Keberkahan hidup seseorang tak pernah lepas dari doa dan rida orang-orang yang telah membekalinya ilmu dan kebaikan. Orang tua menjadi wasilah hadirnya raga ke dunia yang selalu mencurahkan kasih sayangnya. Guru dan kiai menjadi lentera tambahan yang membimbing raga tersebut mendapatkan ilmu yang bermanfaat.
Berkat kesabaran dan ketulusan mereka, lahirlah generasi sosok penerus yang cerdas dan berakhlak. Dalam Islam, manusia diajarkan untuk saling membalas kebaikan yang diberikan, begitupun dari anak untuk orang tua dan gurunya. Balasan paling baik yang bisa diberikan kepada mereka adalah dengan memanjatkan doa.
Doa untuk Orang Tua, Guru, dan Kiai
Doa Memohon Ampunan Guru
Mengutip buku Dunia Santri Ladang Guru Menyemai Generasi Berprestasi karya M. Rusli Nasir, terdapat catatan kaki kitab Risalah al-Mustarsyidin yang ditulis oleh Syekh Abdul Fattah Abu Guddah tentang doa memohon ampunan bagi guru-gurunya:
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
اَللَّهُمَّ اغْفِرْ لِمَشَايِخِنَا وَلِمَنْ عَلَّمَنَا وَارْحَمْهُمْ، وَأَكْرِمْهُمْ بِرِضْوَانِكَ الْعَظِيْمِ، فِي مَقْعَد الصِّدْقِ عِنْدَكَ يَا أَرْحَمَ الرَّاحِمِيْنَ
Allahummaghfir limasyayikhina wa liman 'allamana warhamhum wa akrimhum biridlwanikal 'azhim fi maq'adish shidqi 'indaka ya arhamarrahimin
Artinya: "Wahai Allah ampunilah guru-guru kami dan orang yang telah mengajar kami. Sayangilah mereka, muliakanlah mereka dengan keridhaan-Mu yang agung, di tempat yang disenangi di sisi-Mu, wahai Yang Maha Penyayang di antara penyayang."
Doa Memohon Menutupi Aib Guru
Merujuk pada buku Berkah Pena Bertinta Emas karya Zainal Ilmi, berikut bacaan doa untuk guru:
اَللَّهُمَّ اسْتُرْ عَيْبَ مُعَلِّمِي عَنِّي وَلَا تُذْهِبْ بَرَكَةَ عِلْمِهِ مِنِّي
Allahummastur 'aiba mu'allimi 'anni wala tudzhib barakata 'ilmihi minni
Artinya: "Ya Allah tutupilah aib guruku dariku, dan janganlah kau hilangkan keberkahan ilmunya dariku."
Doa untuk Orang yang Telah Berjasa
اللَّهُمَّ اغْفِرْ لِلْمُسْلِمِيْنَ وَالْمُسْلِمَاتِ وَالْمُؤْمِنِيْنَ وَالْمُؤْمِنَاتِ الأَحْيَاءِ مِنْهُمْ وَالأَمْوَاتِ مِنْ مَشَارِقِ الْاَرْضِ إِلَى مَغَارِبِهَا بَرِّهَا وَبَحْرِهَا، خُصُوْصًا إِلَى آبَاءِنَا وَاُمَّهَاتِنَا وَأَجْدَادِنَا وَجَدَّاتِنَا وَأَسَاتِذَتِنَا وَمُعَلِّمِيْنَا وَلِمَنْ أَحْسَنَ إِلَيْنَا وَلِأَصْحَابِ الحُقُوْقِ عَلَيْنَا
Allahummaghfir lilmuslimina wal muslimat, wal mukminina wal mukminat, al-ahya'i minhum wal amwat, min masyariqil ardhi ila magharibiha, barriha wa bahriha, khushashan ila aba'ina, wa ummahatina, wa ajdadina, wa jaddarina, wa asatidzatina, wa mu'allimina, wa liman ahsana ilaina, wa li ashhabil huquqi 'alayna.
Artinya: "Ya Allah, ampunilah mukminin, mukminat, muslimin, muslimat, yang masih hidup, yang telah wafat, yang tersebar dari timur hingga barat, di darat dan di laut, khususnya bapak, ibu, kakek, nenek, ustadz, guru, mereka yang telah berbuat baik terhadap kami, dan mereka yang masih memiliki hak terhadap kami."
Doa Memohon Ampunan dan Kasih Sayang
Merujuk buku Proyek Kehidupan Sesuai Ketentuan Al-Qur'an karya Aziz Amnan, doa ini adalah doa yang paling umum dipanjatkan:
اَللّهُمَّ اغْفِرْلِيْ وَلِوَالِدَيَّ وَارْحَمْهُمَا كَمَا رَبَّيَانِيْ صَغِيْرَا
Allāhummaghfirlī wa liwālidayya warhamhumā kamā rabbayānī shaghīrā.
Artinya: "Wahai Tuhanku, ampunilah aku dan kedua orang tuaku (ibu dan bapakku), sayangilah mereka seperti mereka menyayangiku waktu aku kecil."
Doa ini merupakan versi pendek dari doa sebelumnya yang tercantum dalam Al-Qur'an surah Al-Isra' ayat 24:
رَّبِّ ارْحَمْهُمَا كَمَا رَبَّيٰنِيْ صَغِيْرًا
Rabbirhamhumā kamā rabbayānī shaghīrā.
Artinya: "Wahai Tuhanku, sayangilah keduanya sebagaimana mereka berdua mendidik aku pada waktu kecil."
Doa Memohon Ampun untuk Diri Sendiri, Orang Tua, dan Keluarga
Doa ini terdapat dalam surah Nuh ayat 28:
رَبِّ اغْفِرْ لِيْ وَلِوَالِدَيَّ وَلِمَنْ دَخَلَ بَيْتِيَ مُؤْمِنًا وَّلِلْمُؤْمِنِيْنَ وَالْمُؤْمِنٰتِ ۗ وَلَا تَزِدِ الظّٰلِمِيْنَ اِلَّا تَبَارًاࣖ
Rabbighfir lî wa liwâlidayya wa liman dakhala baitiya mu'minaw wa lil-mu'minîna wal-mu'minât, wa lâ tazididh-dhâlimîna illâ tabârâ
Artinya: "Ya Tuhanku, ampunilah aku, ibu bapakku, dan siapa pun yang memasuki rumahku dengan beriman dan semua orang yang beriman laki-laki dan perempuan. Janganlah Engkau tambahkan bagi orang-orang zalim itu selain kehancuran."
Adab Murid kepada Guru
Mengutip buku Membina Pelajar Cemerlang: Evolusi Pembelajaran Sepanjang Hayat karya Tajul Ariffin Noordin, terdapat beberapa adab seorang murid kepada guru yang dijelaskan oleh Imam Ghazali dalam kitab Bidayatul Hidayah, di antaranya:
- Memberi salam dan hormat
- Tidak banyak berbicara di hadapannya
- Tidak berkata mengenai perkara yang tidak ditanya oleh guru
- Tidak bertanya sebelum guru yang mengizinkan
- Jangan berhujah menentang pendapat guru dengan tujuan menunjukkan diri lebih tahu
- Jangan bercakap-cakap mengenai perkara lain dengan kawan-kawan selama guru mengajar
- Jangan bersoal jawab terlalu banyak ketika guru penat
- Jangan mengajukan percakapan guru dan pertanyaannya
- Jangan bersangka buruk kepada guru
- Jangan bertanya kepada guru ketika beliau masih di jalanan
(inf/inf)
