8 Ceramah Singkat Islam tentang Kesabaran dalam Kehidupan

8 Ceramah Singkat Islam tentang Kesabaran dalam Kehidupan

Salsa Dila Fitria Oktavianti - detikHikmah
Jumat, 08 Mei 2026 06:30 WIB
8 Ceramah Singkat Islam tentang Kesabaran dalam Kehidupan
Ilustrasi Ceramah Agama. Foto: Raka Dwi Wicaksana/Unsplash
Jakarta -

Ceramah singkat Islam tentang kesabaran menjadi salah satu tema yang sering disampaikan dalam berbagai kesempatan, seperti kultum, khutbah, maupun kajian keislaman. Kesabaran merupakan akhlak mulia yang memiliki kedudukan penting dalam ajaran Islam.

Dalam Al-Qur'an dan hadits, terdapat banyak penjelasan mengenai pentingnya bersabar dalam menghadapi berbagai ujian kehidupan. Oleh karena itu, materi ceramah tentang kesabaran kerap dijadikan sebagai pengingat bagi umat Islam dalam menjalani kehidupan sehari-hari.

Kumpulan Ceramah Tentang Sabar

Dikutip dari buku Kumpulan Kultum Terlengkap Sepanjang Tahun oleh Dr. Hasan el Qudsy, buku Bunga Rampai Materi Kuliah Tujuh Menit (Kultum) oleh DR. H. A. Rusdiana, dan buku 60 Tema Kultum Ramadhan Kontemporer oleh Prof. Dr. Achmad Kholiq, berikut kumpulan ceramah tentang sabar.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Ceramah 1: Sabar Menghadapi Masalah

Assalamu'alaikum warahmatullahi wabarakatuh.

Kaum muslimin yang dirahmati Allah, kehidupan tidak pernah lepas dari ujian. Rasa takut, kekurangan, dan kehilangan sering kali datang silih berganti.

ADVERTISEMENT

Pada kesempatan ini, mari bersama memahami bagaimana Islam mengajarkan kita untuk bersabar dalam menghadapi setiap masalah yang Allah berikan.

وَلَنَبْلُوَنَّكُمْ بِشَيْءٍ مِّنَ الْخَوْفِ وَالْجُوعِ وَنَقْصٍ مِّنَ الْأَمْوَالِ وَالْأَنْفُسِ وَالثَّمَرَاتِ وَبَشِّرِ الصَّابِرِينَ


Allah berfirman, "Dan sungguh akan Kami berikan cobaan kepadamu, dengan sedikit ketakutan, kelaparan, kekurangan harta, jiwa dan buah-buahan. Dan berikanlah berita gembira kepada orang-orang yang sabar." (al-Baqarah: 155).

Kaum muslimin yang berbahagia,

Ayat yang baru kita dengar tadi, terdapat dalam Al-Qur'an juz ke-2, tepatnya pada surat al-Baqarah, ayat ke-155. Ayat ini menjelaskan bahwa musibah adalah sesuatu yang mutlak akan dialami oleh manusia dalam menjalani kehidupannya.

Pengertian musibah secara mudah dapat diartikan sebagai segala sesuatu atau kondisi yang tidak menyenangkan bagi seseorang, baik secara fisik maupun mental, materi maupun non materi.

Setiap musibah atau cobaan yang diterima manusia tidak lepas dari tiga kondisi. Pertama, musibah sebagai sarana ujian untuk meningkatkan kualitas keimanan seseorang. Misalnya yang menimpa para utusan dan kekasih Allah. Kedua, sebagai sarana peringatan dan introspeksi diri atas berbagai kelalaian dan kemaksiatan yang dilakukan seorang mukmin. Dan ketiga, sebagai azab yang ditimpakan kepada orang kafir.

Jamaah yang dimuliakan Allah,

Dikisahkan bahwa seorang tabiin bernama 'Urwah bin Zubair, Allah takdirkan salah satu kakinya harus diamputasi. Untuk menghilangkan rasa sakit, ditawarkan kepadanya untuk minum arak. Namun dia menolak. Sehabis dipotong, dihadirkanlah kakinya kepadanya. Tidak terlihat darinya kesedihan, namun tiba-tiba 'Urwah menangis. Orang yang menyaksikan sejak awal itu berkomentar,

"Kami semula begitu merasa bangga dengan ketegaran Anda, lalu kenapa Anda kini menangis?" Beliau menjawab, "Demi Allah, hanya Allah yang Mahatahu. Saya bukan menangis karena hilangnya satu kaki saya, yang hakikatnya milik Allah, tapi saya menangis karena kekhawatiran, apakah dengan kaki yang hanya tinggal satu ini saya masih bisa beribadah dengan sempurna kepada Allah?"

Siang hari dia menjalani operasi amputasi, malamnya salah satu dari tujuh orang anaknya meninggal dunia. Ketika berita duka ini disampaikan, beliau berkata, "Saya belum bisa bangkit dari tempat tidur ini, karenanya tolong urus jenazahnya."

Sebelum dikuburkan, dia meminta supaya jenazah anaknya diperlihatkan kepadanya. Ketika jenazah putranya disodorkan kepadanya, ia pun memegang jenazah anaknya sambil mengusap kepalanya dan berdoa,

"Ya Allah, alhamdulillah, Engkau telah karuniai saya tujuh anak. Mudah-mudahan sebagai ayah mereka, sudah saya laksanakan kewajiban mendidik mereka di jalan yang Engkau ridhai. Ya Allah, sekarang Engkau ambil salah seorang di antara mereka, milik-Mu Ya Allah, bukan milikku. Inna lillahi wa inna ilaihi raji'un, mudah-mudahan Engkau masih memberikan manfaat untuk 6 anak yang masih tersisa."

