Momen Haji Wada' dalam Sejarah Islam, Ini Pesan Terakhir Rasulullah

Momen Haji Wada' dalam Sejarah Islam, Ini Pesan Terakhir Rasulullah

Indah Fitrah Yani - detikHikmah
Jumat, 16 Mei 2025 06:30 WIB
Momen Haji Wada dalam Sejarah Islam, Ini Pesan Terakhir Rasulullah
Ilustrasi kisah Nabi. Foto: Getty Images/REIMUSS
Jakarta -

Haji wada' memiliki makna yang sangat penting dalam perjalanan Islam. Saat itu, semangat umat semakin membara dengan bertambahnya pengikut Nabi Muhammad SAW, sekaligus menimbulkan rasa haru karena para sahabat mulai menyadari bahwa usia beliau tidak lama lagi. Peristiwa ini menyimpan pesan-pesan berharga yang terus dikenang hingga kini.

Dalam buku Sejarah Kebudayaan Islam untuk Madrasah Ibtidaiyah Kelas V karya Yusak Burhanudin dan Ahmad Fida', disebutkan bahwa menjelang akhir hayatnya, Nabi Muhammad SAW melaksanakan satu-satunya ibadah haji setelah hijrah ke Madinah. Ibadah ini dikenal dengan sebutan haji wada' yang berarti haji perpisahan. Peristiwa ini terjadi pada tahun ke-10 Hijriah (sekitar 632 Masehi), saat beliau berusia 62 tahun.

Menurut Ibnul Atsir dalam Al-KÃĸmil fit TÃĸrÃŽkh, Nabi Muhammad SAW memasuki Kota Makkah pada Senin, 4 Dzulqa'dah tahun 10 Hijriah, setelah menempuh perjalanan selama delapan hari. Perjalanan yang lebih lama dari biasanya ini menunjukkan bagaimana Rasulullah SAW benar-benar menikmati dan meresapi setiap tahap ibadah hajinya. Sebagian sejarawan menilai ini sebagai pelaksanaan haji pertama sekaligus terakhir yang beliau jalankan.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Pesan Terakhir Rasulullah saat Haji Wada'

Haji wada' tidak hanya menjadi perjalanan ibadah terakhir Nabi Muhammad SAW, tetapi juga momen penyampaian pesan penting kepada umat Islam. Di Padang Arafah, beliau menyampaikan khutbah yang menekankan nilai persatuan, kesetaraan, dan ketakwaan:

"Wahai umat Islam, dengarkanlah baik-baik perkataanku ini. Aku tidak tahu apakah aku masih akan bertemu dengan kalian di tempat ini pada masa yang akan datang."

ADVERTISEMENT

"Wahai umat Islam, Tuhan kalian satu, dan asal-usul kalian juga satu. Kalian semua berasal dari Adam, dan Adam diciptakan dari tanah. Sesungguhnya yang paling mulia di antara kalian di sisi Allah adalah orang yang paling bertakwa."

Khutbah ini disampaikan di tempat yang sangat sakral dalam ibadah haji, yaitu Padang Arafah. Setelah menyelesaikan rangkaian ibadah haji, Nabi kembali ke Madinah. Tidak lama kemudian, turun wahyu terakhir berupa Surah Al-Māidah ayat 3, yang menandai penutupan rangkaian wahyu dalam Islam.

