Pneumonia menjadi ancaman serius bagi jemaah haji Indonesia saat menjalankan ibadah di Tanah Suci. Penyakit infeksi paru-paru ini tercatat sebagai pemicu utama rawat inap sekaligus penyebab kematian tertinggi bagi para jemaah haji di Arab Saudi.
Dokter Keluarga Kimia Farma Group, dr. Meidi Nursasih, mengungkapkan data dari Kantor Kesehatan Haji Indonesia (KKHI) di Arab Saudi yang menunjukkan tingginya angka kasus tersebut.
"Berdasarkan data Kantor Kesehatan Haji Indonesia (KKHI) di Arab Saudi, dari hampir 400 jemaah yang masuk rumah sakit KKHI, kasus terbesar yang tercatat adalah pneumonia, dengan angka kematian mencapai 370-an orang," kata dr. Meidi dikutip Antara.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Pemicu Pneumonia pada Jemaah Haji Indonesia
Menurut dr. Meidi, ada beberapa faktor utama yang membuat jemaah haji Indonesia sangat rentan terserang pneumonia, di antaranya:
Masa Tunggu Panjang dan Dominasi Lansia
Lamanya masa tunggu keberangkatan haji di Indonesia. Hal ini menyebabkan mayoritas jemaah yang berangkat sudah berusia lanjut (lansia).
Riwayat Komorbid
Sebagian besar jemaah lansia memiliki penyakit penyerta, seperti diabetes melitus, hipertensi, hingga riwayat penyakit paru.
Perbedaan Iklim dan Kelembapan Udara Ekstrem
Selain kelelahan fisik dan jetlag, faktor kelembapan udara di Arab Saudi menjadi penyebab krusial. Kelembapan udara di sana bisa sangat rendah hingga 9 persen, jauh dibanding Indonesia yang sekitar 50 persen. Udara yang sangat kering ini mempermudah iritasi dan infeksi pada saluran pernapasan.
Pentingnya Cek Kesehatan Sejak Dini
Untuk menekan risiko kesakitan dan kematian (morbiditas dan mortalitas), dr. Meidi mengingatkan pentingnya menjalani pemeriksaan kesehatan berjenjang sesuai Peraturan Menteri Kesehatan (Permenkes). Pemeriksaan ini idealnya dilakukan sejak enam bulan sebelum keberangkatan, mulai dari tingkat Puskesmas, Dinas Kesehatan, hingga di asrama haji.
Pemeriksaan awal di Puskesmas sangat vital untuk menentukan status istithaah (kelayakan kesehatan) jemaah secara saksama, sehingga intervensi medis dapat dilakukan sedini mungkin.
Hal senada disampaikan Dokter Spesialis Penyakit Dalam Konsultan Penyakit Tropik dan Infeksi, dr. Joyce Bratanata, Sp.PD, Subsp.PTI (K), FINASIM. Ia menekankan agar calon jemaah haji maupun umrah sudah menjalani pemeriksaan fisik menyeluruh, rontgen paru, serta tes laboratorium minimal dua hingga tiga bulan sebelum bertolak ke Arab Saudi.
Tips Perlindungan Paru Selama Menjalankan Ibadah Haji
Mengingat ibadah di Tanah Suci melibatkan jutaan orang dari berbagai negara dalam ruang padat dan penularan infeksi terjadi melalui udara (airborne), dr. Joyce membagikan langkah proteksi paru yang wajib dilakukan jemaah:
- Kontrol Penyakit Penyerta (Komorbid): Pastikan kondisi kesehatan dan penyakit bawaan dalam keadaan terkontrol sebelum berangkat.
- Disiplin Menggunakan Masker: Selalu gunakan masker medis saat berada di tengah kerumunan massa.
- Menjaga Kebersihan Tangan: Rutin mencuci tangan menggunakan air dan sabun atau hand sanitizer.
- Vaksinasi Dewasa Lengkap: Mengikuti vaksinasi yang dianjurkan sebelum berangkat, seperti vaksin influenza dan vaksin pneumokokus.
