Ramadan Berdampak: dari Puasa ke Perubahan Bangsa

Kolom Hikmah

Ramadan Berdampak: dari Puasa ke Perubahan Bangsa

Erwin Dariyanto, Penulis Kolom - detikHikmah
Senin, 09 Mar 2026 05:00 WIB
Erwin Dariyanto
Foto: Dokumentasi Pribadi
Jakarta -

Selesai Sholat Tarawih kemarin malam, bersama seorang kawan kami melanjutkan 'ritual' berbuka puasa di Kawasan Menteng, Jakarta Pusat. Malam itu ibu kota sempat turun hujan ringan meski hanya sebentar.

Temaram lampu kota dan sejuknya udara membuat suasana mendukung untuk menyantap semangkuk soto ayam kampung ditemani teh poci hangat dan aneka kudapan. Seperti biasa sambil bersantap, kawan saya selalu bersemangat untuk membahas aneka persoalan yang jadi berita besar di media sosial. Dari mulai isu sosial, ekonomi, politik hingga masalah keagamaan.

Dan saya selalu tertarik untuk menyimak obrolannya. Sebab kawan ini bak kamus berjalan, referensinya banyak. Gaya bicaranya runut dan mudah dipahami.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Malam itu dia mengutip sebuah artikel berjudul, "Mengapa di Negara yang Mayoritas Populasinya Berpuasa Sebulan Penuh tetapi Korupsinya Justru Tinggi." Artikel tersebut beredar di media sosial dan WhatsApp group pada siang hari kemarin.

Ada yang pro, namun tak sedikit kritikan terhadap artikel tersebut. Tapi kami tak membahas soal pro dan kontra artikel itu. Kawan saya memilih untuk membedah dampak ibadah puasa terhadap negara dengan penduduk 287 juta jiwa ini.

ADVERTISEMENT

Di Indonesia tercatat saat ini lebih dari 242 juta alias lebih dari 87 persen penduduknya beragama Islam yang tentunya menjalankan puasa di bulan Ramadan. Di sisi lain data yang dirilis Transparency International Indonesia (TII) menyebutkan bahwa skor Indeks Persepsi Korupsi (IPK) Indonesia tahun 2025 adalah 34, turun 3 poin dari tahun sebelumnya yang berada di angka 37. Skor tersebut membuat Indonesia menempati peringkat 109 dari 180 negara yang dilibatkan dalam survei.

Mestinya, kata kawan saya, dengan berpuasa orang akan berpikir ulang untuk mengambil yang bukan menjadi haknya alias korupsi. Sehingga minimal IPK Indonesia tidak buruk-buruk amat.

Logikanya, jika jutaan Muslim yang berpuasa benar-benar menolak korupsi, maka skor IPK Indonesia akan membaik. Dampaknya bukan hanya pada pemerintahan, tetapi juga dunia usaha, pendidikan, dan pelayanan publik. "Mungkin karena 1 bulan puasa, 11 bulannya ndak puasa ya" candanya.

Saya hanya mengangguk sambil mencoba menyeruput teh poci yang asapnya masih ngepul.

Ramadan, kawan tersebut melanjutkan obrolannya, bukan hanya ritual menahan lapar dan haus, melainkan momentum besar untuk memperbaiki kualitas diri dan masyarakat. Perintah puasa disebutkan dalam Al Quran surat Al-Baqarah ayat 183.

يٰٓاَيُّهَا الَّذِيْنَ اٰمَنُوْا كُتِبَ عَلَيْكُمُ الصِّيَامُ كَمَا كُتِبَ عَلَى الَّذِيْنَ مِنْ قَبْلِكُمْ لَعَلَّكُمْ تَتَّقُوْنَۙ

Artinya, "Wahai orang-orang yang beriman! Diwajibkan atas kamu berpuasa sebagaimana diwajibkan atas orang sebelum kamu agar kamu bertakwa."

Nilai-nilai puasa sejati adalah kejujuran, pengendalian diri, dan kepedulian sosial. Jika dihayati dengan sungguh-sungguh, dampaknya bisa terasa nyata bagi bangsa Indonesia.

Dalam kaitannya dengan kejujuran, Rasulullah Muhammad Shallallahu 'Alaihi Wasallam sebagaimana diriwayatkan dalam hadits riwayat Imam Muslim bersabda, "Barang siapa menipu maka ia bukan dari golongan kami."

