Candu Info Bites Video Religi di Bulan Puasa

Kolom Hikmah

Candu Info Bites Video Religi di Bulan Puasa

Muhammad Sufyan Abdurrahman - detikHikmah
Selasa, 24 Feb 2026 20:08 WIB
Muhammad Sufyan Abdurrahman
Foto: Dok. Pribadi Muhammad Sufyan Abdurrahman
Jakarta -

Salah satu prilaku keseharian yang berpotensi terus menguat dalam Ramadan 1447H, pada amatan penulis, adalah keranjingan scrolling video pendek religi. Ini pendek karena memang sengaja dibuat seringkas itu menyesuaikan habit warganet. Juga, pendek karena mayoritas hasil pemotongan (clipper) dari durasi video lebih panjang.

Para akademisi dunia mayoritas menyemati prilaku tersebut sebagai, "Info Bites." Dan hal ini adalah hal yang mengacu riset ilmiah, yang sayangnya mencuatkan lebih banyak sisi mudhorot dibandingkan maslahat-nya.

Tingting Yan et al. (2024) dalam jurnal Scopus quatile 2, Frontier in Human Neuroscience, per 27 Juni 2024 lalu, menyebutkan, kecenderungan mengakses video pendek atau konten yang tidak utuh namun viral (terutama di TikTok, reels Instagram, Youtube Shorts, hingga status Whats App) menyisakan ruang renung serius. Pangkalnya, ujar peneliti dari Jurusan Psikologi dan Ilmu Prilaku Zhejiang University, Hangzhou, China, tersebut, info bites berdampak buruk terhadap kesehatan fisik dan mental.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

"Adanya korelasi negatif yang signifikan antara kecenderungan kecanduan video pendek dan indeks osilasi saraf yang terkait dengan jaringan kontrol eksekutif di area frontal. Semakin tinggi tingkat kecanduan, maka berdampak langsung pada fungsi otak yang mendasari kemampuan berpikir kritis, pengambilan keputusan, dan menciptakan kontrol diri yang lebih rendah," tulisnya.

Casale& Banchi (2020) dalam jurnal indeksasi Scopus lainnya, Addictive Behaviors Reports, menambahkan, pola konsumsi konten pendek dan cepat di media sosial berkorelasi dengan meningkatnya gejala problematic social media use. Bahwa desain algoritmik platform digital mendorong perilaku konsumsi repetitif dan impulsif, sehingga memperlemah kapasitas refleksi mendalam dan memperkuat kebutuhan akan stimulasi instan.

ADVERTISEMENT

Terakhir, Ophir, Nass, dan Wagner (2009) dalam Proceedings of the National Academy of Sciences menemukan, individu dengan kebiasaan multitasking media tinggi cenderung memiliki kesulitan menyaring distraksi dan mengelola perhatian secara selektif. Ketika audiens terbiasa berpindah cepat dari satu potongan konten ke potongan lain, terjadi fragmentasi atensi yang berpotensi menurunkan kedalaman pemahaman dan kualitas internalisasi pesan.

Waspadalah! Jika sekedar merujuk tiga premis penelitian dunia tersebut, hal tersebut mencakup pula info bites terhadap video clipper berbau religi di tanah air. Baik itu kutipan ayat, sepenggal kalimat motivasi religius, tausyiah asatidz sohor, alunan dzikir pagi petang, hingga seliweran ayat 1000 dirham pembuat kaya-raya.

Situasi ini wajar terjadi karena sekalipun konten religi penuh nuansa ahsan, tidak kemudian membuat warganet terpaku melihat komplit seluruh video. Suara merdu qori tak jua membuat ingin mendengar utuh sekedar satu ayat pun, atau berhasrat merapal dzikir dari awal sampai akhir.

Yang kerap terjadi justru distraksi sisi eye cathing --untuk tidak menyebut aspek showbiz-- dari konten religi tersebut. Alih-alih simak serius hingga resapi kalbu kontennya, justru mencari adakah penampakan yang keren, wah, dan sophisticated dari para aktor yang ada di video tersebut.

Apabila seekor ikan koki perlu 8 detik dalam melihat dan memutuskan apakah akan terus fokus pada suatu obyek di hadapannya. Maka, rasa-rasanya, orang yang gandrung info bites religi memiliki ambang batas 2-4 detik saja sebelum memutuskan manteng/tidak.

Karenanya, penulis pernah melihat, netizen lebih sibuk menulis komentar karena kesalahan teknis dari "bintang" clipper. Mulai dari salah ucap, busana yang dinilai tidak konkruen dengan situasi kondisi, hingga ekspresi wajah qoriah -dibandingkan komentari substansi berbasis ayat/hadist.

