Doa qunut Subuh adalah bacaan yang diamalkan ketika iktidal setelah rukuk pada rakaat kedua salat Subuh. Qunut sendiri diartikan sebagai berdiri, tunduk, taat, diam, dan doa.
Menurut buku Fiqih Shalat Terlengkap susunan Ibnu Abbas Zain Musthofa Al Basuruwani, imam Syafi'i dan Maiki berpendapat hukumnya sunnah membaca doa qunut Subuh. Sementara itu, mazhab Hanafi berpandangan doa qunut Subuh tidak disunnahkan dibaca.
Dalil rujukan mazhab Syafi'i terkait hukum qunut Subuh yaitu dari Anas bin Malik RA:
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Rasulullah SAW senantiasa membaca qunut ketika salat Subuh hingga beliau wafat." (HR Ahmad)
Apakah Doa Qunut Subuh Imam dan Makmum Berbeda?
Mengacu pada sumber yang sama, doa qunut Subuh imam dan makmum berbeda. Perbedaannya terletak pada frasa individu yang diubah menjadi ungkapan jamak bagi imam.
Umumnya, doa qunut Subuh berjemaah biasa dibaca imam. Makruh bagi imam membaca doa untuk diri sendiri karenanya diubah menjadi frasa jamak.
Rasulullah SAW bersabda dalam sebuah hadits:
"Janganlah seorang hamba mengimami suatu kaum lalu ia mengkhususkan bagi dirinya suatu doa, sedangkan bagi mereka tidak. Jika ia melakukan hal itu, berarti ia berbuat khianat terhadap mereka." (HR Tirmidzi)
Doa Qunut Subuh untuk Imam
Pada doa qunut Subuh berjamaah, imam mengubah lafal "ihdinii" (berilah aku petunjuk) menjadi "ihdina" (berilah kami petunjuk). Kata ganti "ni" (aku) diubah menjadi "na" yang artinya kami.
Jadi, pada bacaan اَللّهُمَّ اهْدِنِىْ (Allahummahdini) menjadi اَللّٰهُمَّ اهْدِنَا (Allahummahdina) yang artinya "Ya Allah berilah kami petunjuk" jika berjamaah. Berikut bacaannya,
لَّلهُمَّ اهْدِنَا فِيْمَنْ هَدَيْتَ وَعَافِنَا فِيْمَنْ عَافَيْتَ وَتَوَلَّنَا فِيْمَنْ تَوَلَّيْتَ وَبَارِكْ لَنَا فِيْمَا أَعْطَيْتَ وَقِنَا بِرَحْمَتِكَ شَرَّ مَا قَضَيْتَ فَإِنَّكَ تَقْضِي وَلَا يُقْضَى عَلَيْكَ وَإِنَّهُ لَا يَذِلُّ مَنْ وَالَيْتَ وَلَا يَعِزُّ مَنْ عَادَيْتَ تَبَارَكْتَ رَبَّنَا وَتَعَالَيْتَ فَلَكَ الْحَمْدُ عَلَى مَا قَضَيْتَ نَسْتَغْفِرُكَ وَنَتُوْبُ إِلَيْكَ وَصَلَّى اللهُ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ النَّبِيِّ الْأُمِّيِّ وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ وَسَلَّمَ
Allahummahdinaa fiiman Hadait, wa 'aafina fiiman 'aafait, wa tawallanaa fiiman tawallait, wa baarik lanaa fiimaa a'thait, wa qinaa birahmatika syarra maa qadhait, fainnaka taqdhi wala yuqdha 'alaik, wa innahu la yadzillu man waalait, wala ya'izzu man 'aadait tabaarakta Rabbana wa ta'aalait, falakal hamdu 'alaa maa qadhait, Nastaghfiruka wa natuubu ilaik, wa shallallaahu 'alaa Sayyidina Muhammadinil ummiyyi wa 'ala Aalihi wa shahbihi wasallam.
Artinya: "Ya Allah berikanlah kami petunjuk sebagaimana mereka yang telah Engkau berikan petunjuk. Dan berilah kami kesehatan sebagaimana mereka yang telah Engkau berikan kesehatan. Dan peliharalah kami sebagaimana orang-orang yang telah Engkau pelihara. Berilah keberkahan kepada kami pada apa-apa yang telah Engkau kurniakan. Dan selamatkan kami (dengan rahmat Allah) dari bahaya yang telah Engkau tetapkan. Dan sesungguhnya Engkaulah yang Maha Menghukumi dan tidak ada yang bisa menghukum-Mu. Dan sesungguhnya tidak hina orang yang Engkau pimpin. Dan tidak mulia orang yang Engkau musuhi. Maha Suci Engkau wahai Tuhan kami dan Maha Tinggi. Maka bagi-Mu lah segala pujian di atas apa yang Engkau hukumkan. Dan kami memohon ampun dari-Mu dan kami bertaubat kepada-Mu. Dan semoga Allah mencurahkan rahmat ke atas junjungan kami Nabi Muhammad yang ummi, keluarga dan para sahabatnya."
