Ramadan sebagai Momentum Rekonsiliasi Sosial di Era AI

detikKultum Ramadan Bersama Prof. Nasaruddin Umar

Ramadan sebagai Momentum Rekonsiliasi Sosial di Era AI

Devi Setya - detikHikmah
Kamis, 19 Mar 2026 17:45 WIB
detikkultum eps 29
detikKultum bersama Prof Nasaruddin Umar, Kamis (19/3/2026). Foto: 20detik
Jakarta -

Ramadan bukan hanya bulan untuk menunaikan ibadah puasa, tetapi juga bulan yang sarat makna sosial. Salah satu makna pentingnya adalah rekonsiliasi, yaitu upaya menyatukan kembali hubungan yang retak, memperbaiki perselisihan, dan menumbuhkan keharmonisan di tengah masyarakat.

Hal tersebut dijelaskan Prof Nasaruddin Umar dalam detikKultum Ramadan, Kamis (19/3/2026).

"Apa yang dimaksud rekonsiliasi? Rekonsiliasi adalah ada dua kelompok yang bertikai, patah arang, kita mencoba untuk menyatukan menyambung kembali 'hei kalian bukan orang lain, kalian kan bersaudara ngapain harus berkonflik,' seperti itu. Mungkin supaya win win solution, caranya seperti ini, kita melakukan rekonsiliasi," jelas Prof Nasaruddin Umar.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Lebih lanjut, Imam Besar Masjid Istiqlal ini menjelaskan, rekonsiliasi berarti memulihkan hubungan yang pernah rusak. Dalam konteks sosial, ini bisa terjadi antar tetangga, keluarga, kelompok masyarakat, bahkan antar partai politik.

Ramadan menjadi momentum terbaik untuk hal itu, karena bulan suci ini bekerja dalam hati setiap individu, menumbuhkan kesadaran untuk saling memaafkan dan memperbaiki hubungan.

ADVERTISEMENT

Fenomena rekonsiliasi ini terlihat dalam banyak kasus sehari-hari. Misalnya, tetangga yang sebelumnya berselisih dan jarang berkomunikasi, berkat Ramadan mereka kembali duduk bersama, saling berbuka puasa, atau saling menanyakan kabar. Tindakan sederhana ini menumbuhkan kedamaian yang nyata di lingkungan sekitar.

"Ramadan ini banyak sekali terjadi rekonsiliasi. Tetangganya enggak pernah baikan, tapi berkat Ramadan datang, buka puasa bareng di tetangganya sama-sama," ujarnya mencontohkan.

Tidak hanya dalam ranah pribadi atau keluarga, bahkan dunia politik pun merasakan pengaruh Ramadan. Biasanya, persaingan politik penuh dengan tensi dan sikut-menyikut. Namun saat Ramadan, suasana religius mendorong sikap lebih lunak dan terbuka untuk kompromi, sehingga rekonsiliasi bisa terjadi.

"Rekonsiliasi itu paling bagus seperti kita berada pada suasana keagamaan yang sedang bekerja dalam hati kita masing-masing apalagi sekarang ini," tutupnya.

Selengkapnya detikKultum bersama Prof Nasaruddin Umar: Ramadan sebagai Momentum Rekonsiliasi Sosial di Era AI tonton DI SINI. Kajian bersama Prof Nasaruddin Umar ini tayang tiap hari selama Ramadan di detikcom pukul 17.45 WIB. Jangan terlewat!

Program ini didukung oleh PT Bank Syariah Nasional (BSN).

(dvs/kri)

Anda menyukai artikel ini

Artikel disimpan

Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Belum ada komentar.
Jadilah yang pertama berkomentar di sini
Hide Ads