Demikianlah sikap setiap mukmin dalam menyikapi berbagai cobaan. Ucapan pertama yang meluncur adalah Inna lillahi wa inna ilaihi raji'un,

"Kita berasal dari Allah dan akan kembali kepada Allah." Mengimani segala keputusan dan ketentuan yang telah terjadi adalah sikap yang berhak mendapatkan apresiasi dari Allah, sebagaimana dalam firman-Nya, "Mereka itulah yang mendapat keberkatan yang sempurna dan rahmat dari Tuhan mereka dan mereka itulah orang-orang yang mendapat petunjuk." (al-Baqarah: 157).

Semoga kita termasuk di dalamnya. Amin.

بَارَكَ اللَّهُ لِي وَلَكُمْ فِي الْقُرْآنِ الْعَظِيمِ، وَهَدَانَا وَإِيَاكُمْ إِلَى صِرَاطٍ مُسْتَقِيمٍ، وَنَفَعَنِي وَإِيَّاكُمْ بِالْآيَاتِ وَالذِّكْرِ الْحَكِيمِ

Ceramah Ke-2: Sabar Menghadapi Cobaan Hidup di Dunia

Assalamu'alaikum warahmatullahi wabarakatuh.

Kaum muslimin wal muslimat yang berbahagia, kehidupan di dunia sejatinya adalah tempat ujian. Tidak ada satu pun manusia yang terlepas dari cobaan.

Pada kesempatan ini, mari memahami hakikat ujian tersebut dan bagaimana sikap sabar menjadi kunci dalam menjalaninya.

الَّذِي خَلَقَ الْمَوْتَ وَالْحَيَاةَ لِيَبْلُوَكُمْ أَيُّكُمْ أَحْسَنُ عَمَلًا وَهُوَ الْعَزِيزُ الْغَفُورُ

"Yang menjadikan mati dan hidup, supaya dia menguji kamu, siapa di antara kamu yang lebih baik amalnya. Dan dia Mahaperkasa lagi Maha Pengampun." (al-Mulk: 2).

Kaum muslimin wal muslimat yang berbahagia,

Dunia ini, sebagaimana dijelaskan dalam ayat yang kita baca tadi, adalah sebagai tempat ujian keimanan seseorang. Iman seseorang kadang diuji dengan berbagai cobaan.

Cobaan itu sudah pasti berupa sesuatu yang tidak menyenangkan, misalnya musibah, kemiskinan, sakit, dan kegagalan. Ketika menghadapi cobaan semacam itu, lebih-lebih zaman sekarang yang semuanya diukur dengan kacamata materi, banyak orang yang jatuh, bahkan mereka tidak segan menjual keyakinannya demi materi atau kedudukan.

Banyak kasus ditemui, sebuah kampung yang dulunya mayoritas berpenduduk muslim, namun dengan adanya gerakan kristenisasi, banyak orang yang pindah agama, karena diiming-imingi sembako.

Sikap yang demikian itu merupakan sikap orang yang tidak memiliki keimanan, kecuali seperti orang yang berdiri di atas ujung tebing yang curam, sebagaimana Allah berfirman,

"Dan di antara manusia ada orang yang menyembah Allah dengan berada di tepi (tidak dengan penuh keyakinan). Maka jika ia memperoleh kebajikan, tetaplah ia dalam keadaan itu, dan jika ia ditimpa oleh suatu bencana, berbaliklah ia ke belakang (kembali kafır lagi). Rugilah ia di dunia dan di akhirat. Yang demikian itu adalah kerugian yang nyata." (al-Hajj: 11).

Perlu dipahami bersama bahwa dunia ini dengan segala kenikmatan dan kepiluannya, adalah merupakan penjara bagi orang mukmin. Ini disabdakan oleh Rasulullah, "Dunia itu adalah penjara bagi orang mukmin dan surga bagi orang kafir." (HR. Muslim).

Artinya, kehidupan seorang mukmin di dunia ini bagaikan dalam sebuah penjara. Ia harus mengikuti segala aturan yang ada dalam penjara tersebut. Ia harus menyiapkan bekal yang cukup sebelum keluar dari penjara tersebut agar mendapatkan kebebasan.

Tidak ada kebebasan dan kesenangan yang mutlak, kecuali setelah seseorang masuk ke surga. Seorang mukmin di dunia ini dibebani berbagai kewajiban syariat dan dikekang dari berbagai keinginan syahwatnya. Ketika ia meninggal, ia akan terbebas dari segala beban yang ada di dunia ini menuju janji balasan Allah (Syarh an-Nawawi, 18/93).

Sedangkan bagi orang kafir, dunia ini adalah surga bagi mereka. Apa pun yang mereka inginkan, tidak ada yang mengekangnya. Mereka benar-benar bebas dalam menikmati kehidupan dunia ini.

Namun berbagai kesenangan dan kebebasan yang mereka rasakan di dunia ini, tidak ada artinya dengan siksaan Allah yang sangat pedih di akhirat nanti.

