Masjid al-Mash'ar al-Haram atau Masy'aril Haram merupakan salah satu lokasi penting dalam rangkaian ibadah haji. Tempat ini tidak hanya menjadi bagian dari rute perjalanan jemaah haji, tetapi juga menjadi saksi dari salah satu momen penting dalam kehidupan Nabi Muhammad SAW saat melaksanakan haji wada atau haji perpisahan.
Masjid al-Mash'ar al-Haram terletak di kawasan Muzdalifah, yaitu sebuah daerah yang berada di antara Arafah dan Mina.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Dilansir dari The Islamic Information, secara bahasa, "al-Mash'ar" berarti tanda atau simbol, sedangkan "al-Haram" berarti suci. Gabungan keduanya mencerminkan bahwa tempat ini adalah simbol suci yang memiliki kedudukan istimewa dalam pelaksanaan ibadah haji.
Setelah menyelesaikan wukuf di Arafah, para jemaah bergerak menuju Muzdalifah untuk bermalam. Di sinilah Masjid al-Mash'ar al-Haram menjadi titik penting bagi jemaah untuk beribadah, berzikir, dan mendekatkan diri kepada Allah.
Jejak Nabi dalam Ibadah Haji
Dalam pelaksanaan haji wada, Nabi Muhammad SAW mencontohkan secara langsung tata cara ibadah yang kemudian menjadi pedoman bagi umat Islam.
Setelah meninggalkan Arafah, beliau berhenti di al-Mash'ar al-Haram. Di tempat ini, beliau melaksanakan salat Subuh, lalu berdiri menghadap kiblat seraya berdoa dan memperbanyak zikir kepada Allah SWT.
Amalan ini menjadi bagian dari sunnah haji yang dianjurkan untuk diikuti oleh para jemaah. Momen tersebut menggambarkan ketundukan, harapan, dan kedekatan seorang hamba kepada Tuhannya setelah menjalani puncak ibadah di Arafah.
Keutamaan al-Mash'ar al-Haram tidak hanya didasarkan pada sunnah Nabi, tetapi juga memiliki landasan langsung dalam Al-Qur'an. Allah SWT berfirman dalam Surah Al-Baqarah ayat 198,
لَيْسَ عَلَيْكُمْ جُنَاحٌ أَن تَبْتَغُوا۟ فَضْلًا مِّن رَّبِّكُمْ ۚ فَإِذَآ أَفَضْتُم مِّنْ عَرَفَٰتٍ فَٱذْكُرُوا۟ ٱللَّهَ عِندَ ٱلْمَشْعَرِ ٱلْحَرَامِ ۖ وَٱذْكُرُوهُ كَمَا هَدَىٰكُمْ وَإِن كُنتُم مِّن قَبْلِهِۦ لَمِنَ ٱلضَّآلِّينَ
Artinya: "Tidak ada dosa bagimu untuk mencari karunia (rezeki hasil perniagaan) dari Tuhanmu. Maka apabila kamu telah bertolak dari 'Arafat, berdzikirlah kepada Allah di Masy'ar al-Haram. Dan berdzikirlah (dengan menyebut) Allah sebagaimana yang ditunjukkan-Nya kepadamu; dan sesungguhnya kamu sebelum itu benar-benar termasuk orang-orang yang sesat."
Ayat ini menegaskan perintah bagi para jemaah haji untuk mengingat Allah SWT di tempat tersebut setelah meninggalkan Arafah. Hal ini menunjukkan bahwa al-Mash'ar al-Haram bukan sekadar lokasi transit, melainkan bagian integral dari rangkaian ibadah yang memiliki nilai ibadah tersendiri.
Fungsi dan Peran dalam Ibadah Haji
Masjid al-Mash'ar al-Haram berfungsi sebagai pusat berkumpul jemaah haji di Muzdalifah. Letaknya yang strategis menjadikannya titik penghubung antara dua lokasi penting lainnya dalam haji, yaitu Masjid al-Khayf di Mina dan Masjid Nimrah di Arafah.
Di tempat ini, jemaah biasanya bermalam (mabit) setelah dari Arafah, mengumpulkan batu untuk lempar jumrah, serta melaksanakan salat dan zikir. Bermalam di Muzdalifah sendiri merupakan bagian dari sunnah yang sangat dianjurkan dalam ibadah haji.
Jemaah tidak hanya menjalankan sunnah Rasulullah SAW, tetapi di sini juga menapaki jejak perjalanan beliau, merasakan suasana yang pernah beliau rasakan, serta menghidupkan kembali sunnah-sunnah yang beliau ajarkan.
Dengan segala keutamaannya, Masjid al-Mash'ar al-Haram menjadi pengingat bahwa setiap rangkaian dalam ibadah haji memiliki makna yang dalam. Di tempat inilah, jemaah diajak untuk memperbanyak zikir, merenungi perjalanan spiritualnya, serta memperkuat hubungan dengan Allah sebelum melanjutkan rangkaian ibadah berikutnya di Mina.

Komentar Terbanyak
MUI Usul Istilah LGBT Diubah Jadi LGSP
Kampus Muhammadiyah Mendominasi Universitas Islam Terbaik Dunia, Ini Daftarnya
5 Hewan yang Boleh Dibunuh dalam Islam