Salah satu cerita yang cukup sering beredar di kalangan jemaah haji dan umrah adalah tentang sebuah tiang berwarna merah muda (pink) di Masjidil Haram. Tiang yang berada di area Mataf atau pelataran tawaf bagian dalam, dekat Pintu King Abdulaziz itu disebut-sebut sebagai tempat Rasulullah SAW menambatkan Buraq saat peristiwa Isra Mi'raj. Tepatnya, tiang tersebut berada di barisan kedua sebelah kiri setelah masuk melalui pintu tersebut.
Namun, benarkah demikian? Penerjemah resmi khutbah Masjidil Haram asal Indonesia, Ahmad Musyaddad, mengatakan dirinya belum pernah menemukan riwayat yang secara spesifik menyebut tiang tersebut sebagai tempat Rasulullah SAW menambatkan Buraq.
"Tiang yang warna merah jambu yang diasosiasikan sebagai tempat ditambatkannya Buraq itu, ketika ditanya oleh jemaah saya selalu mengatakan wallahu a'lam. Saya tidak pernah menjumpai riwayat yang secara spesifik menceritakan di mana Buraq itu ditambatkan," ujar Musyaddad saat menjawab pertanyaan tim Media Center Haji ketika memandu tur jejak sirah di sekitar Masjidil Haram.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Meski demikian, Musyaddad menjelaskan kawasan tempat berdirinya tiang tersebut memang memiliki nilai sejarah yang penting dalam perjalanan hidup Rasulullah SAW. Dalam sejumlah literatur sejarah Islam, lokasi itu dikenal sebagai Al-Hazwarah, sebuah gundukan tanah yang berada di sekitar rumah Ummu Hani, sepupu Rasulullah SAW.
Rumah Ummu Hani sendiri memiliki kedudukan penting dalam sirah Nabawiyah. Dalam sebagian riwayat, rumah tersebut disebut sebagai tempat Rasulullah SAW berada sebelum diangkat oleh Malaikat Jibril dalam peristiwa Isra Mi'raj.
"Cerita-cerita yang lain tentang lokasi itu adalah titik yang disebut Al-Hazwarah. Al-Hazwarah itu semacam gundukan yang berada di sekitar halaman rumah Ummu Hani, yang merupakan sepupu Nabi SAW. Di sebagian riwayat, rumah tersebut merupakan tempat Rasulullah SAW diangkat oleh Malaikat Jibril saat beliau di-Isra Mi'raj-kan," jelasnya.
Selain dikaitkan dengan Isra Mi'raj, kawasan Al-Hazwarah juga dikenal sebagai lokasi Rasulullah SAW mengucapkan salam perpisahan kepada Kota Makkah saat memulai hijrah menuju Madinah.
Musyaddad menuturkan, di tempat itulah Rasulullah SAW berhenti sejenak sebelum meninggalkan tanah kelahirannya dan mengungkapkan kecintaan yang begitu mendalam kepada Makkah.
"Al-Hazwarah itu sendiri adalah lokasi tempat para sahabat melihat Nabi SAW saat dalam perjalanan hijrah. Lalu beliau berhenti dan mengungkapkan, 'Wahai Makkah, sungguh engkau adalah tempat yang paling baik dan tempat yang paling aku cintai. Kalaulah bukan karena kaummu mengusirku darimu, aku tidak akan keluar darimu.' Itu diucapkan Nabi SAW di tempat yang disebut Al-Hazwarah," tuturnya.
Selain itu, lokasi tersebut juga memiliki hubungan erat dengan peristiwa Fathu Makkah, yakni pembebasan Kota Makkah dari kaum kafir Quraisy pada 20 Ramadan tahun 8 Hijriah.
Musyaddad menjelaskan, setelah berhasil membebaskan Makkah, Rasulullah SAW mendatangi rumah Ummu Hani dan melaksanakan salat sunah delapan rakaat di tempat tersebut. Menurut Musyaddad, para ulama memiliki perbedaan pendapat mengenai salat yang dikerjakan Rasulullah SAW kala itu. Sebagian menyebutnya sebagai salat duha, sementara sebagian lainnya menamainya salatul fath atau salat penaklukan.
"Sebagian para ulama mengatakan salat itu dinamakan salatul fath. Sehingga dari generasi ke generasi, jika ada penaklukan satu benteng musuh, para jenderal perang Islam memerintahkan pasukannya untuk melakukan salat delapan rakaat sebagaimana dahulu Rasulullah SAW salat delapan rakaat di rumah Ummu Hani saat menaklukkan Kota Makkah al-Mukarramah," simpulnya.
(rns/inf)

Komentar Terbanyak
Ramai Keluhan soal Tahlilan, Begini Penjelasan soal Jamuan di Rumah Duka
BEM Psikologi UI Sebut Homoseksual Bukan Penyimpangan, MUI Sentil Moral Kampus
Kemenag Tanggapi Hoaks Bolehkan Korupsi Asal Sesuai Syariat