Boyolali
-
Tiap jelang Ramadhan, warga desa di Sidorejo, Ginting, Cepogo, Boyolali, sibuk menggelar sadranan. Sadranan ini dipenuhi toleransi dalam beragama.
Galeri Hikmah
Toleransi Beragama Hiasi Tradisi Sadranan di Boyolali
Sejumlah warga membawa tenong berisi makanan melintas di dekat Gereja Jemaat Kristen Indonesia (GJKI) Korin Efata saat Tradisi Sadranan di Sidorejo, Ginting, Cepogo, Boyolali, Jawa Tengah, Sabtu (11/3/2023).
Kegiatan tradisi yang dilakukan oleh masyarakat setempat dari berbagai ragam keyakinan itu untuk mendoakan para leluhur yang telah meninggal dunia bersama sehingga terwujud kebersamaan dalam keberagaman keyakinan.
Menurut warga setempat, Sadranan di Desa Sukabumi diperkirakan sudah ada sejak sekitar tahun 1.500.
Sadranan pada bulan Syaban atau Ruwah juga dimaknai sebagai bulan arwah, masa untuk mendoakan para leluhur. Awalnya tradisi sadranan hanya digelar sederhana. Kini menu dalam sadranan sudah bervariasi meski tak ada pakem khusus untuk jenis makanan yang harus dibawa ke makam.












































Komentar Terbanyak
Gus Yaqut Jadi Tersangka Dugaan Korupsi, Ketum PBNU: Serahkan ke Proses Hukum
MUI Soroti Pasal Nikah Siri dan Poligami dalam KUHP Baru
Ada Aduan Penggelapan Dana Haji Furoda 2025, Kemenhaj Panggil Pihak Travel