Sekjen PP Muhammadiyah, yang kini Mendikdasmen RI, Prof Abdul Mu'ti (2016) sejak lama memitigasi dan mewaspadai hal tersebut. Menurutnya, dakwah digital selain punya daya lesat maksimal, juga beresiko dengan menawarkan konten tidak utuh sehingga memungkinkan salah faham.

Maka, setidaknya pada keluarga kita masing-masing, sangat perlu kita perhatikan bagaimana info bites religi kian menyeruak menimpa anak, istri, ponakan, dst. Setidak-tidaknya, perlu kita ingatkan akan bahayanya untuk menumpulkan kemampuan berpikir kritis, pengambilan keputusan, dan kontrol diri. Simultan mengajak mereka bersama seimbangkan diri dengan ikut pola akses "tradisional" yakni mengakses konten religi secara talaqqi.

Ini dirasa mendesak ketika kita lihat hasil survei Sharing Vision, Bandung (2025) pimpinan Dr Dimitri Mahayana. Menurutnya, generasi Y dan Z (dua kelompok usia produktif) saat ini menghadapi masalah kecanduan digital serius. Secara khusus, berdasarkan Internet Addiction Test (IAT) versi Kimberly Young, 3,3 persen responden generasi Y dan 4,5 persen responden generasi Z dikategorikan memiliki tingkat kecanduan internet yang berat (severe). Jika dikuantifikasian, maka pada tahun 2025 sedikitnya sekitar 5,65 juta orang muda sudah berada di zona kecanduan internet super akut!

Detoksifikasi Info Bites

Ada lima opsi menarik dalam mengurangi candu info bites merujuk Jordan Petterson dalam 12 Rules for Life (2018). Beberapa poin penting layak dicoba untuk semua pembaca detikHikmah khususnya dan masyarakat Indonesia pada umumnya.

Pertama, jangan biarkan selalu tubuh membungkuk pada layar, letakkan ponsel sejajar mata. Hal ini akan mencegah sakit leher atau punggung sekaligus membantu masyarakat lebih kuat dan siap menghadapi hari.

Kedua, pastikan hanya akses yang bermakna, bukan yang sekadar viral dan mudah. Konten instan sering mengisi waktu tanpa makna. Jadi, daripad scrolling tanpa tujuan, bisa gunakan untuk membaca buku digital, mendengarkan podcast bermutu, hingga menjalankan meditasi ringan.
Ketiga, berjejaringlah dengan orang yang menginginkan terbaik untuk Anda.

Secara digital, ini berarti memilah akun atau teman maya yang positif dan sehat. Dalam detoksifikasi digital, unfollow-lah akun yang memicu kecemasan. Beranilah untuk ganti dengan interaksi nyata seperti panggilan suara/video atau pertemuan tatap muka rutin.

Keempat, jangan biarkan keluarga Anda melakukan hal yang membuat Anda tidak suka mereka. Dalam konteks gawai, orang tua bertanggung jawab membantu anak tidak kecanduan. Kita bisa menerapkan aturan semacam no gadget saat makan malam, lantas gantilah waktu itu untuk berbicara bersama atau aktivitas keluarga lain.

Terakhir, anggap selalu orang yang Anda dengar, mungkin tahu sesuatu tidak kita ketahui dan menawarkan hal baru dipelajari. Artinya membuka telinga terhadap wawasan bermakna. Dengarkan tayangan mendalam di media sosial, ikuti webinar berkualitas, dan juga matikan notifikasi saat berdiskusi langsung dengan orang lain.

Akhirul kalam, jangan sampai Ramadhan tahun ini (dan juga di luar bulan puasa), waktu terbuang banyak saat berselancar. Apalagi jika sampai menjadikan atas nama konten religi, kita seolah ada justifikasi info bites secara non-stop. Ini seperti padat sempurna .... padahal melompong.

Dr. Muhammad Sufyan Abdurrahman

Penulis adalah dosen Digital Public Relations, Telkom University. Alumni Doktoral Agama dan Media UIN Sunan Gunung Djati yang juga berkhidmat di banyak ormas Islam di Bandung, antara lain MUI, IPHI, dan Yayasan Roda Amal Bersama.

Artikel ini merupakan kiriman pembaca detikcom. Seluruh isi artikel menjadi tanggung jawab penulis. (Terima kasih - Redaksi)




(lus/lus)
ramadan penuh hikmah

Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Hide Ads