Surah Al Baqarah Ayat 284-286: Arab, Asbabun Nuzul dan Kandungannya

Surah Al Baqarah Ayat 284-286: Arab, Asbabun Nuzul dan Kandungannya

Indah Fitrah Yani - detikHikmah
Jumat, 01 Agu 2025 20:45 WIB
Surah Al Baqarah Ayat 284-286: Arab, Asbabun Nuzul dan Kandungannya
Ilustrasi Alquran. Foto: Freepik
Jakarta -

Surah Al-Baqarah dikenal sebagai surah terpanjang dalam Al-Qur'an. Namun, di balik panjangnya ayat-ayat yang terkandung di dalamnya, terdapat keutamaan luar biasa terutama pada tiga ayat terakhirnya, 284-486.

Dalam sebuah hadits dari Sahl bin Sa'd yang dikutip dari Ad-Du'aa Al-Mustajaab karya Ahmad 'Abdul Jawwad terjemahan Masturi Irham dan M. Asmui Taman, Rasulullah SAW bersabda,

ØĨŲŲ†Ų‘ŲŽ Ų„ŲŲƒŲŲ„Ų‘Ų Ø´ŲŽŲŠŲ’ØĄŲ ØŗŲŽŲ†ŲŽØ§Ų…Ų‹Ø§ ŲˆŲŽØĨŲŲ†Ų‘ŲŽ ØŗŲŽŲ†ŲŽØ§Ų…ŲŽ Ø§Ų„Ų’Ų‚ŲØąŲ’Øĸ؆ؐ Ø§Ų„Ų’Ø¨ŲŽŲ‚ŲŽØąŲŽØŠŲ Ų…ŲŽŲ†Ų’ Ų‚ŲŽØąŲŽØŖŲŽŲ‡ŲŽØ§ ؁ؐ؊ Ø¨ŲŽŲŠŲ’ØĒؐ؇ؐ Ų„ŲŽŲŠŲ’Ų„Ų‹Ø§ Ų„ŲŽŲ…Ų’ ŲŠŲŽØ¯Ų’ØŽŲŲ„Ų’Ų‡Ų Ø§Ų„Ø´Ų‘ŲŽŲŠŲ’ØˇŲŽØ§Ų†Ų ØĢŲŽŲ„ŲŽØ§ØĢŲŽ Ų„ŲŽŲŠŲŽØ§Ų„Ų ŲˆŲŽŲ…ŲŽŲ†Ų’ Ų‚ŲŽØąŲŽØŖŲŽŲ‡ŲŽØ§ ؁ؐ؊ Ø¨ŲŽŲŠŲ’ØĒؐ؇ؐ Ų†ŲŽŲ‡ŲŽØ§ØąŲ‹Ø§ Ų„ŲŽŲ…Ų’ ŲŠŲŽØ¯Ų’ØŽŲŲ„Ų’Ų‡Ų Ø§Ų„Ø´Ų‘ŲŽŲŠŲ’ØˇŲŽØ§Ų†Ų ØĢŲŽŲ„ŲŽØ§ØĢŲŽØŠŲŽ ØŖŲŽŲŠŲ‘ŲŽØ§Ų…Ų

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Artinya: "Sesungguhnya segala sesuatu memiliki puncak, dan puncak Al-Qur'an adalah surah Al-Baqarah. Barang siapa yang membacanya di rumah pada malam hari, maka setan tidak akan masuk ke rumahnya selama tiga malam. Barang siapa yang membacanya di siang hari, maka setan tidak akan masuk ke rumahnya selama tiga hari." (HR Ibnu Hibban, Thabrani, Baihaqi)

Hadits ini menunjukkan betapa besarnya keutamaan surah ini, termasuk tiga ayat terakhirnya yang berisi pengakuan iman, permintaan ampun, dan harapan kepada Allah SWT

