Israel menutup Masjid Ibrahimi di kota Hebron, Tepi Barat bagi jemaah muslim. Mereka beralasan penutupan ini bertujuan mengamankan perayaan hari raya Yahudi oleh para pemukim.
Dilansir Anadolu Agency, penutupan itu berlangsung pada Rabu (16/9) hingga Kamis (17/9) malam ini.
Kementerian Wakaf dan Urusan Agama Palestina dalam sebuah pernyataan mengecam penutupan itu serta mendesak lembaga-lembaga internasional dan hak asasi manusia untuk turun tangan menjamin kebebasan akses masjid bagi muslim. Menurut mereka, tindakan Israel telah masuk pada pelanggaran sistematis terhadap masjid.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Direktur Masjid Ibrahimi Motasem Abu Sneineh mengatakan penutupan itu bagian dari eskalasi yang kian berlanjut serta upaya merebut bagian masjid yang tersisi. Dia menegaskan Masjid Ibrahimi adalah situs eksklusif Islam, mencakup seluruh aula dan halamannya.
Motasem juga menuturkan aksi yang dilakukan Israel termasuk serangan terang-terangan terhadap kebebasan beribadah yang dijamin oleh konvensi internasional.
Pasukan Israel juga memperketat langkah-langkah keamanan di sekitar masjid serta menutup pos pemeriksaan dan gerbang elektronik yang menuju ke sana. Para siswa dan staf pengajar di Sekolah Dasar Putra Ibdahimi dan Sekolah Dasar Putri Al-Fayhaa terhambat aksesnya.
Menurut laporan kantor berita Palestina (WAFA), langkah-langkah itu menghentikan total kegiatan belajar mengajar di sekolah Ibrahimi dan mengganggu proses pendidikan di sekolah Al-Fayhaa.
Masjid Ibrahimi sendiri terletak di Kota Tua Hebron dan berada di bawah kendali penuh Israel. Di sana terdapat sekitar 400 pemukim tinggal di bawah perlindungan sekitar 1.500 tentara Israel.
Pada 1994, Israel membagi masjid tersebut dengan mengalokasikan 63 persen wilayahnya bagi umat Yahudi dan 37 persen bagi umat Islam, menyusul pembantaian yang dilakukan oleh seorang pemukim Israel yang menewaskan 29 jemaah muslim Palestina.
