Jurnalis Sky News Dihadang Pasukan Israel di Tepi Barat

Jurnalis Sky News Dihadang Pasukan Israel di Tepi Barat

Indah Fitrah Yani - detikHikmah
Sabtu, 01 Nov 2025 19:00 WIB
Jurnalis Sky News Dihadang Pasukan Israel di Tepi Barat
Ilustrasi pasukan militer Israel, Israel Defense Forces (IDF). Foto: REUTERS/Raneen Sawafta
Jakarta -

Tim jurnalis Sky News dihadang oleh pasukan Israel saat melakukan peliputan di wilayah Tepi Barat, demikian diungkapkan jaringan berita tersebut pada Jumat (31/10) dilansir Arab News.

Adam Parsons, koresponden Sky News untuk kawasan Timur Tengah, menceritakan bahwa militer Israel mendatangi mereka ketika timnya tengah merekam segmen mengenai musim panen zaitun di Palestina.

"Saat kami merekam, sebuah kendaraan militer Israel melintas di jalan setapak dan berhenti dalam kepulan debu," tulisnya dalam laporan berjudul Defiance in the West Bank - despite encroaching threat from 'unwanted neighbours.' (Keteguhan di Tepi Barat - meski di bawah ancaman dari 'tetangga yang tidak diinginkan.')

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Parsons melanjutkan, "Para tentara keluar dan mengatakan kami harus pergi demi keselamatan kami, dengan alasan bahwa kebun zaitun ini sebenarnya adalah zona militer tertutup."

ADVERTISEMENT

Koresponden tersebut, yang tengah berada di lokasi serangan terbaru oleh pemukim Israel terhadap seorang perempuan Palestina, mengatakan bahwa pihak militer tidak menjelaskan ancaman apa yang membuat mereka harus meninggalkan lokasi.

Sebaliknya, para tentara menunjukkan kepada Parsons dan timnya gambar sederhana di WhatsApp berupa peta yang ditandai dengan sebuah persegi panjang, dan menyebutnya sebagai perintah militer.

"Kemudian kami diberitahu bahwa kami tidak bisa pergi, dan bahwa polisi sedang dalam perjalanan untuk menangkap kami. Kami berdiskusi soal hukum. Lalu, secepat saat dimulai, semuanya berakhir - kami dibebaskan. Ini hanyalah satu ketegangan lain di Tepi Barat," tulis Parsons.

Dalam pernyataannya kepada Sky News, Pasukan Pertahanan Israel (IDF) menyebut bahwa pasukan dikerahkan "untuk menggagalkan terorisme."

Militer Israel juga menegaskan bahwa pihaknya "sangat mengecam segala bentuk kekerasan" dan mengumumkan akan melakukan peninjauan terhadap serangan yang dilaporkan oleh jaringan berita tersebut.

Mengutip Arab News (1/11), jurnalis Sky News saat dihadang tengah meliput panen zaitun tahunan yang telah menjadi tradisi yang dilakukan di Palestina selama berabad-abad.

Kegiatan ini biasanya dilakukan pada bulan Oktober hingga November. Namun, dengan kondisi yang semakin memburuk, banyak warga Palestina akhirnya meninggalkan tradisi tersebut.

Meskipun Israel dan Hamas telah menyepakati gencatan senjata yang telah resmi diberlakukan sejak 10 Oktober 2025, namun pasukan Israel tetap melakukan rentetan serangan di wilayah Palestina.

Menurut laporan The Reuters, Israel melancarkan sedikitnya tiga serangan dalam beberapa hari terakhir. Pada Rabu (26/10) Israel melakukan serangan udara besar-besaran di Jalur Gaza yang menewaskan sedikitnya 104 orang, pada Kamis (30/10) di dekat Khan Younis dan Gaza City, dan pada Jumat (31/10) di jalur Gaza yang menewaskan sedikitnya tiga orang warga Palestina.

Meski eskalasi kekerasan meningkat, Israel mengklaim tetap mendukung gencatan senjata yang ditengahi oleh Presiden AS Donald Trump. Pihaknya mengatakan bahwa mereka "tetap berkomitmen pada perjanjian gencatan senjata, namun akan merespons tegas setiap pelanggaran."




(inf/erd)

Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Hide Ads