ADVERTISEMENT

Surah Al Baqarah Ayat 284-286 dalam Arab, Latin, dan Terjemahannya

؄ؐ؄ؑذ؇ؐ Ų…ŲŽØ§ ؁ؐ؉ Ø§Ų„ØŗŲ‘ŲŽŲ…Ų°ŲˆŲ°ØĒؐ ŲˆŲŽŲ…ŲŽØ§ ؁ؐ؉ Ø§Ų„Ų’Ø§ŲŽØąŲ’Øļؐ ۗ ŲˆŲŽØ§ŲŲ†Ų’ ØĒŲØ¨Ų’Ø¯ŲŲˆŲ’Ø§ Ų…ŲŽØ§ ŲŲŲŠŲ’Ų“ Ø§ŲŽŲ†Ų’ŲŲØŗŲŲƒŲŲ…Ų’ Ø§ŲŽŲˆŲ’ ØĒŲØŽŲ’ŲŲŲˆŲ’Ų‡Ų ŲŠŲØ­ŲŽØ§ØŗŲØ¨Ų’ŲƒŲŲ…Ų’ Ø¨ŲŲ‡Ų Ø§Ų„Ų„Ų‘Ų°Ų‡Ų ۗ ŲŲŽŲŠŲŽØēŲ’ŲŲØąŲ Ų„ŲŲ…ŲŽŲ†Ų’ ŲŠŲ‘ŲŽØ´ŲŽØ§Û¤ØĄŲ ŲˆŲŽŲŠŲØšŲŽØ°Ų‘ŲØ¨Ų Ų…ŲŽŲ†Ų’ ŲŠŲ‘ŲŽØ´ŲŽØ§Û¤ØĄŲ ۗ ŲˆŲŽØ§Ų„Ų„Ų‘Ų°Ų‡Ų ØšŲŽŲ„Ų°Ų‰ ŲƒŲŲ„Ų‘Ų Ø´ŲŽŲŠŲ’ØĄŲ Ų‚ŲŽØ¯ŲŲŠŲ’ØąŲŒ ŲĸŲ¨Ų¤

Arab latin: Lillāhi mā fis-samāwāti wa mā fil-arḍ, wa in tubdáģĨ mā fÄĢ anfusikum au tukhfáģĨhu yuá¸Ĩāsibkum bihillāh, fa yagfiru limay yasyā`u wa yu'aÅŧÅŧibu may yasyā`, wallāhu 'alā kulli syai`ing qadÄĢr

Artinya: "Milik Allahlah apa yang ada di langit dan apa yang ada di bumi. Jika kamu menyatakan apa yang ada di dalam hatimu atau kamu menyembunyikannya, niscaya Allah memperhitungkannya bagimu. Dia mengampuni siapa saja yang Dia kehendaki dan mengazab siapa pun yang Dia kehendaki. Allah Maha Kuasa atas segala sesuatu." (284)

Ø§Ų°Ų…ŲŽŲ†ŲŽ Ø§Ų„ØąŲ‘ŲŽØŗŲŲˆŲ’Ų„Ų Ø¨ŲŲ…ŲŽØ§Ų“ Ø§ŲŲ†Ų’Ø˛ŲŲ„ŲŽ Ø§ŲŲ„ŲŽŲŠŲ’Ų‡Ų ؅ؐ؆ؒ ØąŲ‘ŲŽØ¨Ų‘ŲŲ‡Ų– ŲˆŲŽØ§Ų„Ų’Ų…ŲØ¤Ų’Ų…ŲŲ†ŲŲˆŲ’Ų†ŲŽÛ— ŲƒŲŲ„Ų‘ŲŒ Ø§Ų°Ų…ŲŽŲ†ŲŽ Ø¨ŲØ§Ų„Ų„Ų‘Ų°Ų‡Ų ŲˆŲŽŲ…ŲŽŲ„Ų°Û¤Ų‰Ų•ŲŲƒŲŽØĒؐ؇ؖ ŲˆŲŽŲƒŲØĒŲØ¨ŲŲ‡Ų– ŲˆŲŽØąŲØŗŲŲ„ŲŲ‡Ų–Û— Ų„ŲŽØ§ Ų†ŲŲŲŽØąŲ‘ŲŲ‚Ų Ø¨ŲŽŲŠŲ’Ų†ŲŽ Ø§ŲŽØ­ŲŽØ¯Ų ؅ؑؐ؆ؒ ØąŲ‘ŲØŗŲŲ„ŲŲ‡Ų– ۗ ŲˆŲŽŲ‚ŲŽØ§Ų„ŲŲˆŲ’Ø§ ØŗŲŽŲ…ŲØšŲ’Ų†ŲŽØ§ ŲˆŲŽØ§ŲŽØˇŲŽØšŲ’Ų†ŲŽØ§ ØēŲŲŲ’ØąŲŽØ§Ų†ŲŽŲƒŲŽ ØąŲŽØ¨Ų‘ŲŽŲ†ŲŽØ§ ŲˆŲŽØ§ŲŲ„ŲŽŲŠŲ’ŲƒŲŽ Ø§Ų„Ų’Ų…ŲŽØĩŲŲŠŲ’ØąŲ ŲĸŲ¨ŲĨ

