Puasa sebagai Pendidikan Emosional dan Digital Wellbeing

detikKultum Ramadan Bersama Prof. Nasaruddin Umar

Puasa sebagai Pendidikan Emosional dan Digital Wellbeing

Devi Setya - detikHikmah
Jumat, 06 Mar 2026 17:45 WIB
Puasa sebagai Pendidikan Emosional dan Digital Wellbeing
detikKultum Prof Nasaruddin Umar, Jumat (6/3/2026). Foto: Tim detikKultum
Jakarta -

Bulan Ramadan bukan sekadar bulan untuk menahan lapar dan dahaga. Di balik ibadah puasa terdapat dimensi pendidikan dalam bagi manusia.

Prof. Nasaruddin Umar dalam detikKultum Ramadan menjelaskan bahwa puasa merupakan salah satu bentuk pendidikan emosional yang sangat efektif bagi manusia. Dalam kehidupan sehari-hari, manusia sering kali dihadapkan pada berbagai tekanan emosi, kemarahan, keinginan yang berlebihan, hingga sikap impulsif yang sulit dikendalikan. Di sinilah puasa berperan sebagai latihan pengendalian diri.

"Betul, sepakat kita semuanya bahwa puasa memang adalah pendidikan emosional. Tidak ada yang paling efektif membersihkan dan memperbaiki emosionalitas yang rusak selain puasa," kata Prof Nasaruddin Umar dalam detikKultum Ramadan bersama detikcom, Jumat (6/3/2026).

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Melalui puasa, seseorang dilatih untuk menahan berbagai dorongan yang bersumber dari hawa nafsu. Sejak terbit fajar hingga terbenam matahari, seorang muslim menahan diri dari makan, minum, dan berbagai hal yang membatalkan puasa. Namun hakikatnya, puasa tidak berhenti pada menahan kebutuhan fisik semata.

Puasa juga melatih seseorang untuk mengendalikan diri dari berbagai perilaku negatif. Dalam penjelasannya, Prof. Nasaruddin Umar menyampaikan bahwa puasa mengajarkan manusia untuk menahan diri dari banyak hal yang dapat merusak moral dan spiritualitas.

ADVERTISEMENT

"Puasa mengajarkan kita untuk menahan diri, tidak makan, tidak minum, tidak merokok, apalagi narkoba, dan tidak berhubungan suami istri," lanjutnya.

Latihan menahan diri ini pada akhirnya mengarahkan manusia untuk memusatkan perhatian kepada Tuhan. Ketika berbagai kebutuhan duniawi ditahan, ruang batin manusia menjadi lebih terbuka untuk mendekatkan diri kepada Allah SWT.

Prof. Nasaruddin Umar menjelaskan, "Puasa itu tempat untuk mendidik moralitas kita, tempat untuk mendidik jiwa kita, tempat untuk mendidik akal pikiran kita, dan tempat untuk mendidik perilaku kita."

Apabila semua dimensi tersebut terdidik dengan baik, manusia akan mampu mengendalikan dirinya dalam berbagai situasi kehidupan. Bahkan dalam menghadapi perkembangan teknologi yang semakin pesat sekalipun.

"Kalau jiwa kita terdidik dan terkendali, maka kita akan mampu memanfaatkan teknologi apa pun juga dengan hasil yang lebih baik.," tegas Prof Nasaruddin Umar.

Melalui puasa, manusia belajar mengendalikan diri. Melalui puasa, manusia membersihkan jiwanya. Dan melalui puasa pula, manusia dapat membangun kehidupan yang lebih damai, produktif, dan penuh keberkahan, baik di dunia nyata maupun di dunia digital.

Ramadan pada akhirnya adalah sekolah kehidupan. Siapa yang mampu mengambil pelajaran darinya, maka ia akan keluar dari bulan suci ini sebagai pribadi yang lebih kuat secara spiritual, lebih matang secara emosional, dan lebih bijak dalam menghadapi kehidupan.

Selengkapnya detikKultum bersama Prof Nasaruddin Umar: Puasa sebagai Pendidikan Emosional dan Digital Wellbeing tonton DI SINI. Kajian bersama Prof Nasaruddin Umar ini tayang tiap hari selama Ramadan di detikcom pukul 17.45 WIB. Jangan terlewat!

Program ini didukung oleh PT Bank Syariah Nasional (BSN).

(dvs/lus)
Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Hide Ads