Jamaah yang dimuliakan Allah,

Salah satu tujuan Allah menciptakan kehidupan dan kematian adalah untuk menguji dan memberikan penilaian atas amal seseorang. Balasan di akhirat kelak disesuaikan dengan standar keikhlasan dan ketepatan amal tersebut dengan syariat ajaran Islam.

Oleh karena itu, pada ayat tersebut disebut dengan "yang lebih baik amalnya", bukan dikatakan "yang lebih banyak amalnya". Karena yang menjadi standar diterimanya suatu amalan ibadah adalah bukan banyak sedikitnya, tetapi keikhlasan dan kesesuaiannya dengan tuntunan syariat (Ibnu Katsir, 4/937, al-Alûsi, 29/5). Sedang tujuan utama dari suatu cobaan adalah untuk menampakkan kesempurnaan kebaikan orang-orang yang berbuat baik (asy-Syaukâni, 5/259).

Dengan menyadari tujuan kehidupan seperti itu, seorang mukmin harus mampu memahami bahwa kehidupan di dunia ini tidak ubahnya seorang perantau yang akan kembali ke kampung halamannya.

Seorang perantau yang baik, tentu tahu bahwa ia harus menyiapkan bekal yang cukup agar perjalanan pulangnya nanti menyenangkan dan di kampung halaman kembali dengan gembira.

Apalagi yang jelas, perjalanan pulang menuju kampung ini sangat jauh, melewati samudera yang dalam dan gelombang yang penuh marabahaya. Sebagaimana Imam Ali katakan ketika mendefinisikan takwa adalah "Takut kepada Zat Yang Agung, mengamalkan Al-Qur'an, menerima yang sedikit, dan menyiapkan untuk hari bepergian (kematian)."

Ceramah Ke-3: Imbalan Bagi Orang Yang Sabar

Assalamualaikum Warahmatullahi Wabarakatuh.

Segala puji kita panjatkan kepada Allah SWT atas segala nikmat yang telah diberikan kepada kita.

Pada kesempatan kali ini, saya ingin berbicara sedikit tentang makna sabar dalam kehidupan kita.

Sabar adalah salah satu ajaran penting dalam Islam. Menurut Al-Qur'an, manusia senantiasa diarahkan untuk selalu bersabar dalam menjalani kehidupannya.

Sabar berasal dari kata sobaro-yasbiru yang artinya menahan. Menurut istilah, sabar adalah menahan diri dari kesusahan dan menyikapinya sesuai syariah dan akal, menjaga lisan dari celaan, dan menahan anggota badan dari perbuatan dosa.

Kita juga dapat menemukan dalam Al-Qur'an bahwa Allah SWT menjanjikan kedudukan yang tinggi di surga bagi hamba-hamba-Nya yang bersabar.

Oleh karena itu, sebagai umat muslim, kita harus menjadikan sifat sabar sebagai identitas keimanan dan keislaman. Kita harus mengajak hati kita untuk meneguhkan keimanan bahwa kesabaran adalah harga mati kekuatan iman dalam diri kita.

Dalam kehidupan sehari-hari, tentu saja kita sering dihadapkan dengan ujian dan cobaan yang menguji kesabaran kita. Namun, janganlah kita putus asa dan jangan pernah lelah untuk bersabar dan menghadapi setiap ujian dengan ikhlas dan sabar.

Kita harus selalu ingat bahwa Allah SWT beserta orang-orang yang sabar. Dan dengan sabar, insya Allah, kita akan meraih kedudukan yang tinggi di surga-Nya.

Ceramah Ke-4: Sabar Aktif, Bertahan Sambil Berbuat Baik

Assalamu'alaikum warahmatullahi wabarakatuh.

Alhamdulillāh, segala puji bagi Allah SWT yang menjadikan sabar sebagai salah satu pilar utama pembentukan kepribadian mukmin. Sholawat dan salam semoga senantiasa tercurah kepada Nabi Muhammad SAW, yang menampilkan kesabaran bukan sebagai sikap pasif yang menyerah pada keadaan, melainkan sebagai kekuatan moral yang mendorong manusia tetap istiqamah dalam kebaikan di tengah berbagai tekanan hidup.

Dalam Islam, sabar bukan sekadar kemampuan menahan emosi, tetapi kapasitas spiritual untuk tetap bergerak di jalur nilai meskipun situasi tidak ideal.

Al-Qur'an berulang kali menempatkan sabar sebagai syarat keberhasilan hidup. Allah berfirman:

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اسْتَعِينُوا بِالصَّبْرِ وَالصَّلَاةِ إِنَّ اللَّهَ مَعَ الصَّابِرِينَ

"Wahai orang-orang yang beriman, mohonlah pertolongan dengan sabar dan salat, sesungguhnya Allah bersama orang-orang yang sabar" (QS. Al-Baqarah: 153).

Ayat ini menunjukkan bahwa sabar bukan hanya sikap bertahan, tetapi juga sarana aktif untuk memperoleh pertolongan Allah. Sabar berjalan seiring dengan usaha dan doa, bukan menggantikannya.

Dalam pemahaman yang keliru, sabar sering dipersepsikan sebagai menerima ketidakadilan tanpa perlawanan, membiarkan kesalahan tanpa koreksi, atau menunda perubahan dengan alasan takdir.