Arab latin: Amanar-rasáģĨlu bimā unzila ilaihi mir rabbihÄĢ wal-mu`mináģĨn, kullun āmana billāhi wa malā`ikatihÄĢ wa kutubihÄĢ wa rusulih, lā nufarriqu baina aá¸Ĩadim mir rusulih, wa qāláģĨ sami'nā wa aáš­a'nā gufrānaka rabbanā wa ilaikal-maášŖÄĢr

Artinya: "Rasul (Muhammad) beriman pada apa (Al-Qur'an) yang diturunkan kepadanya dari Tuhannya, demikian pula orang-orang mukmin. Masing-masing beriman kepada Allah, malaikat-malaikat-Nya, kitab kitab-Nya, dan rasul-rasul-Nya. (Mereka berkata,) "Kami tidak membeda-bedakan seorangpun dari rasul-rasul-Nya." Mereka juga berkata, "Kami dengar dan kami taat. Ampunilah kami, wahai Tuhan kami. Hanya kepada-Mu tempat (kami) kembali." (285)

Ų„ŲŽØ§ ŲŠŲŲƒŲŽŲ„Ų‘ŲŲŲ Ø§Ų„Ų„Ų‘Ų°Ų‡Ų Ų†ŲŽŲŲ’ØŗŲ‹Ø§ Ø§ŲŲ„Ų‘ŲŽØ§ ŲˆŲØŗŲ’ØšŲŽŲ‡ŲŽØ§ ۗ Ų„ŲŽŲ‡ŲŽØ§ Ų…ŲŽØ§ ŲƒŲŽØŗŲŽØ¨ŲŽØĒŲ’ ŲˆŲŽØšŲŽŲ„ŲŽŲŠŲ’Ų‡ŲŽØ§ Ų…ŲŽØ§ Ø§ŲƒŲ’ØĒŲŽØŗŲŽØ¨ŲŽØĒŲ’ ۗ ØąŲŽØ¨Ų‘ŲŽŲ†ŲŽØ§ Ų„ŲŽØ§ ØĒŲØ¤ŲŽØ§ØŽŲØ°Ų’Ų†ŲŽØ§Ų“ Ø§ŲŲ†Ų’ Ų†Ų‘ŲŽØŗŲŲŠŲ’Ų†ŲŽØ§Ų“ Ø§ŲŽŲˆŲ’ Ø§ŲŽØŽŲ’ØˇŲŽØŖŲ’Ų†ŲŽØ§ ۚ ØąŲŽØ¨Ų‘ŲŽŲ†ŲŽØ§ ŲˆŲŽŲ„ŲŽØ§ ØĒŲŽØ­Ų’Ų…ŲŲ„Ų’ ØšŲŽŲ„ŲŽŲŠŲ’Ų†ŲŽØ§Ų“ Ø§ŲØĩŲ’ØąŲ‹Ø§ ŲƒŲŽŲ…ŲŽØ§ Ø­ŲŽŲ…ŲŽŲ„Ų’ØĒŲŽŲ‡Ų— ØšŲŽŲ„ŲŽŲ‰ Ø§Ų„Ų‘ŲŽØ°ŲŲŠŲ’Ų†ŲŽ ؅ؐ؆ؒ Ų‚ŲŽØ¨Ų’Ų„ŲŲ†ŲŽØ§ ۚ ØąŲŽØ¨Ų‘ŲŽŲ†ŲŽØ§ ŲˆŲŽŲ„ŲŽØ§ ØĒŲØ­ŲŽŲ…Ų‘ŲŲ„Ų’Ų†ŲŽØ§ Ų…ŲŽØ§ Ų„ŲŽØ§ ØˇŲŽØ§Ų‚ŲŽØŠŲŽ Ų„ŲŽŲ†ŲŽØ§ Ø¨ŲŲ‡Ų–Ûš ŲˆŲŽØ§ØšŲ’ŲŲ ØšŲŽŲ†Ų‘ŲŽØ§Û— ŲˆŲŽØ§ØēŲ’ŲŲØąŲ’ Ų„ŲŽŲ†ŲŽØ§Û— ŲˆŲŽØ§ØąŲ’Ø­ŲŽŲ…Ų’Ų†ŲŽØ§ ۗ Ø§ŲŽŲ†Ų’ØĒŲŽ Ų…ŲŽŲˆŲ’Ų„Ų°Ų‰Ų†ŲŽØ§ ŲŲŽØ§Ų†Ų’ØĩŲØąŲ’Ų†ŲŽØ§ ØšŲŽŲ„ŲŽŲ‰ Ø§Ų„Ų’Ų‚ŲŽŲˆŲ’Ų…Ų Ø§Ų„Ų’ŲƒŲ°ŲŲØąŲŲŠŲ’Ų†ŲŽ āŖ– ŲĸŲ¨ŲĻ

