Isra Miraj adalah perjalanan Rasulullah SAW yang terjadi dalam satu malam. Isra adalah perjalanan dari Masjidil Haram ke Masjidil Aqsa, sedangkan Mi'raj adalah perjalanan dari Masjidil Aqsa menuju langit hingga Sidratul Muntaha.
Peristiwa ini disebutkan dalam Al-Qur'an surah Al-Isra ayat 1,
سُبْحٰنَ الَّذِيْٓ اَسْرٰى بِعَبْدِهٖ لَيْلًا مِّنَ الْمَسْجِدِ الْحَرَامِ اِلَى الْمَسْجِدِ الْاَقْصَا الَّذِيْ بٰرَكْنَا حَوْلَهٗ لِنُرِيَهٗ مِنْ اٰيٰتِنَاۗ اِنَّهٗ هُوَ السَّمِيْعُ الْبَصِيْرُ
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Artinya: "Maha Suci (Allah) yang telah memperjalankan hamba-Nya (Nabi Muhammad) pada malam hari dari Masjidil Haram ke Masjidil Aqsa yang telah Kami berkahi sekelilingnya agar Kami perlihatkan kepadanya sebagian tanda-tanda (kebesaran) Kami. Sesungguhnya Dia Maha Mendengar lagi Maha Melihat."
Salah satu bagian yang menarik perhatian adalah pertemuan Rasulullah SAW dengan para nabi di setiap lapisan langit selama perjalanan Mi'raj.
Lalu, siapa saja yang dijumpai Rasulullah saat Isra Miraj? Berikut penjelasannya.
8 Nabi Dijumpai Rasulullah Saat Isra Miraj
Dalam peristiwa Isra Miraj, Rasulullah SAW bertemu dengan para nabi terdahulu di setiap lapisan langit. Berikut urutannya mengutip buku Sejarah Peradaban Islam karya Ahmad Jamal Rohman:
- Langit pertama: Rasulullah SAW bertemu Nabi Adam AS.
- Langit kedua: Rasulullah SAW bertemu Nabi Yahya AS dan Nabi Isa AS.
- Langit ketiga: Rasulullah SAW bertemu Nabi Yusuf AS.
- Langit keempat: Rasulullah SAW bertemu Nabi Idris AS.
- Langit kelima: Rasulullah SAW bertemu Nabi Harun AS.
- Langit keenam: Rasulullah SAW bertemu Nabi Musa AS.
- Langit ketujuh: Rasulullah SAW bertemu Nabi Ibrahim AS.
Di setiap pertemuan tersebut disertai sambutan yang penuh ketenangan dan penghormatan kepada Rasulullah SAW, sehingga menenteramkan hati dan menenangkan jiwa beliau. Setelah melewati langit ketujuh, Rasulullah SAW kemudian diangkat menuju Sidratul Muntaha, sebuah tempat yang sangat indah dan mulia hingga beliau tidak mampu memalingkan pandangan darinya.
Peristiwa Isra Miraj diawali dengan pembelahan dada Rasulullah SAW oleh Malaikat Jibril AS untuk membersihkan hati beliau menggunakan air zamzam. Hati tersebut kemudian diletakkan di dalam bejana emas yang dipenuhi hikmah. Peristiwa ini terjadi di antara Hijr dan Hathim, tidak jauh dari Masjidil Haram, sebelum hati Rasulullah SAW dikembalikan seperti semula.
Setelah itu, Rasulullah SAW dinaikkan ke atas Buraq, tunggangan istimewa yang membawanya menuju Masjidil Aqsa. Setibanya di sana, Rasulullah SAW menambatkan Buraq di pintu masjid, lalu melaksanakan salat di Masjidil Aqsa sebelum melanjutkan perjalanan Mi'raj bersama Malaikat Jibril AS.
Ketika memasuki langit terdekat, Malaikat Jibril AS memohon izin agar pintu langit dibukakan. Setelah izin diberikan, terbukalah pintu langit, dan Rasulullah SAW pun memulai perjalanan menembus lapisan-lapisan langit hingga mencapai Sidratul Muntaha.
Isra Miraj sebagai Penghibur Hati Rasulullah
Masih merujuk pada sumber yang sama, peristiwa Isra Miraj terjadi pada 27 Rajab pada tahun ke-10 kenabian Rasulullah SAW, yakni pada masa yang penuh ujian dan penderitaan. Saat itu, kaum Quraisy melakukan pemboikotan yang menyebabkan kelaparan dan tekanan berat bagi kaum Muslimin di celah Bukit Abu Thalib.
Pada masa yang sama, Rasulullah SAW juga kehilangan dua sosok pelindung yang sangat beliau cintai, yaitu pamannya Abu Thalib dan istri tercinta beliau, Khadijah RA.
Tidak berhenti sampai di situ, penolakan juga datang dari Bani Tsaqif di Thaif yang bahkan berujung pada tindakan kekerasan terhadap Rasulullah SAW. Rangkaian peristiwa tersebut tentu meninggalkan kesedihan yang mendalam dan tekanan batin bagi beliau.
Dalam kondisi itulah, Allah SWT menghibur Rasulullah SAW melalui peristiwa Isra Miraj, dengan mendekatkan beliau kepada-Nya sebagai bentuk penghormatan, penguatan hati, sekaligus pelipur lara atas ujian berat yang beliau hadapi.
Turunnya Perintah Salat Lima Waktu Saat Isra Miraj
Di Sidratul Muntaha, Allah SWT memberikan perintah salat kepada Rasulullah SAW. Pada awalnya, kewajiban salat ditetapkan sebanyak 50 waktu dalam sehari semalam.
Setelah menerima perintah tersebut, Rasulullah SAW turun dari Sidratul Muntaha dan bertemu Nabi Musa AS di langit keenam. Nabi Musa kemudian bertanya kepada Rasulullah SAW, "Apa yang dikatakan oleh Allah SWT untukmu?"
Rasulullah SAW menjawab, "Salat 50 waktu dalam sehari semalam." Nabi Musa AS berkata, "Kembalilah dan minta keringanan kepada tuhanmu, karena sungguh umatmu lemah dan tidak akan sanggup melakukannya."
Atas saran tersebut, Nabi Muhammad SAW kembali menghadap Allah SWT untuk memohon keringanan. Allah SWT pun mengurangi jumlah salat sebanyak lima waktu.
Rasulullah SAW lalu turun kembali dan menceritakan pengurangan itu kepada Nabi Musa AS. Nabi Musa AS kembali menyarankan agar beliau meminta keringanan lagi, karena jumlahnya masih berat bagi umat.
Permohonan keringanan itu pun berulang kali dilakukan. Setiap kali Rasulullah SAW kembali menghadap Allah SWT, jumlah salat terus dikurangi. Hingga akhirnya, kewajiban salat ditetapkan menjadi lima waktu dalam sehari semalam.
Pada masa itu, peristiwa Isra Miraj sulit diterima oleh akal manusia. Ketika Rasulullah SAW menyampaikan kisah perjalanan tersebut sekaligus perintah salat lima waktu kepada umatnya, sebagian orang meragukan kebenarannya.
Meski demikian, ada pula yang menerima dengan penuh keimanan dan menjalankan perintah salat sebagaimana yang diajarkan Rasulullah SAW.
Wallahu a'lam.
(kri/kri)












































Komentar Terbanyak
Lebaran Muhammadiyah 2026, Ini Tanggal dan Penetapan Resminya
Rusia: AS-Israel Sengaja Tabur Perpecahan di Dunia Islam Selama Ramadan
Muslim di Kota Ini Cuma Puasa 1 Jam