Padahal, sabar dalam ajaran Islam justru mendorong keteguhan dalam memperjuangkan kebaikan. Nabi Muhammad SAW adalah teladan sabar yang sangat aktif, beliau menghadapi penolakan, penghinaan, bahkan kekerasan, namun tidak pernah berhenti berdakwah, membangun masyarakat, dan memperjuangkan keadilan. Kesabaran beliau tidak mematikan inisiatif, justru menguatkan konsistensi.

Secara etimologis, sabar bermakna menahan dan mengikat diri agar tidak keluar dari batas yang benar. Artinya, sabar adalah kemampuan mengendalikan reaksi negatif tanpa menghentikan tindakan positif. Inilah yang dapat disebut sebagai sabar aktif: bertahan dari dorongan destruktif sambil terus bergerak dalam konstruksi kebaikan.

Dalam konteks ini, sabar memiliki dimensi psikologis dan etis sekaligus, karena ia mengatur emosi sekaligus mengarahkan perilaku.

Rasulullah SAW menegaskan bahwa kekuatan sejati bukan terletak pada dominasi fisik, melainkan pada kemampuan mengendalikan diri. Beliau bersabda:

لَيْسَ الشَّدِيدُ بِالصُّرَعَةِ إِنَّمَا الشَّدِيدُ الَّذِي يَمْلِكُ نَفْسَهُ عِنْدَ الْغَضَبِ

"Orang kuat bukanlah yang menang dalam bergulat, tetapi orang yang mampu mengendalikan dirinya ketika marah" (HR. Bukhari dan Muslim).

Hadis ini menggeser definisi kekuatan dari agresivitas menuju kematangan emosional, dari reaksi spontan menuju respons yang bermoral.

Dalam kehidupan sosial, sabar aktif sangat relevan ketika menghadapi konflik, ketidakadilan, atau kekecewaan. Sabar tidak berarti diam terhadap keburukan, tetapi menghindari reaksi emosional yang justru memperkeruh keadaan.

Sabar mendorong pendekatan yang lebih strategis, dialogis, dan berorientasi solusi. Dalam hal ini, sabar bukan lawan dari perubahan, tetapi prasyarat perubahan yang berkelanjutan dan tidak destruktif.

Sabar juga berperan penting dalam menjaga konsistensi amal. Banyak orang mampu berbuat baik dalam kondisi nyaman, tetapi mudah goyah ketika menghadapi kesulitan.

Padahal, nilai moral suatu tindakan justru tampak ketika kebaikan dilakukan dalam kondisi berat. Al-Qur'an memuji orang-orang yang tetap menunaikan kebaikan dalam situasi sulit:

وَالْمُوفُونَ بِعَهْدِهِمْ إِذَا عَاهَدُوا وَالصَّابِرِينَ فِي الْبَأْسَاءِ وَالضَّرَّاءِ وَحِينَ الْبَأْسِ

"Dan orang-orang yang menepati janji apabila berjanji, dan orang-orang yang sabar dalam kesempitan, penderitaan, dan dalam peperangan" (QS. Al-Baqarah: 177).

Ayat ini menunjukkan bahwa sabar adalah fondasi konsistensi moral dalam kondisi paling menantang. Dalam konteks Ramadhan, sabar aktif sangat nyata dalam praktik puasa.

Puasa bukan hanya menahan lapar, tetapi juga melatih kemampuan menahan reaksi emosional, menunda kepuasan, dan tetap produktif meskipun energi fisik menurun.

Puasa mendidik kita untuk tetap menjalankan tanggung jawab, tetap bekerja, tetap berinteraksi dengan etika yang baik, sekalipun tubuh dalam kondisi terbatas. Inilah pendidikan karakter yang sangat relevan bagi kehidupan modern yang penuh tekanan.

Secara psikologis, sabar aktif sejalan dengan konsep ketahanan mental, yaitu kemampuan bangkit dan tetap berfungsi secara adaptif di tengah kesulitan.

Individu yang memiliki kesabaran tidak mudah putus asa, tidak cepat menyimpulkan kegagalan sebagai akhir dari segalanya, dan tidak menjadikan luka sebagai alasan untuk menyakiti orang lain.

Dalam Islam, ketahanan mental ini diperkokoh oleh keyakinan bahwa setiap ujian memiliki makna dan berada dalam pengawasan Allah. Al-Qur'an menegaskan:

إِنَّ مَعَ الْعُسْرِ يُسْرًا

"Sesungguhnya bersama kesulitan ada kemudahan" (QS. Al-Insyirah: 6).

Keyakinan ini memberi energi moral untuk terus bergerak, bukan berhenti. Sabar juga terkait erat dengan kualitas kepemimpinan. Seorang pemimpin tanpa kesabaran akan cenderung reaktif, mudah mengambil keputusan emosional, dan kurang mampu merangkul perbedaan.

Sebaliknya, kesabaran memungkinkan pemimpin mendengar, menimbang, dan bertindak dengan pertimbangan etis. Dalam skala kecil, setiap individu adalah pemimpin bagi dirinya sendiri.

Sabar aktif berarti mampu mengelola konflik batin, menunda kepentingan sesaat demi tujuan jangka panjang, serta tetap berpegang pada prinsip meskipun ada tekanan lingkungan.

Namun sabar bukan berarti pasrah tanpa ikhtiar. Islam menyeimbangkan sabar dengan usaha. Nabi SAW mengajarkan agar seseorang mengikat untanya terlebih dahulu sebelum bertawakal. Ini menunjukkan bahwa sabar berjalan bersama tanggung jawab dan kerja nyata.

