Ini Kriteria Mahar yang Baik dan Besaran Idealnya dalam Islam

Ini Kriteria Mahar yang Baik dan Besaran Idealnya dalam Islam

Salsa Dila Fitria Oktavianti - detikHikmah
Minggu, 03 Mei 2026 10:00 WIB
the ring and its place are held by the bride and groom
Ilustrasi mahar. Foto: Getty Images/Achmad Wahyudi
Jakarta -

Kriteria mahar yang baik dalam Islam menjadi hal penting untuk dipahami pasangan yang akan menikah. Mahar merupakan salah satu syarat wajib dalam pernikahan yang diberikan oleh mempelai pria kepada wanita.

Dalam ajaran Islam, mahar tidak ditentukan jumlahnya secara pasti, tetapi dianjurkan agar tidak memberatkan dan disesuaikan dengan kemampuan. Hal ini bertujuan agar pernikahan dapat berlangsung dengan sederhana namun tetap penuh makna.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Kriteria Mahar dalam Pandangan Empat Mazhab

Dalam buku Hukum Perkawinan Islam Menurut Empat Mazhab Disertai Aturan yang Berlaku di Indonesia karya Dr. Holilur Rohman, mahar dalam Islam bukan sekadar simbol dalam akad nikah, melainkan hak istri yang wajib dipenuhi dengan cara yang halal, jelas, dan memberikan manfaat. Para ulama dari empat mazhab memiliki perbedaan pandangan terkait bentuk mahar yang dianggap sah.

Dalam buku Hukum tentang Perkawinan Islam karya Abdul Kodir Alhamdani dkk, mazhab Hanafiyah membolehkan mahar dalam bentuk apa pun yang memiliki nilai manfaat, baik berupa barang maupun jasa. Pada awalnya, mereka tidak memperkenankan jasa seperti mengajarkan Al-Qur'an dijadikan mahar karena tidak dianggap sebagai harta. Namun, seiring perkembangan pendapat, jasa tersebut akhirnya dibolehkan selama memberikan manfaat yang jelas.

ADVERTISEMENT

Berbeda dengan itu, mazhab Malikiyah mensyaratkan mahar harus berupa benda yang dapat dimiliki secara nyata dan sah menurut syariat, seperti tanah, hewan, atau barang dagangan. Oleh karena itu, jasa tidak dianggap sah sebagai mahar karena tidak berwujud.

Sementara itu, mazhab Syafi'iyah dan Hanabilah memiliki pandangan yang lebih fleksibel. Keduanya memperbolehkan mahar dalam bentuk barang maupun jasa, meskipun nilainya kecil, selama dapat memberikan manfaat yang jelas, seperti mengajarkan Al-Qur'an atau keterampilan tertentu.

Dalam mazhab Hanbali dan Syafi'i, kejelasan mahar menjadi hal penting. Mahar yang tidak jelas jenisnya, tidak dapat diserahkan, atau tidak memiliki nilai dianggap tidak sah. Dalam kondisi tersebut, istri berhak menerima mahar mitsl, yaitu mahar yang nilainya setara dengan perempuan sepadan.

Jenis Mahar yang Tidak Diperbolehkan dalam Islam

Dijelaskan dalam buku kitab Bidayatul Mujtahid wa Nihayatul Muqtashid Jilid 2 karya Ibnu Rusyd, beberapa bentuk mahar diperselisihkan atau bahkan dinilai tidak sah oleh para ulama, di antaranya:

1. Mahar dari Barang Haram atau Tidak Jelas

Mahar berupa khamar, babi, atau sesuatu yang belum jelas wujud dan manfaatnya (seperti buah yang belum matang atau hewan yang belum tertangkap) menjadi perdebatan ulama. Sebagian berpendapat akad tetap sah tetapi mahar diganti dengan mahar mitsl, sementara yang lain menilai akad bisa batal.

2. Mahar yang Bercampur Transaksi Jual Beli

Jika mahar tidak dipisahkan secara jelas dari transaksi lain, seperti jual beli, maka hal ini menimbulkan perbedaan pendapat. Sebagian ulama melarang karena mengandung ketidakjelasan, sementara yang lain membolehkan dengan syarat tertentu.

3. Mahar yang Disertai Syarat untuk Pihak Ketiga

Contohnya, mahar yang mensyaratkan adanya bagian untuk ayah mempelai perempuan. Ada ulama yang menganggapnya tidak sah, sementara yang lain membolehkan dengan ketentuan tertentu tergantung waktu penyepakatan.

4. Mahar yang Cacat

Mayoritas ulama tetap menganggap akad nikah sah, tetapi berbeda pendapat terkait hak istri, apakah diganti dengan nilai, barang sejenis, atau mahar mitsl. Ada juga pendapat yang menyatakan akad menjadi tidak sah.

5. Mahar Bersyarat Berdasarkan Kondisi Tertentu

Misalnya, jumlah mahar berbeda tergantung status suami. Sebagian ulama membolehkan, tetapi berbeda dalam menentukan mahar yang wajib diberikan. Ada pula yang menilai hal ini mengandung unsur ketidakjelasan (gharar).

Macam-macam Mahar yang Diperbolehkan

Secara umum, mahar yang sah dalam Islam terbagi menjadi dua bentuk. Berikut macam-macam mahar yang diperbolehkan dalam islam dikutip dari buku Walimah Cinta karya Ummu Azzam dan QultumMedia.

1. Mahar yang Disebutkan dalam Akad

Mahar ditentukan secara jelas saat akad nikah, baik bentuk maupun nilainya, dan wajib dipenuhi sesuai kesepakatan.

2. Mahar yang Tidak Disebutkan (Mahar Mitsl)

Jika mahar tidak disebutkan saat akad, suami tetap wajib memberikannya. Nilainya disesuaikan dengan mahar yang lazim diterima oleh perempuan yang setara, yang dikenal sebagai mahar mitsl.

Penentuan mahar mitsl biasanya mempertimbangkan beberapa faktor, seperti usia, kondisi ekonomi, kecantikan, tingkat pendidikan, religiositas, serta status (gadis atau janda). Acuannya diambil dari kerabat dekat pihak perempuan, seperti saudara perempuan atau anggota keluarga lainnya yang memiliki kondisi serupa.

Mahar yang baik bukan dilihat dari besar kecilnya nilai, tetapi dari kejelasan, kehalalan, dan manfaatnya. Mahar ideal adalah yang disepakati bersama, tidak memberatkan, serta mampu mencerminkan tanggung jawab dan kesungguhan dalam membangun rumah tangga.




(kri/kri)
Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Hide Ads