Allah SWT bagi siapa saja yang tidak menjalankan perintah untuk menjaga silaturahmi. Jadi, umat Islam harus tetap menjaga silaturahmi meskipun ada persoalan atau konflik di dalam keluarga.

Islam sendiri sangat menganjurkan umatnya untuk merawat hubungan kekeluargaan serta mencegah terjadinya perpecahan dan permusuhan. Karena itu, silaturahmi memiliki kedudukan yang sangat penting dalam ajaran Islam.

Penegasan mengenai pentingnya silaturahmi juga terdapat dalam hadits yang diriwayatkan oleh Abu Umamah RA. Ia berkata,

"Amr bin 'Abasah as-Sulami bertanya kepada Rasulullah SAW, 'Dengan apa Allah mengutusmu?' Rasulullah SAW menjawab, 'Allah mengutusku dengan silaturahmi, menghancurkan berhala, dan agar Allah ditauhidkan, Dia tidak disekutukan dengan sesuatu pun'." (HR Muslim)

Dampak Buruk Orang yang Memutus Silaturahmi

Berikut adalah beberapa dampak buruk orang yang memutus silaturahmi menurut Al-Qur'an dan hadits Rasulullah SAW.

1. Terancam Masuk Neraka

Masih mengacu pada sumber yang sama, orang yang memutus tali silaturahmi akan mendapatkan siksa yang sangat pedih di neraka. Allah SWT sangat membenci orang yang memutus silaturahmi dan akan memasukkannya ke dalam neraka, sebagaimana firman-Nya dalam surah Ar-Ra'd ayat 25,

وَالَّذِيْنَ يَنْقُضُوْنَ عَهْدَ اللّٰهِ مِنْ ۢ بَعْدِ مِيْثَاقِهٖ وَيَقْطَعُوْنَ مَآ اَمَرَ اللّٰهُ بِهٖٓ اَنْ يُّوْصَلَ وَيُفْسِدُوْنَ فِى الْاَرْضِۙ اُولٰۤىِٕكَ لَهُمُ اللَّعْنَةُ وَلَهُمْ سُوْۤءُ الدَّارِ

Artinya: "Orang-orang yang melanggar perjanjian (dengan) Allah setelah diteguhkan, memutuskan apa yang diperintahkan Allah untuk disambungkan (seperti silaturahmi), dan berbuat kerusakan di bumi; mereka itulah orang-orang yang mendapat laknat dan bagi mereka tempat kediaman yang buruk (Jahanam)."

2. Mendapat Siksa di Dunia

Tidak hanya di akhirat, orang yang enggan menyambung silaturahmi juga akan mendapatkan siksa di dunia. Mengenai hal tersebut, Rasulullah SAW bersabda, sebagaimana dikutip dalam Ash-Shahihah:

"Tidak ada dosa yang lebih cepat siksaannya di dunia bagi pelakunya, serta diperlambat siksaannya di akhirat daripada orang yang zalim dan memutus hubungan silaturahmi."

3. Amal Ibadah Tidak Diterima

Orang yang memutuskan tali silaturahmi tidak akan diterima amal ibadahnya. Ini dijelaskan dalam sabda Nabi Muhammad SAW,

"Sesungguhnya amal ibadah manusia diperlihatkan setiap hari Kamis malam Jumat, maka tidak diterima amal ibadah orang yang memutuskan hubungan silaturahmi" (HR Ahmad)

4. Tidak Mendapatkan Rahmat Allah SWT

Selain itu, orang yang memutuskan tali silaturahmi tidak akan mendapatkan rahmat Allah SWT, baik berupa kebaikan-kebaikan maupun pertolongan-Nya. Rasulullah SAW bersabda,

"Rahmat Allah tidak akan turun kepada kaum yang padanya terdapat orang yang memutuskan tali silaturahmi." (HR Muslim)