Doa Qunut Subuh untuk Makmum
اَللّٰهُمَّ اهْدِنَا فِيْمَنْ هَدَيْتَ
Allahhummahdinaa fiiman hadait (imam)
'Aamiin' (jamaah)
وَعَافِنَا فِيْمَنْ عَافَيْتَ
Wa'a finaa fiman 'aafait (imam)
'Aamiin' (jamaah)
وَتَوَلَّنَا فِيْمَنْ تَوَلَّيْت
Wa tawallanana fiiman tawal-laiit (imam)
'Aamiin' (jamaah)
وَبَارِكْ لَنَا فِيْمَا اَعْطَيْتَ
Wa baarik lana fiimaa a'thait (imam)
'Aamiin' (jamaah)
وَقِنَابِرَحْمَتِكَ شَرَّمَا قَضَيْتَ
Wa qinaa birahmatika syarra maa qadhait. (Imam)
'Aamiin' (jamaah)
Sisanya dibaca sendiri oleh makmum.
Bagaimana Jika Imam Tidak Membaca Doa Qunut?
Menurut Buya Yahya dalam ceramahnya, meski qunut Subuh tidak dibaca oleh imam maka salat makmum tetap sah. Selain itu, jika makmum ingin membaca juga boleh.
"Anda ndak usah ragu, aku mazhab Syafi'i dianjurkan (qunut), disunnahkan saya qunut, Anda tetap qunut di belakangnya imam. Di saat imam rukuk, Anda menyusul di belakangnya. Anda tidak menyalahkan imamnya, Anda bisa menjalankan sesuai dengan mazhab Anda," ujarnya dalam YouTube Al Bahjah TV. detikHikmah telah mendapat izin mengutip channel tersebut.
Ulama asal Blitar itu menyebut bisa jadi imam salat menganut mazhab Hanafi sehingga tidak membaca doa qunut Subuh.
"Yang tidak qunut pun sah salatnya. Anda bermakmum dengan orang yang tidak pakai qunut salat Anda juga sah," ujarnya menjelaskan.
Doa Qunut Subuh Sendiri
اَللّٰهُمَّ اهْدِنِىْ فِيْمَنْ هَدَيْتَ, وَعَافِنِى فِيْمَنْ عَافَيْتَ, وَتَوَلَّنِىْ فِيْمَنْ تَوَلَّيْتَ, وَبَارِكْ لِىْ فِيْمَا اَعْطَيْتَ, وَقِنِيْ شَرَّمَا قَضَيْتَ, فَاِنَّكَ تَقْضِىْ وَلاَ يُقْضٰى عَلَيْكَ , وَاِ نَّهُ لاَ يَذِلُّ مَنْ وَالَيْتَ ,وَلاَ يَعِزُّمَنْ عَادَيْتَ, تَبَارَكْتَ رَبَّنَا وَتَعَالَيْتَ, فَلَكَ الْحَمْدُ عَلَى مَا قَضَيْتَ ,اَسْتَغْفِرُكَ وَاَتُوْبُ اِلَيْكَ ,وَصَلَّى اللهُ عَلَى سَيِّدَنَا مُحَمَّدٍ النَّبِيِّ اْلاُمِّيِّ, وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ وَسَلَّمَ
Allaahumahdinii fiiman Hadait, wa 'aafinii fiiman 'aafait, wa tawallani fiimantawallait, wa baariklii fiimaaa a'thait, wa qini syarramaa qadhait, Fainnakataqdhi walayuqdha 'alaik, wa innahu layadzillu mawwalait, wa la ya idzuman aadait, Tabarakta-Rabbanaa wata 'aalait, Falakal hamdu 'ala-maa qadhait, Astagfiruka wa atuubu ilaik, Wa shallallahu 'ala Sayyidinaa Muhammadin Nabiyyil Ummiyyi wa 'ala Aalihi wa shahbihi wasallam.
Artinya: "Ya Allah berikanlah aku petunjuk sebagaimana mereka yang telah Engkau berikan petunjuk. Dan berikanlah aku kesehatan sebagaimana mereka yang telah Engkau berikan kesehatan. Dan peliharalah aku sebagaimana orang-orang yang telah Engkau pelihara. Berilah keberkahan bagiku pada apa-apa yang telah Engkau karuniakan. Dan selamatkan aku (dengan rahmat Allah) dari bahaya yang telah Engkau tetapkan. Dan sesungguhnya Engkaulah yang Maha Menghukumi dan tidak ada yang bisa menghukum-Mu. Dan sesungguhnya tidak hina orang yang Engkau pimpin. Dan tidak mulia orang yang Engkau musuhi. Maha Suci Engkau wahai Tuhan kami dan Maha Tinggi. Maka bagi-Mu lah segala pujian di atas apa yang Engkau hukumkan. Dan aku memohon ampun dari-Mu dan aku bertaubat kepada-Mu. Dan semoga Allah mencurahkan rahmat ke atas junjungan kami Nabi Muhammad yang ummi, keluarga dan para sahabatnya."

Komentar Terbanyak
Ramai Keluhan soal Tahlilan, Begini Penjelasan soal Jamuan di Rumah Duka
BEM Psikologi UI Sebut Homoseksual Bukan Penyimpangan, MUI Sentil Moral Kampus
Bukan Muslim, 5 Karakter Cristiano Ronaldo Ini Justru Sesuai Syariat Islam