Sholat Kafarat: Niat, Tata Cara, dan Hukumnya

Sholat Kafarat: Niat, Tata Cara, dan Hukumnya

Hanif Hawari - detikHikmah
Jumat, 28 Mar 2025 04:00 WIB
Sholat Kafarat: Niat, Tata Cara, dan Hukumnya
Ilustrasi sholat kafarat (Foto: Dok. Detikcom)
Jakarta -

Dalam ajaran Islam, sholat fardhu 5 waktu harus dikerjakan sebagai bentuk ketaatan kepada Allah SWT. Namun, bagi mereka yang pernah lalai, beberapa meyakini bahwa sholat kafarat dapat menjadi upaya untuk menebus kekurangan dalam menjalankan kewajiban tersebut.

Menjelang akhir Ramadan, umat Islam dianjurkan untuk meningkatkan ibadah dan memperbanyak amalan yang bernilai pahala, salah satunya adalah sholat kafarat. Sebagian orang meyakini sholat kafarat sebagai pengganti sholat fardhu yang terlewat atau tidak sah.

Sholat Kafarat Adalah

Menurut buku Fikih Jinayat karya Ali Geno Berutu, kata 'kafarat' berasal dari 'kufir' yang berarti tertutup. Kafarat diartikan sebagai denda yang harus ditunaikan akibat pelanggaran terhadap perintah Allah SWT serta dianggap sebagai bentuk tobat dan penebusan dosa seseorang.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Pelaksanaan sholat kafarat biasanya dilakukan pada Jumat penghujung bulan Ramadan. Ibadah ini bertujuan sebagai qadha atas sholat fardhu yang pernah terlewat.

Niat dan Tata Cara Sholat Kafarat

Muslim yang ingin menunaikan sholat kafarat dapat memperhatikan bacaan niat serta tata caranya. Panduan ini dikutip dari kitab Terjemahan Indonesia Cara Sholat Kafarat karya Mundzir bin Fawwad Al Masawa serta laman Yayasan Al Fatihah.

ADVERTISEMENT

Niat Sholat Kafarat

Membaca niat sholat Kafarat berikut ini:

ØŖŲØĩŲŽŲ„ŲŲ‘ŲŠ ØŖŲŽØąŲ’Ø¨ŲŽØšŲŽ ØąŲŽŲƒŲŽØšŲŽØ§ØĒŲ ŲƒŲŽŲŲŽŲ‘Ø§ØąŲŽØŠŲ‹ Ų„ŲŲ…ŲŽØ§ ŲŲŽØ§ØĒŲŽŲ†ŲŠ Ų…ŲŲ†ŲŽ Ø§Ų„ØĩŲŽŲ‘Ų„ŲŽØ§ØŠŲ Ų„ŲŲ„ŲŽŲ‘Ų‡Ų ØĒŲŽØšŲŽØ§Ų„ŲŽŲ‰

Arab latin: Ushollii arba'a raka'atin kafaraatallimaafatanii minash-shalatilillahita'alaa

Artinya: Aku (berniat) sholat empat rakaat sebagai kafarat salat yang tertinggal karena Allah Ta'ala.

Tata Cara Sholat Kafarat

  1. Takbiratul ihram
  2. Membaca Surah Al-Fatihah satu kali.
  3. Dilanjutkan dengan membaca Surah Al-Qadr sebanyak 15 kali.
  4. Kemudian membaca Surah Al-Kautsar sebanyak 15 kali.
  5. Melakukan rukuk, i'tidal, dan sujud.
  6. Sholat ini terdiri dari 4 rakaat tanpa tahiyat awal.
  7. Setelah rakaat terakhir, dilakukan tahiyat akhir dan diakhiri dengan salam.
  8. Setelah salam, dianjurkan membaca istighfar sebanyak 10 kali, lalu membaca sholawat sebanyak 100 kali.
  9. Terakhir, membaca basmalah, hamdalah, syahadat, serta doa kafarat sebanyak 3 kali. Berikut bacaan doanya.

