Lempar jumrah merupakan salah satu rangkaian ibadah haji yang penuh makna dan tantangan. Selain melatih kesabaran di tengah kepadatan jemaah, ritual ini memiliki tata cara syariat yang harus jemaah perhatikan agar ibadah haji tetap sah.
Pada hakikatnya, melempar jumrah menggambarkan perjuangan melawan godaan setan yang pernah dihadapi Nabi Ibrahim AS. Berikut panduan lengkap tata cara, waktu pelaksanaan, hingga bacaan doa melempar jumrah yang dirangkum detikHikmah.
Penjelasan Mengenai Lempar Jumrah
Dijelaskan dalam Buku Tuntunan Manasik Haji dan Umrah terbitan Kementerian Haji dan Umrah (Kemenhaj) RI, melempar jumrah adalah melempar batu kerikil ke arah jumrah Sugra, Wustha, dan Kubra dengan niat mengenai objek jumrah (marma) dan kerikil masuk ke dalam lubang marma. Melempar jumrah dapat jemaah haji lakukan pada hari nahr dan hari tasyrik.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Hukum melempar jumrah adalah wajib. Apabila jemaah haji tidak melakukannya, maka akan dikenakan dam atau fidyah (denda).
Waktu Melempar Jumrah
Dinukil dari Buku Pintar Muslim dan Muslimah karya Rina Ulfatul Hasanah, waktu untuk melempar jumrah pada saat di Mina dilakukan dalam dua waktu yang berbeda. Antara lain sebagai berikut:
1. Lempar Jumrah Tanggal 10 Zulhijah
Waktu untuk melakukan lempar jumrah Aqabah atau Kubra diutamakan mulai dari fajar hingga tergelincirnya matahari pada Hari Raya Idul Adha. Akan tetapi, jika tidak memungkinkan, maka lempar jumrah Aqabah boleh dilakukan hingga waktu fajar pada tanggal 11 Zulhijah.
2. Lempar Jumrah Hari Tasyrik
Pada tanggal 11, 12, 13, atau hari tasyrik, jemaah haji melakukan lempar jumrah Ula (Sugra), Wustha (Tsani), dan Aqabah (Kubra), dimulai dari ujung timur hingga barat dengan masing-masing melempar 7 kerikil secara satu per satu.
Waktu melempar diutamakan dimulai pada waktu tergelincirnya matahari hingga terbenam. Boleh juga dilakukan pada malam hari hingga waktu Subuh, atau dilakukan sebelum tenggelamnya matahari pada tanggal 13 Zulhijah, dengan catatan ada sebab yang menghalanginya untuk melakukan lempar jumrah pada waktu yang diutamakan.
Tata Cara Melempar Jumrah
Masih mengutip dari Buku Tuntunan Manasik Haji dan Umrah terbitan Kemenhaj RI, berikut tata cara lempar jumrah yang benar:
- Kerikil mengenai marma dan masuk ke dalam lubang
- Melempar setiap jumrah dengan menggunakan 7 kerikil dan setiap lontaran satu kerikil. Melontar dengan tujuh kerikil sekaligus, maka dihitung sebagai satu lontaran.
- Melempar jamarat dengan urutan yang benar, mulai dari jumrah Sugra, Wustha, dan Kubra.
Bacaan Doa Melempar Jumrah
Dikutip dari buku Doa & Zikir Haji dan Umrah terbitan Kemenhaj RI, setiap melempar jumrah, baik jumrah Sugra (ula), jumrah Wustha (tsani), dan jumrah Kubra (aqabah), pada setiap jumrah, jemaah haji menggunakan 7 kali lontaran kerikil, dan dianjurkan membaca doa berikut:
بِسْمِ اللهِ اللهُ أَكْبَرُ
Bismillāhi, Allāhu Akbar.
Artinya: "Dengan Nama Allah, Allah Maha Besar."
Jemaah haji juga bisa membaca doa berikut:
اللهُ أَكْبَرُ عَلَى طَاعَةِ الرَّحْمَنِ، وَرَغَمِ الشَّيْطَانِ اللهم تَصْدِيقاً بِكِتَابِكَ وَاتَّبَاعاً لِسُنَّةِ نَبِيِّكَ اللَّهُمَّ اجْعَلْهُ حَبًّا مَبْرُورًا وَذَنْبًا مَغْفُورًا وَعَمَلاً مَشْكُورًا
Allāhu akbaru 'alā ṭā'atir-raḥmān, wa raghamisy-syaiṭān. Allāhumma taṣdīqam bikitābika wattibā'al lisunnati nabiyyik. Allāhummaj'alhu ḥajjam mabrūrā (atau: 'umratam mabrūrah), wa żambam maghfūrā, wa 'amalam masykūrā.