Sabar aktif berarti menerima proses tanpa menyerah pada stagnasi. Ia menerima kenyataan tanpa berhenti memperbaiki keadaan.

Dalam hubungan sosial, sabar aktif juga tercermin dalam kemampuan memaafkan tanpa kehilangan komitmen pada keadilan. Memaafkan bukan berarti membiarkan kesalahan terus berulang, tetapi memilih jalan yang lebih bijak dalam menyelesaikan konflik.

Al-Qur'an menyebutkan bahwa membalas kejahatan dengan kebaikan dapat melunakkan permusuhan:

ادْفَعْ بِالَّتِي هِيَ أَحْسَنُ

"Tolaklah kejahatan dengan cara yang lebih baik" (QS. Fushshilat: 34).

Ini bukan sikap lemah, tetapi strategi moral yang membutuhkan kesabaran dan kebesaran jiwa. Pada akhirnya, sabar aktif membentuk pribadi yang tidak hanya tahan uji, tetapi juga produktif dalam kebaikan.

Ia tidak berhenti pada kemampuan bertahan, tetapi melangkah pada komitmen untuk tetap memberi manfaat. Inilah sabar yang membangun peradaban: kesabaran guru dalam mendidik, kesabaran orang tua dalam membimbing, kesabaran aktivis sosial dalam memperjuangkan keadilan, dan kesabaran pekerja dalam menjaga integritas di tengah godaan.

Semoga Allah menjadikan kita termasuk orang-orang yang sabar dalam makna yang utuh: mampu menahan diri dari reaksi yang merusak, sekaligus tekun dalam perbuatan yang membangun.

Semoga kesabaran kita tidak menjadikan kita pasif, tetapi justru menguatkan kita untuk terus menebar kebaikan, memperjuangkan nilai, dan menjaga akhlak dalam setiap keadaan. Dengan kesabaran yang aktif dan sadar, kita tidak hanya bertahan menghadapi kehidupan, tetapi ikut memperbaikinya.

Wallahu a'lam bish-shawab.

Ceramah Ke-5: Ceramah Singkat Soal Sabar

Assalamualaikum Warahmatullahi Wabarakatuh

Alhamdulillah kita telah diberi kesempatan pada siang hari ini untuk bertemu di masjid besar ini. Alhamdulillah kita diberi nikmat sehat yang tiada tarannya sehingga kita dapat berkumpul untuk saling bersilaturahim.

Pada kali ini saya akan sedikit menjelaskan tentang sifat dan keutamaan dari sabar. Sabar berasal dari kata sobaro yasbiru yang artinya menahan.

Menahan di sini pengertiannya luas bisa saja kita sedang berpuasa menahan nafsu untuk ini dan itu, kita menahan lapar berarti kita harus bersabar dari rasa ingin makan sampai adzan maghrib yaitu waktu untuk berbuka, kita harus bersabar menghadapi perilaku seseorang yang buruk pada kita berarti kita harus sabar dari kezaliman.

Sekali lagi tidak semua orang bisa memperoleh kemenangan dan kenikmatan dari rasa sabar tersebut karena dari awalnya memang tidak dapat menahan, oleh karena itu saudara-saudara perlunya kita selalu mendekatkan diri kepada Allah agar selalu diberi kesabaran yang tiada batasnya. Agar kita dapat memperoleh pahala yang seluas-luasnya.

Sebagaimana firman Allah QS Al Baqarah 153 yang artinya:

"Hai orang-orang yang beriman, jadikanlah sabar dan salat sebagai penolongmu, sesungguhnya Allah beserta orang-orang yang sabar."

Dari penjelasan ayat tersebut bahwa kita sudah ketahui jika Allah selalu memberikan pertolongan pada setiap hamba-Nya yang mau menjalankan perintahnya, di dalam ayat tersebut dijelaskan bahwa jika kita mengerjakan salat wajib dan dapat menahan diri dengan rasa sabar maka Allah menjanjikan pertolongan bagi hamba-Nya yang sedang dalam kesusahan.

Sabar memang tidak mudah, sabar adalah ujian, justru karena ketidakmudahan itulah Allah menguji hambannya seberapa hambannya dapat lolos dari ujian sabar. Jika kita lolos, kita selalu beristigfar dan berpikir positif terhadap segala ketentuan Allah niscaya kita akan mendapat beribu kemuliaan dan keberuntungan yang datang dari pintu mana pun.

Ceramah Ke-6: Kunci Menghindarkan Masalah, Salah Satunya Sabar

الْحَمْدُ لِلَّهِ الَّذِي خَلَقَ الْمَوْتَ وَالْحَيَاةَ لِيَبْلُوَكُمْ أَيُّكُمْ أَحْسَنُ عَمَلًا وَهُوَ الْعَزِيزُ الْغَفُورُ، وَالصَّلَاةُ وَالسَّلَامُ عَلَى سَيِّدِ الْمُصْطَفَي صَاحِبِ الشَّفَاعَةِ الْعُظْمَى عِنْدَ الْمَالِكِ الغَفُوْرِ، وَ عَلَى آلِهِ وَ صَحَابَتِهِ وَ مَنْ نَهَجَ مَنْهَجَهُمْ إِلَى السَّاعَةِ لَمْ يَكُنْ فِيهَا غُرُورُ أَمَّا بَعْدُ:

Ma'âsyiral muslimîn rahimakumullâh,

Musibah, sebagaimana sudah kita maklumi, adalah bagian dari kehidupan manusia di muka bumi ini. Namun yang mungkin menjadi pertanyaan adalah apa penyebab dan kapan suatu musibah itu akan terjadi? Lalu adakah sesuatu yang bisa menghindarkan musibah?

