Para penduduk surga disebut akan saling berkunjung dan berbincang tentang nikmat dan syukur yang mereka dapatkan. Ada yang menyebut penduduk surga berkomunikasi dengan bahasa Arab, benarkah?
Percakapan penduduk surga disebutkan dalam sejumlah ayat Al-Qur'an. Salah satunya dalam surah As-Saffat ayat 50:
فَاَقْبَلَ بَعْضُهُمْ عَلٰى بَعْضٍ يَّتَسَاۤءَلُوْنَ ٥٠
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Artinya: "Mereka berhadap-hadapan satu sama lain sambil bercakap-cakap."
Menurut Tafsir Ibnu Katsir, ayat tersebut menjelaskan para penduduk surga saling berhadapan dan bercakap-cakap. Mereka membicarakan kehidupan dan penderitaan mereka semasa hidup di dunia. Perbincangan ini berlangsung di tempat mereka minum, berkumpul, dan bergaul dengan ahli surga lainnya sambil duduk di atas takhta-takhta kebesaran.
Ada sebuah hadits yang menyebut para penduduk surga berbicara dengan bahasa Arab. Begini bunyinya:
احِبُّوا العرب لِثَلَاثِ الإِني عَرَبِي ، وَالْقُرْآنَ عَرَبِي وَكَلَامَ اهْلِ الْجَنَّةِ عَرَبِي
Artinya: "Cintailah bangsa Arab karena tiga hal. Karena aku orang Arab, karena Al-Qur'an berbahasa Arab, dan karena bahasa penghuni surga adalah bahasa Arab."
Derajat Hadits Bahasa Surga Adalah Bahasa Arab
Menurut penelusuran detikHikmah, hadits yang menyebut bahasa penduduk surga adalah bahasa Arab statusnya maudhu' atau palsu. Hadits maudhu' adalah tingkatan terendah yang haram digunakan sebagai hujjah atau disebarluaskan.
Hadits tersebut diriwayatkan al-Hakim dalam kitabnya al-Mustadrak 'alash-Shahihaini dan dalam kitab Ma'rifat Ulumul Haditsi. Hadits tersebut juga diriwayatkan Uqaili dalam adh-Dhu'afa dan at-Thabrani dalam al-Kabir.
Pakar hadits Syekh Al-Albani memasukkan hadits tersebut dalam Silsilatul-Ahaadiits adh-Dhaifah wal-Maudhu'ah wa Atsaruhas-Sayyi' fil-Ummah, hadits nomor 160. Al-Albani menilai hadits tersebut memiliki tiga kelemahan dalam sanadnya.
"Menurut saya, sanad hadits tersebut maudhu' dan mempunyai tiga kelemahan. Pertama, dalam sanadnya terdapat Ala bin Amr yang oleh Ibnu Hibban dinyatakan semua riwayatnya tidak boleh dijadikan dalil. Adz-Dzahabi dalam al-Mizan berkata bahwa seluruh riwayatnya ditinggalkan dan tidak diterima oleh pakar hadits. Kedua, terdapat nama Yahya bin Yazid dalam sanadnya," jelas Al-Albani seperti diterjemahkan A.M. Basalamah.
Menurut Imam Ahmad bin Hanbal, kata Al-Albani, Yahya bin Zaid adalah dhaif. Selain itu, dalam sanadnya terdapat Ibnu Juraij yang dikenal sebagai tukang campur aduk sanad.
Ath-Thabrani dalam al-Awsath turut meriwayatkan hadits serupa dari Sa'adah bin Sa'ad, dari Ibrahim bin al-Mundzir, dari Abdul Aziz bin Imran, dari Syibl bin al-Ala, dari ayahnya, dari kakeknya, dari Abu Hurairah RA. Begini bunyinya:
انا عربي والقُرآنُ عَرَبِي وَلِسَانُ أَهْلِ الْجَنَّةِ عَرَبِي
Artinya: "Aku orang Arab, Al-Qur'an berbahasa Arab, dan bahasa ahli surga adalah bahasa Arab."
Al-Albani juga mengatakan hadits tersebut maudhu'. Para pakar hadits menyebut Syibl bin al-Ala (salah satu perawinya) meriwayatkan hadits munkar dan Abdul Aziz bin Imran (perawi lainnya) riwayatnya ditinggalkan oleh pakar hadits karena dinilai bukan perawi tsiqah (punya kredibilitas tertinggi dalam ilmu hadits).
Wallahu a'lam.
(kri/erd)

Komentar Terbanyak
BEM Psikologi UI Sebut Homoseksual Bukan Penyimpangan, MUI Sentil Moral Kampus
Kemenag Tanggapi Hoaks Bolehkan Korupsi Asal Sesuai Syariat
MUI Minta Koruptor Dihukum Mati, Jangan Berlindung di Balik HAM