Ø­ŲØąŲ‘ŲŲ…ŲŽØĒŲ’ ØšŲŽŲ„ŲŽŲŠŲ’ŲƒŲŲ…Ų Ø§Ų„Ų’Ų…ŲŽŲŠŲ’ØĒŲŽØŠŲ ŲˆŲŽØ§Ų„Ø¯Ų‘ŲŽŲ…Ų ŲˆŲŽŲ„ŲŽØ­Ų’Ų…Ų Ø§Ų„Ų’ØŽŲŲ†Ų’Ø˛ŲŲŠŲ’ØąŲ ŲˆŲŽŲ…ŲŽØ§Ų“ Ø§ŲŲ‡ŲŲ„Ų‘ŲŽ ؄ؐØēŲŽŲŠŲ’ØąŲ Ø§Ų„Ų„Ų‘Ų°Ų‡Ų Ø¨ŲŲ‡Ų– ŲˆŲŽØ§Ų„Ų’Ų…ŲŲ†Ų’ØŽŲŽŲ†ŲŲ‚ŲŽØŠŲ ŲˆŲŽØ§Ų„Ų’Ų…ŲŽŲˆŲ’Ų‚ŲŲˆŲ’Ø°ŲŽØŠŲ ŲˆŲŽØ§Ų„Ų’Ų…ŲØĒŲŽØąŲŽØ¯Ų‘ŲŲŠŲŽØŠŲ ŲˆŲŽØ§Ų„Ų†Ų‘ŲŽØˇŲŲŠŲ’Ø­ŲŽØŠŲ ŲˆŲŽŲ…ŲŽØ§Ų“ Ø§ŲŽŲƒŲŽŲ„ŲŽ Ø§Ų„ØŗŲ‘ŲŽØ¨ŲØšŲ Ø§ŲŲ„Ų‘ŲŽØ§ Ų…ŲŽØ§ Ø°ŲŽŲƒŲ‘ŲŽŲŠŲ’ØĒŲŲ…Ų’Û— ŲˆŲŽŲ…ŲŽØ§ Ø°ŲØ¨ŲØ­ŲŽ ØšŲŽŲ„ŲŽŲ‰ Ø§Ų„Ų†Ų‘ŲØĩŲØ¨Ų ŲˆŲŽØ§ŲŽŲ†Ų’ ØĒŲŽØŗŲ’ØĒŲŽŲ‚Ų’ØŗŲŲ…ŲŲˆŲ’Ø§ Ø¨ŲØ§Ų„Ų’Ø§ŲŽØ˛Ų’Ų„ŲŽØ§Ų…ŲÛ— Ø°Ų°Ų„ŲŲƒŲŲ…Ų’ ŲŲØŗŲ’Ų‚ŲŒÛ— Ø§ŲŽŲ„Ų’ŲŠŲŽŲˆŲ’Ų…ŲŽ ŲŠŲŽŲ‰Ų•ŲØŗŲŽ Ø§Ų„Ų‘ŲŽØ°ŲŲŠŲ’Ų†ŲŽ ŲƒŲŽŲŲŽØąŲŲˆŲ’Ø§ ؅ؐ؆ؒ Ø¯ŲŲŠŲ’Ų†ŲŲƒŲŲ…Ų’ ŲŲŽŲ„ŲŽØ§ ØĒŲŽØŽŲ’Ø´ŲŽŲˆŲ’Ų‡ŲŲ…Ų’ ŲˆŲŽØ§ØŽŲ’Ø´ŲŽŲˆŲ’Ų†ŲÛ— Ø§ŲŽŲ„Ų’ŲŠŲŽŲˆŲ’Ų…ŲŽ Ø§ŲŽŲƒŲ’Ų…ŲŽŲ„Ų’ØĒŲ Ų„ŲŽŲƒŲŲ…Ų’ Ø¯ŲŲŠŲ’Ų†ŲŽŲƒŲŲ…Ų’ ŲˆŲŽØ§ŲŽØĒŲ’Ų…ŲŽŲ…Ų’ØĒŲ ØšŲŽŲ„ŲŽŲŠŲ’ŲƒŲŲ…Ų’ Ų†ŲØšŲ’Ų…ŲŽØĒŲŲŠŲ’ ŲˆŲŽØąŲŽØļŲŲŠŲ’ØĒŲ Ų„ŲŽŲƒŲŲ…Ų Ø§Ų„Ų’Ø§ŲØŗŲ’Ų„ŲŽØ§Ų…ŲŽ Ø¯ŲŲŠŲ’Ų†Ų‹Ø§Û— ŲŲŽŲ…ŲŽŲ†Ų اØļŲ’ØˇŲØąŲ‘ŲŽ ŲŲŲŠŲ’ Ų…ŲŽØŽŲ’Ų…ŲŽØĩŲŽØŠŲ ØēŲŽŲŠŲ’ØąŲŽ Ų…ŲØĒŲŽØŦŲŽØ§Ų†ŲŲŲ Ų„Ų‘ŲØ§ŲØĢŲ’Ų…ŲÛ™ ŲŲŽØ§ŲŲ†Ų‘ŲŽ Ø§Ų„Ų„Ų‘Ų°Ų‡ŲŽ ØēŲŽŲŲŲˆŲ’ØąŲŒ ØąŲ‘ŲŽØ­ŲŲŠŲ’Ų…ŲŒ

