Sebentar lagi umat Islam akan memasuki bulan Syaban. Bulan ini juga disebut-sebut sebagai bulan persiapan menyambut Ramadan. Ada sejumlah amalan yang bisa dilakukan umat Islam pada bulan tersebut.
Syaban adalah bulan ke-8 tepat antara Rajab dan Ramadan. Dijelaskan dalam buku 200 Amalan Ringan Berpahala Istimewa karya Abdillah F. Hasan, penamaan bulan ini berasal dari kata 'Sya'aba' yang berarti merekah karena berada di antara dua bulan mulia, yaitu Rajab dan Ramadan.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Kapan 1 Syaban 2026?
Tahun ini, umat Islam memasuki Syaban 1447 H. Merujuk pada Kalender Hijriah Indonesia 2026 yang diterbitkan oleh Ditjen Bimas Islam Kementerian Agama (Kemenag) RI, 1 Syaban 1447 H/2026 M jatuh pada Selasa, 20 Januari 2026. Hal ini senada dengan Kalender Hijriah Global Tunggal (KHGT) Muhammadiyah.
Amalan di Bulan Syaban
Rasulullah SAW senantiasa memperbanyak amal ibadah sunnah pada bulan Syaban, menurut sejumlah hadits. Berikut amalan selengkapnya.
1. Membayar Utang Puasa
Menurut penjelasan dalam buku Memantaskan Diri Menyambut Bulan Ramadhan karya Abu Maryam Kautsar Amru, jangka waktu untuk mengganti utang puasa Ramadan yang dulu adalah sepanjang tahun hingga bulan Syaban.
Syaban menjadi batas terakhir untuk berpuasa sebelum datangnya bulan Ramadan berikutnya. Oleh sebab itu, ini menjadi waktu bagi umat Islam untuk melunasi utang puasa.
Dari Abu Salamah, aku mendengar Aisyah RA berkata, "Aku berutang puasa Ramadan dan aku tidak bisa mengqadhanya kecuali bulan Syaban."
Yahya berkata, "Karena dia sibuk dengan (mengurusi) Rasulullah SAW atau sibuk karena senantiasa bersama (mengiringi kesibukan) Rasulullah SAW." (HR Bukhari)
2. Melakukan Puasa Sunnah
Rasulullah SAW banyak melakukan puasa sunnah pada bulan Syaban. Bahkan, beliau hampir puasa satu bulan penuh pada bulan ini. Hal ini Rasulullah SAW lakukan sebagai bentuk latihan untuk memasuki puasa pada bulan Ramadan.
Dari Aisyah RA, beliau mengatakan, "Rasulullah SAW biasa berpuasa, sampai kami katakan bahwa beliau tidak berbuka. Beliau pun berbuka sampai kami katakan bahwa beliau tidak berpuasa. Aku tidak pernah sama sekali melihat Rasulullah SAW berpuasa secara sempurna sebulan penuh selain pada bulan Ramadan. Aku pun tidak pernah melihat beliau berpuasa yang lebih banyak dari pada berpuasa di bulan Syaban." (HR Bukhari dan Muslim)
Dalam riwayat lain dijelaskan, Aisyah RA mengatakan, "Rasulullah SAW tidak berpuasa pada satu bulan yang lebih banyak dari bulan Syaban. Rasulullah SAW biasa berpuasa pada bulan Syaban seluruhnya." (HR Bukhari)
Ada beberapa puasa sunnah yang dapat umat Islam kerjakan di bulan Syaban, antara lain puasa Senin-Kamis dan Puasa Ayyamul Bidh.
3. Memperbanyak Membaca Al-Qur'an
Membaca Al-Qur'an pada bulan Syaban dimaksudkan untuk melatih keseriusan dalam membaca Al-Qur'an sebelum datangnya bulan Ramadan. Sebagian ulama salaf mengatakan, dari Anas bin Malik, beliau berkata, "Adapun kaum Muslimin ketika memasuki bulan Syaban, maka mereka menuju kepada mushaf-mushaf (Al-Qur'an) untuk membacanya. Mereka mengeluarkan zakat dari harta mereka, guna diberikan kepada orang yang miskin dan tidak mampu agar kuat berpuasa di bulan Ramadan."
Riwayat di atas sanadnya dhaif. Meski demikian, umat Islam dapat membaca Al-Qur'an pada bulan Syaban seperti pada bulan-bulan lainnya.
4. Membaca Doa
Dalam kitab terjemahan Kumpulan Doa dari Al-Qur'an dan Hadits karya Syaikh Sa'id bin Wahf al-Qathani, terdapat doa yang dapat umat Islam panjatkan di bulan Syaban, berikut bacaan doanya:
اللَّهُ أَكْبَرُ اللَّهُمَّ أَهْلِلْهُ عَلَيْنَا بِالْأَمْنِ وَالْإِيْمَانِ وَالسَّلَامَةِ وَالْإِسْلامِ وَالتَّوْفِيقِ لِمَا تُحِبُّ رَبَّنَا وَتَرْضَى رَبُّنَا وَرَبُّكَ اللَّهُ
Allahu akbar, allahumma ahlilhu 'alaina bil-amni wal-imāni, was-salamati wal-islami, wat-taufiqi lima tuhibbu rabbana wa tarda rabbuna wa rabbukallah.
Artinya: "Allah Maha Besar. Ya Allah! Tampakkan bulan tanggal satu itu kepada kami dengan membawa keamanan dan keimanan, keselamatan dan Islam serta mendapat taufik untuk menjalankan apa yang Engkau sukai dan ridhai. Tuhan kami dan Tuhanmu (wahai bulan sabit) adalah Allah." (HR Tirmidzi dan ad-Darimi)
Doa tersebut dibaca ketika melihat hilal Ramadan.