5. Tidak Masuk Surga

Dampak buruk terakhir adalah orang yang memutuskan tali silaturahmi terancam tidak bisa masuk surga. Hal ini sesuai dengan hadits yang diriwayatkan dari Abu Muhammad Jubair bin Muth'im, ia berkata,

"Tidak akan masuk surga orang yang memutuskan (silaturahmi)." (HR Bukhari dan Muslim)

Dalam hadits lain, Rasulullah SAW menyampaikan ancaman Allah SWT bagi hamba yang memutus silaturahmi:

قَالَ اللَّهُ عَزَّ وَجَلَّ‏:‏ أَنَا الرَّحْمَنُ، وَأَنَا خَلَقْتُ الرَّحِمَ، وَاشْتَقَقْتُ لَهَا مِنَ اسْمِي، فَمَنْ وَصَلَهَا وَصَلْتُهُ، وَمَنْ قَطَعَهَا بَتَتُّهُ

Artinya: Allah SWT yang Maha Besar dan Maha Kuasa berfirman. "Aku adalah yang Maha Pengasih (Ar-Rahman). Aku membuat ikatan persaudaraan dan memberinya nama dari nama-Ku. Jika siapa saja mempertahankan ikatan silaturahmi, maka Aku akan mempertahankan hubungan dengannya. Dan Aku akan memutus hubungan dengan siapa saja yang memutuskan silaturahmi." (Disebut dalam kitab Al-Adab Al-Mufrad)

Cara Menjalin Silaturahmi dengan Keluarga

Dalam buku 15 Sebab Dicabutnya Berkah karya Abul Hamdi, dijelaskan beberapa cara yang dapat dilakukan umat Islam untuk menjalin silaturahmi dengan keluarga sesuai kondisinya.

1. Membantu Keluarga yang Membutuhkan

Apabila keluarga atau kerabat berada dalam kondisi kekurangan secara ekonomi, maka menyambung silaturahmi dapat dilakukan dengan memberikan bantuan keuangan kepadanya. Rasulullah SAW bersabda,

"Sedekah kepada orang miskin dinamakan sedekah, tetapi sedekah terhadap kerabat dan sanak saudara mempunyai dua makna, yaitu sedekah dan menyambung tali silaturahmi." (HR Tirmidzi, dan dia menghasankannya, juga diriwayatkan oleh Abu Dawud, Nasa'i, dan Ibnu Maajah)

2. Menolong Keluarga yang Dizalimi atau Sakit

Menyambung silaturahmi kepada keluarga yang sedang dizalimi dapat dilakukan dengan menolong, mendukung, serta berupaya mengangkat kezaliman darinya.

Sementara itu, kepada keluarga yang sakit, silaturahmi dapat diwujudkan dengan menjenguk, menghibur, memperbaiki prasangkanya kepada Allah, mencari obat, menanyakan keadaannya, serta merawat keluarga dan anak-anaknya yang tidak dapat ia urus akibat penyakitnya.

3. Membimbing Keluarga yang Tersesat

Jika ada keluarga yang berada dalam keadaan tersesat, maka cara melakukannya adalah dengan berusaha menunjukkan hidayah, menasihati, dan membimbingnya menuju jalan yang lurus dengan cara yang lembut, santun, penuh cinta dan kasih sayang, bukan dengan sikap keras atau memaksa.

4. Menjaga Silaturahmi dengan Keluarga yang Jauh

Apabila keluarga tinggal di tempat yang jauh, silaturahmi tetap dapat dijaga melalui telepon, surat-menyurat, maupun berbagai sarana komunikasi lainnya. Hal ini sebagaimana sabda Nabi SAW,

"Barang siapa yang ingin memiliki keberkahan dalam rezekinya dan dipanjangkan umurnya, sambunglah tali silaturahmi dengan para kerabatnya." (HR Bukhari dalam bab Man Ahabbal-Bastha Fir-Rizqi)

Keutamaan Menjalin Silaturahmi

Menjalin silaturahmi memiliki banyak keutamaan. Berikut beberapa keutamaan silaturahmi dirangkum dari kitab Riyadhus Shalihin karya Imam an-Nawawi dan buku Menuju Pribadi Mulia karya Fathia Rahmawati.

