Ramadan merupakan momen penting bagi setiap muslim untuk melakukan introspeksi diri. Dalam bahasa Islam, introspeksi dikenal dengan istilah muhasabah, yaitu melihat kembali perjalanan hidup yang telah dilalui.
Melalui muhasabah, seseorang diajak untuk menilai dirinya sendiri terkait perilaku di masa lalu, bagaimana kebiasaan yang telah dijalani, dan apakah langkah-langkah hidupnya sudah berada di jalan yang benar atau justru menyimpang dari nilai-nilai yang diajarkan oleh agama.
Baca juga: Puasa sebagai Jalan Menuju Takwa Digital |
Prof Nasaruddin Umar dalam detikKultum mengingatkan Ramadan adalah waktu terbaik untuk berhenti sejenak dari kesibukan dunia, lalu melihat kembali arah kehidupan kita.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Ramadan adalah momentum introspeksi diri, melakukan muhasabah, melihat kembali langkah-langkah masa lalu kita seperti apa," kata Prof Nasaruddin Umar dalam detikKultum Ramadan, Senin (16/3/2026).
Prof Nasaruddin Umar menjelaskan, kata digital berasal dari kata digit yang berarti angka. Dunia digital pada dasarnya adalah dunia yang dibangun oleh sistem angka dan kode, yang kemudian diolah menjadi berbagai bentuk informasi yang bisa diakses manusia.
"Digital itu berasal dari kata digit, yang berarti angka-angka. Ruang digital itu adalah ruang tertentu yang sangat bersahabat dengan jari jemari kita," lanjutnya.
Karena itulah, aktivitas digital sangat bergantung pada gerakan jari-jari manusia. Dengan jari jemari tersebut, seseorang bisa membuka berbagai informasi, menonton video, membaca berita, berkomunikasi, bahkan mengakses berbagai bentuk hiburan.
Prof Nasaruddin Umar mengajak umat Islam untuk melakukan evaluasi terhadap kebiasaan digital.
"Sekarang kita perlu bertanya kepada diri kita sendiri: tradisi menggunakan digital itu lebih banyak kita gunakan untuk jalan lurus atau untuk jalan bengkok?" ujarnya.
Seseorang bisa menggunakan media digital untuk belajar agama, mendengarkan ceramah, membaca Al-Qur'an, atau memperluas wawasan. Namun di sisi lain, teknologi yang sama juga bisa digunakan untuk mengakses hiburan yang melalaikan, permainan yang membuat kecanduan, bahkan konten yang tidak pantas.
Prof Nasaruddin mengingatkan Ramadan menjadi waktu yang tepat untuk memperbaiki kejujuran diri, baik di hadapan orang lain maupun ketika sendirian.
"Sekarang bulan suci Ramadan ini, tolong puasakan jari jemari tangan kita juga. Mari kita puasakan telinga, puasakan mata, puasakan penciuman, puasakan jari jemari, dan juga puasakan hati kita," pungkas Imam Besar Masjid Istiqlal itu.
Selengkapnya detikKultum bersama Prof Nasaruddin Umar: Ramadan sebagai Momentum Introspeksi Diri Digital tonton DI SINI. Kajian bersama Prof Nasaruddin Umar ini tayang tiap hari selama Ramadan di detikcom pukul 17.45 WIB. Jangan terlewat!
Program ini didukung oleh PT Bank Syariah Nasional (BSN).
(dvs/kri)











































Komentar Terbanyak
Mojtaba Khamenei Jadi Pemimpin Tertinggi Iran, MUI: Kehancuran bagi AS-Israel
Kisah Turunnya Malaikat yang Menjabat Tangan Manusia di Malam Lailatul Qadar
Perkiraan Lebaran 2026 Menurut NU, Muhammadiyah, Pemerintah, BMKG dan BRIN