Demi Layanan Haji Optimal, Gus Irfan Dorong Penguatan Kerja Sama RS Saudi

Kabar Haji Bersama Kahf

Demi Layanan Haji Optimal, Gus Irfan Dorong Penguatan Kerja Sama RS Saudi

Hanif Hawari - detikHikmah
Jumat, 05 Jun 2026 11:00 WIB
Menteri Haji dan Umrah RI Mochamad Irfan Yusuf melepas kepulangan jemaah haji di Bandara King Abdul Aziz, Jeddah, Arab Saudi, pada Minggu (31/5/2026).
Menteri Haji dan Umrah RI Mochamad Irfan Yusuf alias Gus Irfan (Foto: Media Center Haji 2026)
Jakarta -

Menteri Haji dan Umrah (Menhaj) RI, Mochamad Irfan Yusuf, menaruh perhatian besar pada nasib kesehatan para tamu Allah di Tanah Suci. Pria yang akrab disapa Gus Irfan ini menegaskan komitmennya untuk mendongkrak kualitas pelayanan dengan memperkuat sinergi medis bersama rumah sakit di Arab Saudi.

Komitmen ini disampaikan langsung oleh Gus Irfan saat melakukan kunjungan dan peninjauan ke Saudi German Hospital di Madinah untuk menjenguk jemaah haji Indonesia yang sedang menjalani perawatan intensif.

Dalam kunjungan tersebut, Gus Irfan mengevaluasi pelaksanaan kerja sama layanan kesehatan antara penyelenggara haji Indonesia dan rumah sakit di Arab Saudi yang bergulir selama musim haji tahun ini. Ia mengakui kolaborasi ini sangat membantu penanganan medis jemaah, namun karena berstatus 'program perdana', evaluasi total tetap harus dilakukan.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

"Beberapa hal yang menjadi perhatian adalah komunikasi dan koordinasi dalam pelaksanaan kerja sama ini. Karena baru pertama kali dilakukan, tentu ada sejumlah aspek yang perlu diperbaiki, termasuk terkait proses rujukan pasien dan kepastian waktu pemulangan mereka," ujar Gus Irfan dalam keterangan persnya, dikutip, Jumat (5/6/2026).

ADVERTISEMENT

Gus Irfan menegaskan, kelemahan komunikasi pada tahun pertama ini tidak akan membuat kerja sama tersebut surut. Sebaliknya, jalinan kolaborasi ke depan justru harus dipertegas dan diperluas agar manfaatnya makin nyata dirasakan jemaah.

"Kami ingin kerja sama ini dapat memberikan manfaat yang lebih besar sehingga pelayanan kesehatan bagi jemaah Indonesia semakin optimal," tegasnya.

Gus Irfan juga menyoroti kebijakan penanganan jemaah sakit yang mendekati fase pemulangan ke tanah air. Menhaj mengingatkan jajarannya agar tidak asal memindahkan jemaah yang sedang kritis dari Makkah ke Madinah jika tidak membawa asas manfaat yang konkret.

Sebab, jika jemaah dipindahkan ke Madinah namun ujung-ujungnya hanya berpindah kamar rumah sakit tanpa bisa beribadah, hal tersebut justru dinilai kurang efektif bagi proses pemulihan psikologis pasien.

"Kami membahas apakah jemaah yang sedang dirawat perlu dipindahkan ke Madinah atau tidak. Jika di Madinah mereka tetap berada di rumah sakit dan tidak dapat menjalankan aktivitas ibadah, maka yang lebih penting adalah memastikan proses perawatan dan pemulihan berjalan dengan baik," urai Gus Irfan.

Ia memastikan, keputusan pemindahan jemaah sakit tidak akan dipukul rata, melainkan bersifat kasuistik berdasarkan rekomendasi tim dokter yang memantau kondisi pasien secara real-time.

"Tergantung kondisi masing-masing. Jika memungkinkan akan dipindahkan ke Madinah. Namun jika belum memungkinkan, maka mereka tetap menjalani perawatan sampai benar-benar siap untuk melanjutkan perjalanan atau dipulangkan," tambahnya.

Bagi Gus Irfan, pelayanan haji yang paripurna tidak boleh hanya menyentuh kesehatan fisik semata. Melainkan juga harus peka terhadap kebutuhan psikologis dan spiritual jemaah yang sedang diuji sakit di Tanah Suci.




(hnh/inf)
Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Hide Ads