1. Wujud Keimanan kepada Allah SWT

Menjalin silaturahmi merupakan perintah yang jelas dalam Islam. Bahkan, Rasulullah SAW menegaskan bahwa orang yang menjaga hubungan kekerabatan termasuk golongan yang beriman kepada Allah SWT dan hari akhir.

"Dari Abu Hurairah bahwasanya Nabi SAW bersabda, 'Barang siapa yang beriman kepada Allah dan hari akhir, maka hendaklah ia memuliakan tamunya! Barang siapa beriman kepada Allah dan hari akhir, hendaklah ia menyambung tali silaturahminya! Dan barang siapa yang beriman kepada Allah dan hari akhir, hendaklah ia berkata yang baik atau diam'!" (Muttafaq 'Alaih)

2. Mempererat Ukhuwah Islamiah

Silaturahmi dalam Islam berperan besar dalam memperluas persaudaraan antarsesama. Umat manusia pada hakikatnya adalah saudara, sehingga perbedaan latar belakang tidak seharusnya menjadi alasan untuk saling menjauh. Melalui silaturahmi, hubungan persahabatan dapat terjalin lebih luas dan kehidupan pun menjadi lebih berkah.

3. Dilapangkan Rezeki dan Dipanjangkan Umur

Selain menciptakan keharmonisan, menjaga silaturahmi juga menjadi sebab seseorang mendapatkan kelapangan rezeki dan panjang umur atas izin Allah SWT.

Rasulullah SAW bersabda, "Barang siapa yang ingin diluaskan rezekinya dan dipanjangkan umurnya, maka sambunglah tali silaturahmi." (HR Bukhari dan Muslim)

4. Menjadi Sarana Bertambahnya Ilmu

Silaturahmi juga membuka kesempatan untuk saling berbagi ilmu. Hubungan yang terjalin memungkinkan terjadinya pertukaran pengalaman, wawasan, dan pengetahuan yang dapat menambah pemahaman tentang kehidupan dunia maupun akhirat.

5. Menjaga Kesehatan Mental

Menjalin silaturahmi membawa dampak positif bagi kesehatan mental. Berbincang, bertukar cerita, dan saling menanyakan kabar dengan orang-orang terdekat dapat meningkatkan suasana hati dan menghadirkan rasa bahagia di tengah kesibukan hidup.

6. Mendapatkan Rahmat Allah SWT

Salah satu amalan yang dapat mengantarkan seorang muslim pada rahmat Allah SWT adalah menjaga silaturahmi. Hal ini sebagaimana firman Allah SWT dalam hadits qudsi:

Allah SWT berfirman: "Aku adalah Mahapengasih dan ia adalah Rahim, nama itu diambil dari bagian nama-Ku, siapa yang menyambungnya, maka Aku memberikan rahmat-Ku kepadanya, dan siapa yang memutuskannya, maka Aku memutuskan rahmat-Ku darinya." (HR Abu Dawud)

7. Jalan Menuju Surga

Menjaga silaturahmi menjadi amalan penting karena balasan tertingginya adalah surga. Oleh sebab itu, silaturahmi bukan sekadar hubungan antar manusia, tetapi juga bentuk ikhtiar dan ketaatan seorang hamba terhadap perintah Allah SWT.

Dengan demikian, menjalin tali silaturahmi adalah kewajiban yang harus dijaga oleh umat Islam, karena menjadi sumber keberkahan, kebaikan, dan bentuk ketaatan kepada perintah Allah SWT.



(kri/kri)

Anda menyukai artikel ini

Artikel disimpan

Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Belum ada komentar.
Jadilah yang pertama berkomentar di sini
Hide Ads