Arab latin: Laa yukalliful-laahu nafsan illaa wus'ahaa; lahaa maa kasabat wa 'alaihaa maktasabat; rabbanaa la tu'aakhidznaa in nasiinaaa aw akhtaa-naa; rabbanaa wa laa tahmil-'alainaaa ishran kamaa hamaltahuu 'alal-ladziina min qablinaa; rabbanaa wa laa tuhammilnaa maa laa thooqatalanaa bih, wa'fuannaa waghfirlanaa warhamnaa, anta maulanaa fanshurnaa 'alal-qoumil-kaafiriin

Artinya: "Allah tidak membebani seseorang, kecuali menurut kesanggupannya. Baginya ada sesuatu (pahala) dari (kebajikan) yang diusahakannya dan terhadapnya ada (pula) sesuatu (siksa) atas (kejahatan) yang diperbuatnya. (Mereka berdoa,) "Wahai Tuhan kami, janganlah Engkau hukum kami jika kami lupa atau kami salah. Wahai Tuhan kami, janganlah Engkau bebani kami dengan beban yang berat sebagaimana Engkau bebankan kepada orang-orang sebelum kami. Wahai Tuhan kami, janganlah Engkau pikulkan kepada kami apa yang tidak sanggup kami memikulnya. Maafkanlah kami, ampunilah kami, dan rahmatilah kami. Engkaulah pelindung kami. Maka, tolonglah kami dalam menghadapi kaum kafir." (286)

Kandungan Surah Al-Baqarah Ayat 284-286

Berdasarkan Tafsir Al-Azhar susunan Buya Hamka, surah Al Baqarah ayat 284 menjadi pengingat bahwa segala sesuatu di langit dan di bumi adalah milik Allah. Bahkan lintasan hati dan pikiran manusia tidak luput dari perhatian-Nya. Dalam kehidupan, manusia kerap mengalami pergolakan batin seperti rasa benci, iri, dendam, atau keinginan terhadap sesuatu yang dilarang.

