Spirit Hijrah: Dari 'Toxic Content' ke 'Positive Content'

detikKultum Ramadan Bersama Prof. Nasaruddin Umar

Spirit Hijrah: Dari 'Toxic Content' ke 'Positive Content'

Devi Setya - detikHikmah
Selasa, 10 Mar 2026 17:45 WIB
Spirit Hijrah: Dari Toxic Content ke Positive Content
detikKultum Prof Nasaruddin Umar, Selasa (10/3/2026). Foto: Tim detikKultum
Jakarta -

Ramadan adalah waktu terbaik untuk melakukan refleksi diri, memperbaiki perilaku, serta memperbarui cara berinteraksi dengan sesama, termasuk dalam penggunaan media sosial.

Imam Besar Masjid Istiqlal, Prof Nasaruddin Umar, menjelaskan konsep hijrah yang sering dibicarakan dalam Islam sebenarnya memiliki makna yang sangat luas.

Dalam detikKultum Ramadan, ia mengingatkan hijrah tidak selalu berarti perpindahan fisik dari satu tempat ke tempat lain, tetapi juga perubahan dalam sikap, cara berpikir, dan kebiasaan hidup.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

"Apa itu hijrah? Hijrah itu transformation. Transformasi dari satu tempat ke tempat yang lain itu hijrah, transformasi dari kondisi buruk kepada kondisi yang lebih baik, transformasi dari satu waktu ke waktu yang lain," kata Prof Nasaruddin Umar dalam detikKultum Ramadan, Selasa (10/3/2026).

Dalam pandangan Islam, hijrah adalah perjalanan menuju perbaikan. Ia bisa terjadi dalam berbagai bentuk, perubahan sikap, perubahan kebiasaan, hingga perubahan cara seseorang memandang dunia.

ADVERTISEMENT

Prof Nasaruddin Umar menegaskan inti dari hijrah adalah proses transformasi diri. "Jadi namanya hijrah itu kita transformasikan apa yang kita akan pindahkan," jelasnya.

Menteri Agama itu mengajak umat Islam menjadikan Ramadan sebagai momentum untuk melakukan hijrah digital. "Di sini bulan suci Ramadan paling bagus kita memindahkan dari toxic content kemudian kita pindah kepada positif konten," ujarnya.

Istilah "toxic" sering digunakan untuk menggambarkan sesuatu yang meracuni pikiran dan perasaan. Dalam konteks komunikasi digital, konten toxic adalah informasi atau pesan yang membawa energi negatif.

Prof Nasaruddin Umar menjelaskan makna dari konten toxic dengan cara yang sederhana namun mendalam. "Apa itu toxic? Toxic itu energi negatif," katanya.

Energi negatif ini bisa muncul dalam berbagai bentuk seperti ujaran kebencian, hinaan, fitnah, atau komentar yang merendahkan orang lain.

Lebih jauh ia menjelaskan dampak dari energi negatif tersebut.

"Sebetulnya kalau kita terbiasa mengirimkan energi negatif, kalau kita terbiasa mengirimkan vibrasi negatif kepada orang lain, tadinya orang optimis begitu kita berjumpa, kita mempengaruhi itu membawa energi negatif, itu disebut dengan toxic," jelas Prof Nasaruddin Umar mencontohkan.

Ketika seseorang terus-menerus menyebarkan energi negatif, ia bukan hanya merusak suasana komunikasi, tetapi juga dapat mempengaruhi psikologis orang lain.

"Tugas kita sekarang ini dalam bulan suci Ramadan ini merubah konten-konten toxic ini menjadi konten-konten yang positif," pungkasnya.

Selengkapnya detikKultum bersama Prof Nasaruddin Umar: Spirit Hijrah: Dari 'Toxic Content' ke 'Positive Content' tonton DI SINI. Kajian bersama Prof Nasaruddin Umar ini tayang tiap hari selama Ramadan di detikcom pukul 17.45 WIB. Jangan terlewat!

Program ini didukung oleh PT Bank Syariah Nasional (BSN).

(dvs/kri)
Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Hide Ads