Menitipkan doa kepada kerabat atau sahabat yang hendak berangkat ke Tanah Suci sudah menjadi tradisi di tengah masyarakat kita. Banyak yang berharap agar hajatnya dipanjatkan di depan Ka'bah, tempat yang diyakini sebagai maqam yang mustajab.
Namun, bagaimana sebenarnya etika dan hukum mengenai hal ini agar tidak menjadi beban bagi jemaah?
Hukum Titip Doa Kepada Orang yang Naik Haji
Secara hukum asal, meminta doa atau menitipkan doa kepada orang yang melaksanakan ibadah haji dan umrah adalah diperbolehkan. Hal ini ditegaskan oleh Buya Yahya dalam kajiannya yang berjudul "Bolehkah Titip Do'a ke Jamaah Haji agar Dibacakan di Depan Ka'bah" di kanal YouTube Al-Bahjah TV.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Buya Yahya menjelaskan bahwa Nabi Muhammad SAW sendiri pernah melakukan hal serupa. Ketika Sayyidina Umar bin Khattab hendak melaksanakan umrah atau haji, Nabi SAW bersabda: "Bawa aku dalam doamu." Ini menunjukkan bahwa meminta didoakan oleh orang yang sedang beribadah di tanah suci adalah hal yang memiliki landasan.
Meskipun boleh, Buya Yahya memberikan catatan penting agar kita tidak merepotkan jemaah haji. Menitipkan doa sebaiknya dilakukan secara lisan dan sederhana, bukan dengan memberikan daftar doa yang sangat panjang (tekstual).
"Minta doa boleh... tapi jangan repotkan, doanya satu gembok begitu, tidak kebaca nanti bingung. Serahkan suruh doain gitu saja. Kalau suruh baca (kertas), tidak harus seperti itu, ngerepoti itu," ujar Buya Yahya.
Beliau mengingatkan bahwa jika satu orang menitipkan daftar doa yang panjang, bayangkan jika ada seribu orang melakukan hal yang sama. Hal ini tentu akan membebani konsentrasi dan waktu ibadah sang jemaah di sana. Cukup minta didoakan secara umum, misalnya agar selamat atau agar bisa menyusul ke Makkah.
Jangan Minta Oleh-oleh Pada Orang yang Naik Haji
Selain masalah doa, Buya Yahya menekankan agar kita berhenti pada budaya menitipkan barang atau meminta oleh-oleh kepada jemaah haji.
Karena hal ini akan merepotkan jemaah haji. Misalnya soal beban bagasi. Meminta satu sajadah mungkin terasa ringan bagi kita, tapi jika sepuluh orang meminta hal yang sama, tas jemaah akan penuh dan berat.
Masalah lainnya adalah adanya risiko kebohongan. Budaya "penitipan" ini seringkali memaksa jemaah berada di posisi sulit. Jika tidak dibelikan merasa tidak enak, namun jika dibelikan terasa berat. Akhirnya, banyak jemaah yang terpaksa berbohong dengan alasan lupa atau tidak sempat karena merasa terbebani.
Sebagai bentuk dukungan kepada orang yang berangkat haji, Buya Yahya menyarankan agar kita justru memberikan bekal atau uang kepada mereka, bukan malah meminta.
"Jangan minta hadiah, minta doa selesai. Kemudian Anda kasih duit. Kami ingin menghilangkan budaya gampang orang minta," tegas beliau.
Jika jemaah tersebut memberi hadiah atas inisiatif mereka sendiri saat pulang, maka terimalah. Namun, memesan barang sebelumnya sangat tidak dianjurkan karena bisa merusak ketenangan ibadah mereka di Tanah Suci.
Wallahu a'lam.
(hnh/inf)












































Komentar Terbanyak
Kecam Israel Atas Gugurnya Prajurit TNI di Lebanon, MUI Minta RI Ambil Langkah Diplomatik
Dubes Saudi: Serangan Iran ke Negara Teluk Berdampak pada Solidaritas Umat Islam
Prajurit TNI Gugur di Lebanon, DPR Desak Pemerintah Lakukan Investigasi