Artinya: "Allah Maha Besar atas ketaatan kepada Allah Yang Maha Pengasih, dan kutukan bagi setan, ya Allah, dengan membenarkan kitab-kitab-Mu dan mengikuti sunnah Nabi-Mu. Jadikanlah ibadah haji ini haji yang mabrur, dosa-dosa terampuni, dan amalan yang diterima."
Bacaan Doa Setelah Melempar Jumrah Sugra dan Wustha
Masih mengutip dari sumber sebelumnya, berikut bacaan doa setelah melempar jumrah Sugra dan Wustha pada hari tasyrik:
الْحَمْدُ للهِ كَثِيرًا طَيِّبًا مُبَارَكًا فِيْهِ اللَّهُمَّ لَا أُحْصِيْ ثَنَاءً عَلَيْكَ أَنْتَ كَمَا أَثْنَيْتَ عَلَى نَفْسِكَ. اللَّهُمَّ إِلَيْكَ أَفَضْتُ وَمِنْ عَذَابِكَ أَشْفَقْتُ وَإِلَيْكَ رَغِبْتُ وَمِنْكَ رَهِبْتُ فَاقْبَلْ نُسُكِي وَأَعْظِمْ أَجْرِي وَارْحَمْ تَضَرُّعِي وَاقْبَلْ تَوْبَتِي وَأَقِلَّ عَثْرَتِي وَاسْتَجِبْ دَعْوَتِي وَأَعْطِنِي سُؤْلِي. اللَّهُمَّ رَبَّنَا تَقَبَّلْ مِنَّا وَلَا تَجْعَلْنَا مِنَ الْمُجْرِمِينَ، وَأَدْخِلْنَا فِي عِبَادِكَ الصَّالِحِينَ يَا أَرْحَمَ الرَّاحِمِينَ
Al-ḥamdu lillāhi kaṡīran ṭayyiban mubārakan fīh. Allāhumma lā uḥṣī ṡanā'an 'alaīka anta kamā aṡnaīta 'alā nafsik. Allāhumma ilaīka afaḍtu wa min 'ażābika asyfaqtu wa ilaīka raghibtu wa minka rahibtu, faqbal nusukī wa a'ẓim ajrī warḥam taḍarru'ī waqbal taūbatī wa aqil 'aṡratī wastajib da'watī wa a'ṭinī su'lī. Allāhumma rabbanā taqabbal minnā wa lā taj'alnā minal-mujrimīn, wa adkhilnā fī 'ibādikaṣ-ṣāliḥīna yā arḥamar-rāḥimīn.
Artinya: "Segala puji bagi Allah, pujian yang banyak lagi baik dan membawa berkat di dalamnya. Ya Allah, sekali-kali kami tidak mampu menghitung pujian untuk-Mu, sesuai pujian-Mu atas diri-Mu. Ya Allah, hanya kepada-Mu aku berserah diri, dari siksa-Mu aku mohon belas kasihan, dan terhadap rahmat-Mu aku berharap dan atas azab-Mu aku takut. Terimalah ibadahku, perbesarlah pahalaku, sayangilah kerendahan hatiku, terimalah taubatku, perkecilah kekeliruanku, perkenankanlah permohonanku dan berikanlah permintaanku. Ya Allah kabulkanlah doa kami, dan jangan Engkau jadikan kami orang-orang yang berdosa, tetapi masukkanlah kami dalam hamba-Mu yang saleh wahai Tuhan Yang Paling Pengasih."
Baca juga: Doa-doa yang Dianjurkan Selama Armuzna |
(inf/inf)












































Komentar Terbanyak
Wamenhaj Dahnil Anzar Nilai Presiden Prabowo Layak Jadi Bapak Haji Indonesia
Secara Hisab, Idul Adha 1447 H Jatuh pada 27 Mei 2026
Keutamaan Puasa Tarwiyah dan Arafah Sebelum Idul Adha