Hadits tersebut, kata kawan saya tadi, menegaskan bahwa kecurangan, termasuk korupsi, bertentangan dengan nilai Islam. Secara lebih jelas Allah Subhanahu wa ta'ala berfirman dalam Surat Al Baqarah ayat 188 yang artinya, "Dan janganlah sebagian kamu memakan harta sebagian yang lain dengan jalan yang batil."

"Ayat ini jelas melarang praktik korupsi dan perampasan hak orang lain," kata kawan saya tersebut sambil memanggil pramusaji untuk tambah pesanan minuman.

"Menarik," kata saya.

Tak hanya soal larangan korupsi, kawan saya melanjutkan, puasa juga mestinya bisa berdampak pada kepekaan sosial. Apalagi negara kita belum sepenuhnya terbebas dari angka kemiskinan. Data Badan Pusat Statistik (BPS) menyebut hingga September 2025 masih ada 8,25 persen atau 23,36 juta masyarakat Indonesia hidup dalam kemiskinan. Persentase kemiskinan di perkotaan tercatat 6,6% dan di perdesaan 10,72%.

Kita berharap dengan Ramadan semakin menggugah warga kian rajin bersedekah. Menurut World Giving Index 2024, Indonesia menempati urusan teratas di dunia sebagai negara paling dermawan. Indonesia menempati posisi pertama secara global selama tujuh tahun berturut-turut, dengan skor 74 poin. Sembilan dari sepuluh orang Indonesia pernah memberi sedekah, dan enam dari sepuluh aktif menjadi relawan.

Selain sedekah, Ramadan adalah momen umat Islam untuk membayar zakat fitrah, zakat mal, infak juga wakaf. Semuanya itu menjadi instrumen yang bisa menekan angka kemiskinan.

Zakat fitrah misalnya hukumnya wajib bagi setiap Muslim yang mampu di akhir Ramadan. Dana zakat fitrah langsung menyentuh rumah tangga miskin, memastikan mereka bisa merayakan Idul Fitri dengan layak.

Berikutnya zakat mal, yang hasilnya bisa mengalir ke sektor produktif, seperti modal usaha kecil, beasiswa pendidikan, dan bantuan kesehatan. Ini mengurangi kemiskinan struktural.

Infak dan sedekah, ibadah ini fleksibel dan bisa diberikan kapan saja. Dana ini sering digunakan untuk bantuan darurat, santunan anak yatim, hingga pembangunan fasilitas umum.

Ada juga wakaf yang bisa berperan untuk jangka panjang. Wakaf tanah dan aset digunakan untuk membangun sekolah, rumah sakit, pesantren, dan fasilitas sosial. Wakaf produktif bahkan bisa menghasilkan pendapatan berkelanjutan untuk pemberdayaan masyarakat miskin.

Jika Ramadan semakin menggugah warga untuk bersedekah, maka angka kemiskinan bisa ditekan. Sedekah dan zakat bukan hanya amal individual, tetapi instrumen sosial yang mampu menggerakkan ekonomi rakyat kecil.

Makanan di meja kami hampir semua tandas. Kopi dan teh pun tersisa ampas. Saya memanggil pramusaji untuk meminta tagihan pembayaran.

Sambil menunggu, kawan saya melanjutkan obrolan. Dia mengusulkan agar Ramadan tahun ini bisa menjadi semacam revolusi moral. Ramadan seharusnya menjadi titik balik bangsa: pejabat bekerja dengan jujur, warga saling membantu lewat sedekah, kejahatan menurun karena masyarakat terlatih menahan hawa nafsu, dan
perekonomian lebih merata karena zakat dan sedekah mengalir.

"Jika semua ini terjadi, Ramadan benar-benar berdampak. Ia bukan hanya bulan ibadah, tetapi bulan reformasi moral yang bisa mengubah wajah Indonesia," tutup kawan saya sambil kami berjalan menuju parkiran.

Erwin Dariyanto*

Penulis adalah jurnalis, pemerhati masalah kebijakan publik dan Ekonomi Syariah lulusan Magister Perencanaan Ekonomi dan Kebijakan Pembangunan Universitas Indonesia.

Artikel ini merupakan kiriman pembaca detikcom. Seluruh isi artikel menjadi tanggung jawab penulis. (Terima kasih - Redaksi)




(erd/erd)
Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Hide Ads