Ramadan bukan hanya bulan ibadah, tetapi juga momentum refleksi bagi setiap keluarga, termasuk keluarga milenial yang hidup di tengah arus modernitas. Dalam detikKultum Ramadan, Prof Nasaruddin Umar mengangkat tema menarik, bagaimana Ramadan menyatukan keluarga tradisional dan keluarga milenial dalam satu semangat keimanan.
"Hari ini kita akan membahas Ramadan dan keluarga milenial di era modern. Apa itu keluarga milenial? Keluarga milenial itu adalah keluarga modern, keluarga yang sudah melewati fase tradisional, keluarga yang sudah terbuka, bahkan sudah menjadi extended family," kata Prof Nasaruddin Umar membuka detikKultum Ramadan, Rabu (4/3/2026).
Menurut Prof Nasaruddin Umar, keluarga milenial memiliki ukuran dan standar yang berbeda dibanding generasi sebelumnya. Mereka menggunakan parameter profesional dan modern dalam mengelola kehidupan rumah tangga.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Sistem ukurannya itu sudah menggunakan ukuran-ukuran modern profesional. Keluarga yang referensinya bukan lagi lokal tapi global," ujarnya.
Prof Nasaruddin Umar menyebut keluarga milenial kerap memiliki pengalaman internasional. Mereka bepergian ke luar negeri, fasih berbahasa asing, dan akrab dengan media global. Pengaruh budaya luar pun dengan mudah diadopsi ke dalam kehidupan rumah tangga.
Namun, di tengah segala perbedaan itu, Ramadan hadir sebagai titik temu. Prof Nasaruddin Umar menegaskan bahwa di hadapan Allah, tidak ada istilah keluarga milenial atau keluarga tradisional.
"Tapi saat Ramadan kita tidak mengenal istilah keluarga tradisional atau keluarga milenial. Sama-sama sujud di hadapan Allah, sama-sama menutup aurat, sama-sama wudhunya, sama-sama gerakan salatnya, sama-sama model puasanya," jelasnya.
Ramadan menjadi ruang kesetaraan dalam beribadah. Tidak ada "Qur'an milenial" dan "Qur'an tradisional". Kitabnya sama, ajarannya sama, rukunnya sama.
Prof Nasaruddin Umar kemudian menggarisbawahi kehebatan Ramadan dalam menyatukan masyarakat yang plural.
"Ramadan ini mempertemukan keluarga milenial dan keluarga non-milenial, mempertemukan antara tradisional dan modern, mempertemukan laki-laki dan perempuan, mempertemukan anak-anak dan dewasa, mempertemukan berbagai etnik," sambungnya.
Inilah, menurut beliau, kehebatan Islam dan kehebatan Ramadan. Ia mampu "mengedit" masyarakat yang beragam menjadi satu kesatuan spiritual.
"Nah inilah hebatnya Islam, inilah hebatnya Ramadan," pungkas Imam Besar Masjid Istiqlal itu.
Selengkapnya detikKultum bersama Prof Nasaruddin Umar: Ramadan dan Keluarga Milenial di Era Gadget tonton DI SINI. Kajian bersama Prof Nasaruddin Umar ini tayang tiap hari selama Ramadan di detikcom pukul 17.45 WIB. Jangan terlewat!
Program ini didukung oleh PT Bank Syariah Nasional (BSN).
Baca juga: Menjaga Lisan dan Jempol di Dunia Digital |












































Komentar Terbanyak
MUI Desak RI Keluar dari Board of Peace Buntut Serangan AS-Israel ke Iran
Pernyataan Soal Zakat Picu Polemik, Menag Sampaikan Klarifikasi
PBNU Kutuk Serangan AS-Israel ke Iran: Brutal dan Merusak Tatanan