Ø§Ų„Ų„ŲŽŲ‘Ų‡ŲŲ…ŲŽŲ‘ Ų„ŲŽØ§ ŲŠŲŽŲ†Ų’ŲŲŽØšŲŲƒŲŽ ØˇŲŽØ§ØšŲŽØĒŲŲŠØŒ ŲˆŲŽŲ„ŲŽØ§ ØĒŲŽØļŲØąŲŲ‘ŲƒŲŽ Ų…ŲŽØšŲ’ØĩŲŲŠŲŽØĒŲŲŠØŒ ØĒŲŽŲ‚ŲŽØ¨ŲŽŲ‘Ų„Ų’ ŲŠŲŽØ§ Ų…ŲŽŲ†Ų’ ØĨŲØ°ŲŽØ§ ŲˆŲŽØšŲŽØ¯ŲŽ ŲˆŲŽŲŲŽŲ‰ ŲˆŲŽØĨŲØ°ŲŽØ§ ØĒŲŽŲˆŲŽØšŲŽØ¯ŲŽ ØĒŲŽØŦŲŽØ§ŲˆŲŽØ˛ŲŽ ŲˆŲŽØšŲŽŲŲŽŲ‰ØŒ Ø§ŲØēŲ’ŲŲØąŲ’ Ų„ŲŲŠŲ’ Ų„ŲØšŲŽØ¨Ų’Ø¯Ų Ø¸ŲŽŲ„ŲŽŲ…ŲŽ Ų†ŲŽŲŲ’ØŗŲŽŲ‡Ų Ų†ŲŽØŗŲ’ØŖŲŽŲ„ŲŲƒŲŽ Ø§Ų„Ų„ŲŽŲ‘Ų‡ŲŲ…ŲŽŲ‘ ØĨŲŲ†ŲŲ‘ŲŠ ØŖŲŽØšŲŲˆŲ’Ø°Ų Ø¨ŲŲƒŲŽ ؅ؐ؆ؒ Ø¨ŲŽØˇŲŽØąŲ Ø§Ų„ØēŲŲ†ŲŽŲ‰ ŲˆŲŽØŦŲŽŲ‡Ų’Ø¯Ų Ø§Ų„ŲŲŽŲ‚Ų’ØąŲØŒ ØĨŲŲ„Ų‡ŲŲŠ ØŽŲŽŲ„ŲŽŲ‚Ų’ØĒŲŽŲ†ŲŲŠŲ’ ŲˆŲŽŲ„ŲŽŲ…Ų’ ØŖŲŽŲƒŲŲ†Ų’ Ø´ŲŽŲŠŲ’ØĻŲ‹Ø§ ŲˆŲŽØąŲŽØ˛ŲŽŲ‚Ų’ØĒŲŽŲ†ŲŲŠ ŲˆŲŽŲ„ŲŽŲ…Ų’ ØŖŲŽŲƒŲŲ†Ų’ Ø´ŲŽŲŠŲ’ØĻŲ‹Ø§ ŲˆŲŽØ§ØąŲ’ØĒŲŽŲƒŲØ¨Ų’ØĒŲ Ø§Ų„Ų’Ų…ŲŽØšŲŽØ§ØĩŲŲŠŲ’ØŒ ŲŲŽØĨŲŲ†ŲŲ‘ŲŠ Ų…ŲŲ‚ŲØąŲŒŲ‘ Ų„ŲŽŲƒŲŽ Ø¨ŲØ°ŲŲ†ŲŲˆØ¨ŲŲŠ ŲŲŽØĨؐ؆ؒ ØšŲŽŲŲŽŲˆŲ’ØĒŲŽ ØšŲŽŲ†ŲŲ‘ŲŠ ŲŲŽŲ„ŲŽØ§ ŲŠŲŽŲ†Ų’Ų‚ŲØĩŲ ؅ؐ؆ؒ Ų…ŲŲ„Ų’ŲƒŲŲƒŲŽ Ø´ŲŽŲŠŲ’ØĻŲ‹Ø§ØŒ ŲˆŲŽØĨؐ؆ؒ ØšŲŽØ°ŲŽŲ‘Ø¨Ų’ØĒŲŽŲ†ŲŲŠŲ’ ŲŲŽŲ„ŲŽØ§ ŲŠŲŽØ˛ŲØ¯Ų ؁ؐ؊ ØŗŲŲ„Ų’ØˇŲŽØ§Ų†ŲƒŲŽ Ø´ŲŠŲ’ØĻŲ‹Ø§ ØĨŲŲ„Ų‡ŲŲŠ ØŖŲŽŲ†Ų’ØĒŲŽ ØĒŲŽØŦŲØ¯Ų