Di sisi lain, ada pula dorongan untuk berbuat baik. Selama itu semua masih berupa lintasan dalam hati dan belum diwujudkan menjadi tindakan nyata, belumlah tercatat sebagai dosa. Namun jika sudah menjadi niat yang kuat dan mulai dilakukan, maka seseorang akan dimintai pertanggungjawaban.

Sementara itu, niat baik yang belum sempat dilakukan sudah mendapat nilai kebaikan di sisi Allah. Ini menunjukkan betapa pentingnya muhasabah atau introspeksi, agar seseorang mampu menilai dan mengendalikan isi pikirannya sebelum berubah menjadi perbuatan.

Ayat 285 menjelaskan bahwa Rasulullah SAW dan orang-orang beriman menerima sepenuh hati wahyu yang diturunkan kepada mereka. Iman yang mereka miliki mencakup keyakinan kepada Allah, malaikat-malaikat-Nya, kitab-kitab-Nya, dan para rasul tanpa membeda-bedakan.

Mereka mengucapkan, "Kami dengar dan kami taat," sebagai ungkapan penerimaan penuh terhadap ajaran agama. Bersamaan dengan itu, mereka juga memohon ampun kepada Allah, karena menyadari bahwa sebagai manusia, mereka tidak lepas dari kesalahan. Semakin tinggi tingkat keimanan seseorang, semakin besar pula rasa takutnya kepada Allah dan keinginannya untuk mendapatkan pengampunan.

Ayat 286 memberikan ketenangan kepada orang-orang beriman bahwa Allah tidak membebani seseorang di luar batas kemampuannya. Segala kewajiban yang dibebankan oleh Allah pasti sesuai dengan kapasitas manusia. Bila seseorang tidak mampu karena sakit atau kondisi tertentu, ada keringanan yang disediakan. Bahkan kesalahan yang terjadi karena lupa atau tidak sengaja tidak dihitung sebagai dosa.

Setiap perbuatan baik dibalas sesuai dengan usaha seseorang, sementara keburukan pun dibalas sesuai tanggung jawab pelakunya. Amal baik terasa ringan karena memberikan ketenangan, sedangkan dosa terasa berat karena menyalahi nurani.

Asbabun Nuzul Al Baqarah Ayat 284-286

Dalam Asbabun Nuzul Sebab Turunnya Ayat Al-Qur'an karya Jalaluddin as-Suyuthi, dijelaskan bahwa saat ayat 284 diturunkan, para sahabat merasa khawatir dan gelisah. Abu Hurairah RA meriwayatkan bahwa surah Al Baqarah ayat 284 yang berbunyi, "Jika engkau nyatakan apa yang ada dalam hatimu atau engkau sembunyikan, niscaya Allah memperhitungkannya untukmu," membuat mereka merasa tak sanggup menanggung beban itu. Mereka pun segera menemui Rasulullah SAW, berlutut di hadapan beliau, dan berkata:

"Telah turun kepadamu ayat ini, sedangkan kami tidak sanggup menanggungnya."

Rasulullah SAW kemudian bersabda:

"Apakah kalian ingin mengatakan seperti yang dikatakan oleh dua Ahli Kitab sebelum kalian, yaitu: 'Kami dengar, tetapi kami tidak menaati?' Katakanlah: 'Kami dengar dan kami taat. Ampunilah kami, ya Tuhan kami, dan kepada-Mu tempat kembali.'"

Ketika mereka menerima ajaran itu dengan sepenuh hati dan mengucapkan perkataan tersebut, Allah menurunkan ayat ke-286. Ayat ini menjadi peneguh hati bagi mereka, bahwa Allah tidak membebani seseorang di luar kemampuannya.

Riwayat yang serupa juga disampaikan oleh Ibnu Abbas RA dan tercantum dalam sahih Muslim serta sumber-sumber lainnya.




(inf/kri)

Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Hide Ads