Untuk menjawab pertanyaan pertama, apa penyebab musibah? Dalam kacamata Al-Qur'an, penyebab musibah dapat disimpulkan dalam 3K, yaitu kelalaian manusia, kejahatan atau kemungkaran yang dibiarkan, apalagi dipelihara, dan ketiga adalah kekufuran. Ketiga K tersebut merupakan kezaliman dengan berbagai bentuk dan tingkatan. Ketiga hal ini dalam bahasa Al-Qur'an dapat disimpulkan dalam satu kata, yaitu berbuat kezaliman.

Adapun untuk menjawab pertanyaan kedua, kapan musibah terjadi? Tentu ilmu kepastiannya hanya Allah yang mengetahui. Secanggih apa pun ilmu manusia, hanya bisa memprediksi dan memperkirakan.

Ilmu manusia sangat terbatas dan cenderung kebanyakan manusia lalai terhadap berbagai kemungkinan yang terjadi terhadap dirinya. Mereka merasa aman dengan berbagai fasilitas materi yang dimiliki, sehingga lupa atas kekuasaan Tuhan.

Akibatnya, manusia tidak mampu melakukan persiapan yang terbaik demi keselamatannya, baik untuk di dunia ataupun akhirat. Sebagaimana Allah jelaskan dalam surat al-A'raf, ayat 97-98.

Jamaah yang dimuliakan Allah,

Ketika musibah itu terjadi, baik dalam skala ringan maupun berat, tentu di balik semua itu pasti ada hikmahnya. Orang yang beriman meyakini bahwa musibah yang menimpa seorang mukmin pada dasarnya bukan azab atau siksaan.

Namun lebih tepat sebagai ujian untuk meningkatkan kualitas keimanan seseorang. Oleh karena itu, ketika ujian datang, kita harus sadar bahwa kita sedang diuji. Lima kata kunci yang dibutuhkan untuk menyelesaikan ujian tersebut adalah sabar, ikhlas, ikhtiar, doa, dan tawakal.

Memang tidak mudah dalam melaksanakannya. Tetapi itulah solusi agama yang diberikan kepada kita agar mampu bertahan dan lahir menjadi hamba Allah yang terbaik.

Ma'âsyiral muslimîn rahimakumullâh,

Adapun tentang pertanyaan ketiga, yaitu adakah sesuatu yang bisa menghindarkan musibah? Agama kita telah mengajarkan kepada kita beberapa hal agar terhindar dari musibah atau malapetaka.

Karena bisa saja Allah menggantungkan terjadinya musibah itu pada usaha-usaha kita. Semua itu merupakan rahmat dan kasih sayang Allah kepada hamba-Nya. Di antara hal-hal yang bisa menghindarkan atau meringankan terjadinya musibah adalah sebagai berikut:

  1. Berdoa, "Sesungguhnya tidak ada yang bisa menolak bala' kecuali doa (al-Hadis).
  2. Selalu beristighfar, "dan sekali-kali Allah tidak akan mengazab mereka, sedang kamu berada di antara mereka. Dan tidak pula Allah akan mengazab mereka, sedang mereka meminta ampun." (al-Anfâl: 33).
  3. Menjaga ekosistem alam, "dan janganlah kamu membuat kerusakan di muka bumi sesudah Allah memperbaikinya, dan berdoalah kepada-Nya dengan rasa takut dan harap." (al-A'raf: 56).
  4. Menjaga moral bangsa, "Jikalau sekiranya penduduk negeri-negeri beriman dan bertakwa, pastilah kami akan melimpahkan kepada mereka berkah dari langit dan bumi, tetapi mereka mendustakan ayat-ayat itu, maka Kami siksa mereka disebabkan perbuatannya." (al-A'raf: 96).
  5. Menegakkan kebenaran, "Demi jiwaku yang ada dalam genggaman Allah, kalian harus menyerukan amar makruf nahi mungkar, atau siksa Allah akan segera datang, kemudian kalian berdoa lalu doa kalian tidak dikabulkan." (al-Hadis).
  6. Berbuat kebaikan, "Dan Tuhanmu sekali-kali tidak akan membinasakan negeri-negeri secara zalim, sedangkan penduduknya orang-orang yang berbuat kebaikan." (Hûd: 117).
  7. Membendung kemungkaran, Ummu Salamah bertanya kepada Rasulullah, "Apakah kita akan dibinasakan, padahal di tengah-tengah kita ada orang-orang saleh?" Rasulullah menjawab, "Ya, jika kekejian telah merajalela."

Demikianlah beberapa hal yang bisa diusahakan oleh manusia untuk menghindarkan diri dari sebuah musibah.

Walaupun kita meyakini tentang ketentuan dan ketetapan Allah, tetapi kita diperintahkan untuk selalu berusaha semaksimal mungkin. Karena bisa saja apa yang menjadi ketentuan Allah itu bergantung kepada usaha kita.

Ceramah Ke-7: Ceramah Tentang Sabar

Assalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh.

Segala puji kita panjatkan ke hadirat Allah SWT atas segala nikmatnya yang telah diberikan kepada kita semua. Nikmat sehat, nikmat taufik hidayah inayah, dan nikmat yang paling besar adalah nikmat Iman & Islam. Sholawat serta salam tak lupa kita sanjungkan Nabi Besar, Muhammad SAW.