Ų…ŲŽŲ†Ų’ ØĒŲØšŲŽØ°ŲŲ‘Ø¨ŲŲ‡Ų ØēŲŽŲŠŲ’ØąŲŲŠØŒ ŲˆŲŽØŖŲŽŲ†ŲŽØ§ Ų„ŲŽØ§ ØŖŲŽØŦŲØ¯Ų Ų…ŲŽŲ†Ų’ ŲŠŲŽØąŲ’Ø­ŲŽŲ…ŲŲ†ŲŲŠ ØēŲŽŲŠŲ’ØąŲŽŲƒŲŽ اØēŲ’ŲŲØąŲ’Ų„ŲŲŠŲ’ Ų…ŲŽØ§ Ø¨ŲŽŲŠŲ’Ų†ŲŲŠ ŲˆŲŽØ¨ŲŽŲŠŲ’Ų†ŲŽŲƒŲŽØŒ ŲˆŲŽØēŲ’ŲŲØąŲ’Ų„ŲŲŠŲ’ Ų…ŲŽØ§Ø¨ŲŽŲŠŲ’Ų†ŲŲŠ ŲˆŲŽØ¨ŲŽŲŠŲ’Ų†ŲŽ ØŽŲŽŲ„Ų’Ų‚ŲŲƒŲŽ ŲŠŲŽØ§ ØŖŲŽØąŲ’Ø­ŲŽŲ…ŲŽ Ø§Ų„ØąŲŽŲ‘Ø§Ø­ŲŲ…ŲŲŠŲ’Ų†ŲŽ ŲˆŲŽŲŠŲŽØ§ ØąŲŽØŦŲŽØ§ØĄŲŽ Ø§Ų„ØŗŲŽŲ‘Ø§ØĻŲŲ„ŲŲŠŲ’Ų†ŲŽ ŲˆŲŽŲŠŲŽØ§ ØŖŲŽŲ…ŲŽØ§Ų†ŲŽ Ø§Ų„ØŽŲŽØ§ØĻŲŲŲŲŠŲ’Ų†ŲŽØŒ ØĨŲØąŲ’Ø­ŲŽŲ…Ų’Ų†ŲŲŠŲ’ Ø¨ŲØąŲŽØ­Ų’Ų…ŲŽØĒŲŲƒŲŽ Ø§Ų„Ų’ŲˆŲŽØ§ØŗŲØšŲŽØŠŲ ØŖŲŽŲ†Ų’ØĒŲŽ ØŖŲŽØąŲ’Ø­ŲŽŲ…Ų Ø§Ų„ØąŲŽŲ‘Ø§Ø­ŲŲ…ŲŲŠŲ’Ų†ŲŽ ŲŠŲŽØ§ ØąŲŽØ¨ŲŽŲ‘ Ø§Ų„Ų’ØšŲŽØ§Ų„ŲŽŲ…ŲŲŠŲ’Ų†ŲŽ Ø§Ų„Ų„ŲŽŲ‘Ų‡ŲŲ…ŲŽŲ‘ اØēŲ’ŲŲØąŲ’ Ų„ŲŲ„Ų’Ų…ŲØ¤Ų’Ų…ŲŲ†ŲŲŠŲ’Ų†ŲŽ ŲˆŲŽØ§Ų„Ų’Ų…ŲØ¤Ų’Ų…ŲŲ†ŲŽØ§ØĒؐ ŲˆŲŽØ§Ų„Ų’Ų…ŲØŗŲ’Ų„ŲŲ…ŲŲŠŲ’Ų†ŲŽ ŲˆŲŽØ§Ų„Ų’Ų…ŲØŗŲ’Ų„ŲŲ…ŲŽØ§ØĒؐ ŲˆŲŽØĒŲŽØ§Ø¨ŲØšŲ Ø¨ŲŽŲŠŲ’Ų†ŲŽŲ†ŲŽØ§ ŲˆŲŽØ¨ŲŽŲŠŲ’Ų†ŲŽŲ‡ŲŲ…Ų’ Ø¨ŲØ§Ų„Ų’ØŽŲŽŲŠŲ’ØąŲŽØ§ØĒŲØŒ ØąŲŽØ¨ŲŲ‘ اØēŲ’ŲŲØąŲ’ ŲˆŲŽØ§ØąŲ’Ø­ŲŽŲ…Ų’ ŲˆŲŽØŖŲŽŲ†Ų’ØĒŲŽ ØŽŲŽŲŠŲ’ØąŲ Ø§Ų„ØąŲŽŲ‘Ø§Ø­ŲŲ…ŲŲŠŲ’Ų†ŲŽ

