Perkembangan teknologi digital menghadirkan kemudahan luar biasa dalam kehidupan manusia. Informasi bergerak sangat cepat, opini terbentuk dalam hitungan detik, dan media sosial menjadi ruang baru bagi masyarakat untuk menilai, memuji, bahkan menghakimi. Namun di balik kemajuan itu, tersimpan tantangan besar: menjaga hati, menjaga perasaan, menjaga jiwa, dan menjaga pikiran.
Dalam detikKultum Ramadan, Minggu (22/2/2026), Prof Nasaruddin Umar mengingatkan menjaga hati di era supercanggih seperti sekarang ini bukan perkara mudah.
Menteri Agama yang juga Imam Besar Masjid Istiqlal ini mengatakan, dahulu, ukuran baik dan buruk relatif jelas. Standarnya merujuk pada Al-Qur'an, hadits, dan pendapat para ulama. Nilai-nilai itu diperkuat oleh tokoh adat dan kearifan lokal yang menjadi penyangga moral masyarakat.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Namun, kini referensi tersebut mulai mengalami pergeseran. Sesuatu yang secara normatif dianggap baik belum tentu diterima secara sosial. Sebaliknya, yang secara nilai dianggap kurang tepat, bisa saja dipersepsikan baik karena didukung oleh kekuatan lain.
Prof Nasaruddin Umar mencontohkan, dalam kehidupan sosial dan politik, seseorang yang secara kapasitas dinilai layak memimpin belum tentu berhasil menduduki jabatan tertentu. Mengapa? Karena faktor dukungan finansial, partai politik, media sosial, atau bahkan dukungan internasional dapat mempengaruhi persepsi publik.
"Ada orang sangat diyakini baik sekali mampu untuk menduduki jabatan itu tetapi dia terkalahkan oleh orang yang di lapis kedua. Kenapa? Karena tidak didukung oleh uang. Kenapa? Karena tidak didukung oleh partai politik. Kenapa? Karena tidak didukung oleh media sosial. Kenapa? Karena tidak mendapatkan dukungan internasional," jelasnya.
Fenomena ini menunjukkan bahwa ukuran baik dan buruk tidak lagi sepenuhnya berdasarkan standar normatif seperti dahulu. Ada kekuatan lain yang ikut melakukan intervensi dalam membentuk opini dan persepsi.
Lebih lanjut, Prof Nasaruddin Umar menjelaskan pada era digital, opini sering kali lebih kuat daripada fakta. Sesuatu yang dianggap valid secara akademik belum tentu dianggap benar secara sosial.
Akibatnya, masyarakat bisa menilai bukan berdasarkan substansi, tetapi berdasarkan seberapa kuat narasi tersebut digaungkan. Yang buruk bisa tampak baik dan yang baik bisa dipandang sebaliknya.
"Ini sebuah tantangan buat kita semuanya. Makanya itu bagaimana mengembalikan standar penilaian ini yang bersumber pada kata hati dan hati nurani kita," jelasnya.
Ramadan sebagai Momentum Meluruskan Hati
Menurut Prof Nasaruddin Umar, bulan suci Ramadan merupakan waktu terbaik untuk melakukan "restoring" atau pemulihan batin. Ramadan adalah momen untuk meluruskan cara berpikir yang mungkin selama ini bengkok, melembutkan hati yang mulai mengeras, dan meneguhkan langkah yang sempat lunglai.
Selengkapnya detikKultum bersama Prof Nasaruddin Umar: Menjaga Hati di Era Media Sosial tonton DI SINI. Kajian bersama Prof Nasaruddin Umar ini tayang tiap hari selama Ramadan di detikcom pukul 17.45 WIB. Jangan terlewat!
Program ini didukung oleh PT Bank Syariah Nasional (BSN).
Baca juga: Puasa sebagai Detox Overload Informasi |












































Komentar Terbanyak
Prabowo Deal Produk AS Bebas Masuk RI Tanpa Sertifikasi Halal, MUI Kritik Keras
Israel Serang Gaza dengan Senjata Pemusnah Tubuh, MUI Pertanyakan Peran Board of Peace
Hilal Tak Terlihat di RI, Awal Puasa Ramadan 2026 Tak Serentak