Malam Lailatul Qadar menjadi salah satu malam paling agung di bulan Ramadan. Malam ini dikenal sebagai malam penuh kemuliaan, ketenangan, dan kedekatan antara hamba dengan Tuhannya.
Namun dalam kehidupan modern saat ini, manusia justru hidup di tengah dunia yang penuh kebisingan, baik kebisingan fisik maupun kebisingan digital.
Dalam detikKultum Ramadan, Prof Nasaruddin Umar menjelaskan fenomena ini adalah tantangan spiritual manusia modern. Ia menggambarkan kontras antara suasana Lailatul Qadar dan kehidupan digital saat ini.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Di satu sisi Lailatul Qadar menghendaki keheningan, kesyahduan, kepasrahan, dan kehangatan. Tetapi di sisi lain dunia kita begitu hiruk pikuk, terutama dengan adanya internet dan berbagai media digital," kata Prof Nasaruddin Umar dalam detikKultum Ramadan, Kamis (12/3/2026).
Baca juga: Ramadan dan Kesetaraan Gender di Era Digital |
Lebih lanjut Prof Nasaruddin menjelaskan, saat ini manusia hidup dalam ruang publik yang sangat ramai. Berbagai aktivitas digital seperti bermain internet, game, media sosial, hingga hiburan online sering kali menyita banyak waktu. Tanpa disadari, ruang batin manusia menjadi penuh oleh berbagai rangsangan yang terus menerus datang.
Prof Nasaruddin Umar menggambarkan fenomena ini sebagai "noise" atau kebisingan publik.
"Dunia kita sekarang dipenuhi oleh kebisingan, terutama melalui media kecil yang kita pegang setiap hari, yaitu internet dan berbagai perangkat digital," ujarnya.
Prof Nasaruddin Umar menjelaskan bahwa Allah SWT seakan memberikan satu bulan khusus dalam setahun agar manusia dapat berhenti sejenak dari hiruk pikuk dunia.
"Dua belas bulan lamanya kita menjalani kehidupan dengan berbagai kesibukan. Tetapi ada satu bulan yang diminta oleh Allah untuk menghentikan atau paling tidak mengurangi kebisingan kita," lanjut Prof Nasaruddin Umar.
Beliau juga mengingatkan agar manusia tidak menghabiskan seluruh waktunya hanya untuk hiburan.
"Jangan terlalu menghabiskan waktu untuk bermain internet, bermain game, atau kegiatan yang hanya bersifat hiburan. Siapkan waktu sekali setahun untuk melakukan kontemplasi," ujar Menteri Agama yang juga Imam Besar Masjid Istiqlal ini.
Ramadan menjadi kesempatan bagi manusia untuk kembali menemukan kedalaman spiritual yang sering terlupakan dalam kehidupan sehari-hari.
"Bulan suci Ramadan adalah bulan yang paling bagus untuk melakukan evaluasi, kontemplasi, dan perenungan kembali. Kita diingatkan bahwa kita selalu dipantau oleh Allah, seperti CCTV-nya Allah," pesannya.
Ramadan hadir sebagai kesempatan tahunan untuk berhenti sejenak dari hiruk pikuk dunia, mengurangi kebisingan kehidupan, dan melakukan kontemplasi mendalam.
Selengkapnya detikKultum bersama Prof Nasaruddin Umar: Lailatul Qadar: Refleksi Spiritual di Tengah Noise Digital tonton DI SINI. Kajian bersama Prof Nasaruddin Umar ini tayang tiap hari selama Ramadan di detikcom pukul 17.45 WIB. Jangan terlewat!
Program ini didukung oleh PT Bank Syariah Nasional (BSN).
(dvs/kri)











































Komentar Terbanyak
Mengapa Nabi Isa Disebut Belum Wafat dalam Islam?
Anggaran Sewa Laptop & Meja Disebut Terlalu Besar, Kemenag: Ini Jauh Lebih Efisien
Jemaah Haji RI Ditangkap di Madinah Usai Videokan Wanita Tanpa Izin