Pada kesempatan ini saya akan memaparkan sedikit tentang "sabar". Sabar berasal dari kata "sobaro yasbiru" yang artinya menahan. Menurut istilah, sabar adalah menahan diri dari kesusahan dan menyikapinya sesuai syariah dan akal, menjaga lisan dari celaan, dan menahan anggota badan dari perbuatan dosa.

Sabar adalah pilar kebahagiaan seorang hamba, karena dengan kesabaran seseorang akan terjaga dari kemaksiatan, konsisten menjalankan ketaatan, dan tabah dalam menghadapi berbagai macam cobaan. Sabar merupakan ajaran yang banyak sekali disinggung dalam Al-Qur'an maupun hadis, sehingga manusia senantiasa diarahkan untuk selalu bersabar dalam kehidupannya.

Kesabaran yang sebenarnya adalah kemampuan dalam mengendalikan sikap, sehingga bisa dengan ikhlas dan rela hati menerima kondisi yang sedang dihadapinya demi mendapat balasan yang baik di akhirat. Allah SWT berfirman dalam Surat Al-Baqarah ayat 153:

يٰٓاَيُّهَا الَّذِيْنَ اٰمَنُوا اسْتَعِيْنُوْا بِالصَّبْرِ وَالصَّلٰوةِ ۗ اِنَّ اللّٰهَ مَعَ الصّٰبِرِيْنَ

Artinya: "Wahai orang-orang yang beriman, mohonlah pertolongan (kepada Allah) dengan sabar dan salat. Sesungguhnya Allah beserta orang-orang yang sabar."

Dalam ayat tersebut, dijelaskan kepada orang-orang yang beriman bahwa Allah akan selalu beserta mereka yang menjadikan sabar dan salat sebagai penolong. Allah juga menjanjikan kedudukan yang tinggi (di surga) bagi hamba-hamba-Nya yang bersabar. Dalam Surat Al-Furqan ayat 75, Allah berfirman:

اُولٰۤىِٕكَ يُجْزَوْنَ الْغُرْفَةَ بِمَا صَبَرُوْا وَيُلَقَّوْنَ فِيْهَا تَحِيَّةً وَّسَلٰمًا ۙ

Artinya: "Mereka itu akan diberi balasan dengan tempat yang tinggi (dalam surga) atas kesabaran mereka serta di sana mereka akan disambut dengan penghormatan dan salam."

Demikian pidato ini saya akhiri, kurang lebihnya mohon maaf. Kesempurnaan milik Allah, kesalahan milik saya. Wabillahi taufik wal hidayah, Wassalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh.

Ceramah Ke-8: Ceramah Singkat Soal Sabar

Assalamu'alaikum warahmatullahi wabarakatuh. Alhamdulillahi-lladzii hadaana lihadzaa, wama kunna linahtadiya laula an hadanallah, Asyhadu alla ilaha illallah wahdahu la syarikalah, wa Asyhadu anna Muhammadan 'abduhu wa Rasuluh, La nabiya ba'dah.

Hadirin Yang dirahmati Allah,

Dalam kehidupan sehari-hari tidak jarang kita menghadapi yang namanya musibah. Peristiwa yang menyedihkan, mengecewakan atau mungkin menimbulkan luka batin.

Musibah ini dapat berupa kehilangan orang-orang tercinta, harta benda, mengalami bencana alam, kecelakaan, disakiti, dilukai dan difitnah orang lain. Macam-macam musibah bisa kita alami dalam hidup ini.

Atas berbagai musibah yang datang menerpa dalam hidup kita, maka kita harus meyakini bahwa semua bisa terjadi atas izin, sepengetahuan dan kuasa Allah SWT. Tidak ada satu pun peristiwa terjadi di alam semesta ini tanpa diketahui Allah SWT.

Allah SWT berfirman dalam surat Al An'am 59 :

وَعِنْدَهُ مَفَاتِحُ الْغَيْبِ لَا يَعْلَمُهَا إِلَّا هُوَ ۚ وَيَعْلَمُ مَا فِي الْبَرِّ وَالْبَحْرِ ۚ وَمَا تَسْقُطُ مِنْ وَرَقَةٍ إِلَّا يَعْلَمُهَا وَلَا حَبَّةٍ فِي ظُلُمَاتِ الْأَرْضِ وَلَا رَطْبٍ وَلَا يَابِسٍ إِلَّا فِي كِتَابٍ مُبِينٍ

Dan pada sisi Allah-lah kunci-kunci semua yang ghaib; tidak ada yang mengetahuinya kecuali Dia sendiri, dan Dia mengetahui apa yang di daratan dan di lautan, dan tiada sehelai daun pun yang gugur melainkan Dia mengetahuinya (pula), dan tidak jatuh sebutir biji-pun dalam kegelapan bumi, dan tidak sesuatu yang basah atau yang kering, melainkan tertulis dalam kitab yang nyata (Lauh Mahfudz)"

Dari ayat di atas jelaslah bahwa segala sesuatu di alam semesta ini diketahui Allah SWT, bahkan sehelai daun yang gugur pun, Allah mengetahuinya, karena Dia Maha Mengetahui.

Atas dasar itulah, maka dalam menghadapi musibah kita harus bersikap sabar karena musibah tersebut pasti atas sepengetahuan Allah SWT.