Arab latin: Ḥurrimat 'alaikumul-maitatu wad-damu wa laá¸Ĩmul-khinzÄĢri wa mā uhilla ligairillāhi bihÄĢ wal-munkhaniqatu wal-mauqÅĢÅŧatu wal-mutaraddiyatu wan-naáš­ÄĢá¸Ĩatu wa mā akalas-sabu'u illā mā Åŧakkaitum, wa mā Åŧubiá¸Ĩa 'alan-nuášŖubi wa an tastaqsimÅĢ bil-azlām(i), Åŧālikum fisq(un), al-yauma ya'isal-laÅŧÄĢna kafarÅĢ min dÄĢnikum falā takhsyauhum wakhsyaun(i), al-yauma akmaltu lakum dÄĢnakum wa atmamtu 'alaikum ni'matÄĢ wa raḍÄĢtu lakumul-islāma dÄĢnā(n), fa maniḍᚭurra fÄĢ makhmaášŖatin gaira mutajānifil li'iᚥm(in), fa innallāha gafÅĢrur raá¸ĨÄĢm(un).

Artinya: Diharamkan bagimu (memakan) bangkai, darah, daging babi, dan (daging hewan) yang disembelih bukan atas (nama) Allah, yang tercekik, yang dipukul, yang jatuh, yang ditanduk, dan yang diterkam binatang buas, kecuali yang (sempat) kamu sembelih. (Diharamkan pula) apa yang disembelih untuk berhala. (Demikian pula) mengundi nasib dengan azlām (anak panah), (karena) itu suatu perbuatan fasik. Pada hari ini) orang-orang kafir telah putus asa untuk (mengalahkan) agamamu. Oleh sebab itu, janganlah kamu takut kepada mereka, tetapi takutlah kepada-Ku. Pada hari ini telah Aku sempurnakan agamamu untukmu, telah Aku cukupkan nikmat-Ku bagimu, dan telah Aku ridai Islam sebagai agamamu. Maka, siapa yang terpaksa karena lapar, bukan karena ingin berbuat dosa, sesungguhnya Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.

Perjalanan Haji Wada'

Untuk memahami lebih dalam, perjalanan haji wada' dimulai dari Madinah dengan jumlah jemaah yang sangat besar. Menurut buku Dua Pedang Pembela Nabi SAW karya Rizem Aizid, sekitar 90.000 muslim berkumpul di Madinah setelah menerima kabar bahwa Rasulullah SAW akan menunaikan haji. Sepanjang perjalanan menuju Makkah, jumlah jemaah bertambah hingga sekitar 114.000 orang.

Sebelum berangkat, Nabi Muhammad SAW menyerahkan urusan pemerintahan Madinah kepada seorang sahabat. Beberapa riwayat menyebutkan bahwa sosok tersebut adalah Abu Dujanah As-Sa'idi atau Siba' bin Urfujah Al-Ghifari. Perjalanan ini menutup misi kenabian beliau di dunia.




(inf/kri)
Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Hide Ads