Arab latin: Allahumma yaa man laa tan-fa'uka tha'atii wa laa tadhurruka ma'shiyatii taqabbal minnii ma laa yanfa'uka waghfirlii ma laa yadhurruka ya man idzaa wa 'ada wa fii wa idzaa tawa'ada tajaa wa za wa'afaa ighfirli'abdin zhaalama nafsahu wa as'aluka.

Allahumma innii a'udzubika min bathril ghinaa wa jahdil faqri ilaahii khalaqtanii wa lam aku syai'an wa razaqtanii wa lam aku syaii'in wartakabtu al-ma'ashii fa-innii muqirun laka bi-dzunuubii. Fa in 'afawta 'annii fala yanqushu min mulkika syai'an wa-in adzdzaabtanii falaa yaziidu fii sulthaanika syay-'an.

Ilaahii anta tajidu man tu'adzdzi buhu ghayrii wa-anaa laa ajidu man yarhamanii ghaiyraka aghfirlii maa baynii wa baynaka waghfirlii ma baynii wa bayna khlaqika yaa arhamar rahiimiin wa yaa raja'a sa'iliin wa yaa amaanal khaifiina irhamnii birahmatikaal waasi'aati anta arhamur rahimiin yaa rabbal 'aalaamiin.

Allahummaghfir lil mukminiina wal mukminaat wal musliimina wal muslimaat wa tabi' baynana wa baynahum bil khaiyrati rabbighfir warham wa anta khairur-rahimiin

Artinya: "Yaa Allah, yang mana segala ketaatanku tiada artinya bagi-Mu dan segala perbuatan maksiatku tiada merugikan-Mu. Terimalah diriku yang tiada artinya bagi-Mu. Dan ampunilah aku yang mana ampunan-Mu itu tidak merugikan bagi-Mu.

Ya Allah, bila Engkau berjanji pasti Engkau tepati janji-Mu. Dan apabila Engkau mengancam, maka Engkau mau mengampuni ancaman-Mu.

Ampunilah hamba-Mu ini yang telah menyesatkan diriku sendiri, aku telah Engkau beri kekayaan dan aku mengumpat di saat aku Engkau beri miskin. Wahai Tuhanku Engkau ciptakan aku dan aku tak berarti apapun. Dan Engkau beri aku rizki sekalipun aku tak berarti apa-apa, dan aku lakukan perbuatan semua maksiat dan aku mengaku pada-Mu dengan segala dosa-dosaku.

Apabila Engkau mengampuniku tidak mengurangi keagungan-Mu sedikitpun, dan bila Kau siksa aku maka tidak akan menambah kekuasaan-Mu, wahai Tuhanku, bukankah masih banyak orang yang akan Kau siksa selain aku. Namun bagiku hanya Engkau yang dapat mengampuniku.

Ampunilah dosa-dosaku kepadaMu. Dan ampunilah segala kesalahanku di antara aku dengan hamba-hamba-Mu. Ya Allah Yang Maha Pemurah dan Maha Pengasih dan tempat pengaduan semua pemohon dan tempat berlindung bagi orang yang takut. Kasihanilah aku dengan pengampunan-Mu yang luas.