Hadirin Yang dirahmati Allah,
Sabar adalah suatu sikap menahan emosi dan keinginan, serta bertahan dalam situasi sulit dengan tidak mengeluh (wikipedia).

Sabar secara bahasa berarti al habsu yaitu menahan diri. Sedangkan secara syar'i, sabar adalah menahan diri dalam tiga perkara : (1) ketaatan kepada Allah, (2) hal-hal yang diharamkan, (3) takdir Allah yang dirasa pahit (musibah).

Saat mengalami musibah, Allah SWT memerintahkan kita untuk menghadapinya dengan dua hal yaitu sabar dan salat. Dalam surat Al Baqarah ayat 153 Allah SWT berfirman :

يَٰٓأَيُّهَا ٱلَّذِينَ ءَامَنُوا۟ ٱسْتَعِينُوا۟ بِٱلصَّبْرِ وَٱلصَّلَوٰةِ ۚ إِنَّ ٱللَّهَ مَعَ ٱلصَّٰبِرِينَ

Artinya: "Hai orang-orang yang beriman, jadikanlah sabar dan salat sebagai penolongmu, sesungguhnya Allah beserta orang-orang yang sabar."

Jelaslah dalam ayat tersebut kita diperintahkan untuk sabar dan salat, bahkan disebutkan sabar dulu baru kemudian salat.

Hadirin Yang dirahmati Allah,

Bukan hanya saat mengalami musibah kita dituntut untuk sabar. Seperti dalam pengertian sabar secara syar'i yang saya sampaikan di atas, maka kita juga dituntut untuk sabar dalam ketaatan kepada Allah SWT dan hal-hal yang diharamkan.

Mengapa terhadap dua hal itu kita juga dituntut untuk sabar? Karena tidak mudah menjalaninya, bahkan bagi sebagian orang itu sangat berat.

Taat kepada Allah SWT dan menjauhi hal-hal yang diharamkan itu bukan perkara ringan semudah membalik telapak tangan. Bagi orang-orang yang ingkar kepada Allah SWT dan tidak ikhlas menjalani kehidupan, itu sangatlah berat.

Mengapa? Karena taat kepada Allah SWT itu berarti kita banyak mengorbankan kelezatan dunia dan berlaku prihatin, tidak mengumbar hawa nafsu atau kesenangan duniawi.

Contoh kecil kita diperintahkan untuk berpuasa di bulan Ramadhan. Bukankah puasa ini kita menahan diri dari perkara-perkara yang menyenangkan? Makanan dan minuman yang lezat tidak boleh dikonsumsi saat siang hari.

Kemudian mengumbar syahwat juga dilarang. Padahal semuanya itu adalah perkara-perkara menyenangkan bagi kita manusia.

Hadirin Yang dirahmati Allah,

Lalu bagaimana cara kita untuk bisa bersabar sesuai dengan pengertian syar'i tersebut? Saat mengalami musibah, maka kita dituntun untuk mengucapkan kalimat "innalillahi wa inna ilaihi roji'uun".

Dalam surat Al Baqarah 155 Allah SWT berfirman :

.وَلَنَبْلُوَنَّكُم بِشَىْءٍ مِّنَ ٱلْخَوْفِ وَٱلْجُوعِ وَنَقْصٍ مِّنَ ٱلْأَمْوَٰلِ وَٱلْأَنفُسِ وَٱلثَّمَرَٰتِ ۗ وَبَشِّرِ ٱلصَّٰبِرِينَ ٱلَّذِينَ إِذَآ أَصَٰبَتْهُم مُّصِيبَةٌ قَالُوٓا۟ إِنَّا لِلَّهِ وَإِنَّآ إِلَيْهِ رَٰجِعُونَ

Dan sungguh akan Kami berikan cobaan kepadamu, dengan sedikit ketakutan, kelaparan, kekurangan harta, jiwa dan buah-buahan. Dan berikanlah berita gembira kepada orang-orang yang sabar. (yaitu) orang-orang yang apabila ditimpa musibah, mereka mengucapkan: "Inna lillaahi wa innaa ilaihi raaji'uun".

Dengan mengucapkan "innalillahi wa inna ilaihi roji'uun" maka kita akan segera sadar bahwa segala sesuatu yang ada di dunia ini, pada hakikatnya bukanlah milik kita, tapi milik Allah semata.

Kemudian dalam menjalankan ketaatan kepada Allah dan menjauhi perkara-perkara yang diharamkan, maka tidak lain caranya adalah dengan ikhlas. Menjalani ketaatan kepada Allah dengan ikhlas, menjauhi perkara-perkara yang diharamkan juga dengan ikhlas.

Kita ikhlas bahwa semua itu adalah tuntunan dari Allah SWT kepada kita agar kita tidak tersesat di dunia ini dan selamat di akhirat nanti. Semua itu semata-mata kita lakukan hanya untuk mengharap ridho dari Allah SWT.

Hadirin Yang dirahmati Allah,

Demikian ceramah singkat ini saya sampaikan, mohon maaf atas segala kekurangan, semoga kita semua digolongkan sebagai hamba-hamba-NYA yang beriman dan bertakwa serta akan mendapat balasan kebaikan didunia dan akhirat berupa jannah. Aamiin ya robbal 'alamiin.

Wassalamualaikum warahmatullahi wabarakaatuh




(inf/inf)
Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Hide Ads