Sementara pada malam Nisfu Syaban bisa mengamalkan doa berikut:
اللَّهُمَّ يَا ذَا الْمَنِّ وَلَا يُمَنُّ عَلَيْكَ يَا ذَا الْجَلَالِ وَالإِكْرَامِ يَا ذَا الطَّوْلِ وَالْإِنْعَامِ لَا إِلَهَ إِلَّا أَنْتَ ظَهْرَ اللَّاجِينَ وَجَارَ الْمُسْتَجِيْرِيْنَ وَمَأْمَنَ الْخَائِفِينَ
اللَّهُمَّ إِنْ كُنْتَ كَتَبْتَنَا عِنْدَكَ فِي أُمِّ الْكِتَابِ أَشْقِيَاءَ أَوْ مَحْرُومِيْنَ أَوْ مُقَتَّرِيْنَ عَلَيْنَا فِي الرِزْقِ، فَامْحُ اللَّهُمَّ فِي أُمِّ الْكِتَابِ شَقَاوَتَنَا وَحِرْمَانَنَا وَاقْتِتَارَ رِزْقِنَا، وَاكْتُبْنَا عِنْدَكَ سُعَدَاءَ مَرْزُوْقِيْنَ مُوَفِّقِيْنَ لِلْخَيْرَاتِ فَإِنَّكَ قُلْتَ وَقَوْلُكَ الْحَقُّ فِي كِتَابِكَ المُنْزَلِ عَلَى لِسَانِ نَبِيِّكَ المُرْسَلِ: يَمْحُو اللَّهُ مَا يَشَاءُ وَيُثْبِتُ وَعِنْدَهُ أُمُّ الْكِتَابِ وَصَلَّى اللهُ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ وَسَلَّمَ وَالْحَمْدُ لِلَّهِ رَبِّ العَالَمِينَ
Allahumma yā dzal manni wala yumannu 'alaika yadzal jalali wal ikram, yā dzat thauli wal in'am, la ilaha illa anta zhahral lājīna wajaral mustajīrīna, wama'manal kha'ifin.
Allahumma in kunta katabtana 'indaka fi ummil kitabi asyqiya'a au mahrumīna au muqattarīna 'alayna fir rizqi, famhullahumma fii ummil kitabi syaqawatana, wahirmanana waqtitara rizqina, waktubna 'indaka su'ada'a marzūqīna muwaffaqīna lil khairat. Fa innaka qulta wa qaulukal haqq fii kitabikal munzali 'ala lisani nabiyyikal mursali "Yamhullahu mā yasya'u wa yutsbitu wa 'indahu ummul kitab." Wa shallallahu 'ala sayyidina Muhammadin wa 'ala alihi wa shahbihi wa sallama, walhamdulillahi rabbil 'alamin.
Artinya: "Wahai Tuhanku yang maha pemberi, Engkau tidak diberi. Wahai Tuhan pemilik kebesaran dan kemuliaan. Wahai Tuhan pemilik kekayaan dan pemberi nikmat. Tiada Tuhan selain Engkau, kekuatan orang-orang yang meminta pertolongan, lindungan orang-orang yang mencari perlindungan, dan tempat aman orang-orang yang takut.
Tuhanku, jika Engkau mencatat kami di sisi-Mu pada Lauh Mahfuzh sebagai orang celaka, sial, atau orang yang sempit rezeki, maka hapuskanlah di Lauh Mahfuzh kecelakaan, kesialan, dan kesempitan rezeki kami.
Catatlah aku disisi-Mu sebagai orang yang mujur, murah rezeki, dan taufiq untuk berbuat kebaikan karena Engkau telah berkata-sementara perkataan-Mu adalah benar di kitab-Mu yang diturunkan melalui ucapan Rasul utusan-Mu, 'Allah menghapus dan menetapkan apa yang Ia kehendaki di sisi-Nya Lauh Mahfuzh.' Allah bersholawat dan bersalam atas Sayyidina Muhammad, keluarga, dan sahabatnya. Segala puji bagi Allah, Tuhan sekalian alam."
5. Memperbanyak Membaca Sholawat
Membaca sholawat kepada Rasulullah SAW dapat dilakukan kapan saja. Umat Islam juga bisa memperbanyak membaca sholawat pada bulan Syaban.
Allah SWT berfirman dalam Al-Qur'an surah Al-Ahzab ayat 56,
إِنَّ اللَّهَ وَمَلْبِكَتَهُ يُصَلُّوْنَ عَلَى النَّبِيُّ يَأَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا صَلُّوا عَلَيْهِ وَسَلِّمُوا تَسْلِيمًا
Artinya: "Sesungguhnya Allah dan para malaikat-Nya bersholawat untuk Nabi. Wahai orang-orang yang beriman! Bersholawatlah kamu untuk Nabi dan ucapkanlah salam dengan penuh penghormatan kepadanya."
(kri/kri)












































Komentar Terbanyak
MUI Desak RI Keluar dari Board of Peace Buntut Serangan AS-Israel ke Iran
Pernyataan Soal Zakat Picu Polemik, Menag Sampaikan Klarifikasi
PBNU Kutuk Serangan AS-Israel ke Iran: Brutal dan Merusak Tatanan