Engkau yang Maha Pengasih dan Penyayang dan Engkaulah yang memelihara seluruh alam yang ada. Ampunilah segala dosa-dosa orang mukmin dan mukminat, muslimin dan muslimat dan satukanlah aku dengan mereka dalam kebaikan. Wahai Tuhanku ampunilah dan kasihilah. Sesungguhnya Engkau Maha Pengasih lagi Maha Penyayang."

Hukum Sholat Kafarat

Sebenarnya, terdapat perbedaan pendapat mengenai status hukum sholat kafarat. Para ulama berbeda pandangan mengenai masalah ini.

Pendapat yang Membolehkan

  • Berdasarkan pendapat al-Qadli Husain, diperbolehkan untuk mengqadha sholat fardhu yang pernah ditinggalkan atau yang masih diragukan keabsahannya.
  • Tidak ada seorang pun yang dapat memastikan bahwa sholat yang telah dikerjakannya benar-benar diterima oleh Allah SWT, terutama sholat yang telah dilakukan di masa lampau.
  • Larangan terhadap sholat kafarat didasarkan pada kekhawatiran bahwa ibadah tersebut dianggap cukup untuk menggantikan sholat fardhu selama satu tahun penuh. Oleh karena itu, jika kekhawatiran ini tidak lagi ada, maka status keharamannya juga tidak berlaku.
  • Mengikuti praktik ibadah yang dilakukan oleh para ulama besar dan wali Allah yang memiliki pemahaman makrifat menjadi alasan kuat untuk membolehkan pelaksanaan sholat kafarat.

Pendapat yang Melarang

  • Sholat kafarat tidak memiliki dasar yang jelas dalam hadis Nabi maupun kitab-kitab syariat. Oleh karena itu, ibadah ini dianggap sebagai isyra'u ma lam yusyra' (menetapkan syariat yang tidak disyariatkan) atau ta'athi bi 'ibadatin fasidah (melaksanakan ibadah yang tidak sah).
  • Penentuan sholat kafarat pada Jumat terakhir bulan Ramadan tidak memiliki landasan yang jelas dalam syariat.
  • Keterangan Syekh Ibnu Hajar al-Haitami menyebutkan:

ŲˆØŖŲ‚Ø¨Ø­ Ų…Ų† Ø°Ų„Ųƒ Ų…Ø§ اؚØĒŲŠØ¯ ؁؊ بؚØļ Ø§Ų„Ø¨Ų„Ø§Ø¯ Ų…Ų† ØĩŲ„Ø§ØŠ Ø§Ų„ØŽŲ…Øŗ ؁؊ Ų‡Ø°Ų‡ Ø§Ų„ØŦŲ…ØšØŠ ØšŲ‚Ø¨ ØĩŲ„Ø§ØĒŲ‡Ø§ Ø˛Ø§ØšŲ…ŲŠŲ† ØŖŲ†Ų‡Ø§ ØĒŲƒŲØą ØĩŲ„ŲˆØ§ØĒ Ø§Ų„ØšØ§Ų… ØŖŲˆ Ø§Ų„ØšŲ…Øą Ø§Ų„Ų…ØĒØąŲˆŲƒØŠ ŲˆØ°Ų„Ųƒ Ø­ØąØ§Ų… ØŖŲˆ ŲƒŲØą Ų„ŲˆØŦŲˆŲ‡ Ų„Ø§ ØĒØŽŲŲ‰

"Yang lebih buruk dari itu adalah tradisi di sebagian daerah berupa sholat 5 waktu di jumat ini (jumat akhir Ramadhan) selepas menjalankan sholat jumat, mereka meyakini sholat tersebut dapat melebur dosa sholat-sholat yang ditinggalkan selama setahun atau bahkan semasa hidup, yang demikian ini adalah haram atau bahkan kufur karena beberapa sisi pandang yang tidak samar." (Syekh Ibnu Hajar al-Haitami, Tuhfah al-Muhtaj, juz.2, halaman 457)

Wallahu a'lam.




(hnh/inf)
Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Hide Ads