Memasuki bulan Ramadan yang penuh kemuliaan, umat Islam kembali diajak merenungkan berbagai persoalan dalam kehidupan. Dalam kultum Ramadan bersama Prof Nasaruddin Umar, pembahasan kali ini sangat relevan dengan perkembangan zaman: bagaimana nasib kemanusiaan di tengah pesatnya kemajuan sains dan teknologi?
Menurut Prof Nasaruddin, kehadiran teknologi baru memunculkan pro dan kontra di tengah masyarakat. Ada yang sangat optimistis, karena teknologi mampu mempermudah kehidupan manusia. Namun tidak sedikit pula yang khawatir, kemajuan tersebut akan menggerus nilai budaya, agama, bahkan identitas kemanusiaan itu sendiri.
"Karena itu kita perlu menciptakan analisis yang mendalam," ujar Prof Nasaruddin dalam detikKultum, Kamis (19/2/2026).
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Dalam perspektif keislaman, Prof Nasaruddin mengingatkan Allah SWT memperkenalkan diri-Nya sebagai Al-Khaliq, Sang Maha Pencipta. Kreativitas bukanlah sesuatu yang bertentangan dengan agama, justru merupakan bagian dari sifat ilahiah yang patut diteladani manusia.
Ia mengutip pesan Rasulullah SAW yang menganjurkan umatnya untuk meneladani akhlak Allah SWT (takhallaqu bi akhlaqillah). Artinya, semakin dekat seseorang kepada Allah, seharusnya semakin berkembang pula kreativitasnya dalam menciptakan kemaslahatan.
"Dengan demikian kehadiran teknologi yang canggih sekarang ini harus dianggap sebagai sarana atau media untuk lebih mendekatkan diri kita kepada Allah subhanahu wa ta'ala," kata Imam Besar Masjid Istiqlal itu.
Pandangan ini memberikan perspektif baru bahwa kemajuan teknologi tidak serta-merta bertentangan dengan iman. Justru, inovasi dan kreativitas adalah bagian dari potensi manusia sebagai khalifah di bumi.
Teknologi sebagai Sarana Mendekatkan Diri kepada Allah
Prof Nasaruddin menekankan, yang terpenting bukanlah menolak atau menerima teknologi secara mentah-mentah, melainkan bagaimana memposisikannya. Teknologi harus dipandang sebagai sarana atau media untuk mendekatkan diri kepada Allah SWT, bukan menjauhkan.
Jika digunakan dengan bijak, teknologi dapat memperluas dakwah, mempermudah akses ilmu, mempererat silaturahmi, dan meningkatkan kualitas ibadah. Sebaliknya, jika disalahgunakan, ia bisa menjadi alat yang merusak nilai moral dan spiritual.
Di sinilah peran manusia menjadi penentu. Teknologi bersifat netral; manusialah yang memberi arah dan nilai pada penggunaannya.
Selengkapnya detikKultum bersama Prof Nasaruddin Umar: Ramadan dan Literasi Digital Islami tonton DI SINI. Kajian bersama Prof Nasaruddin Umar ini tayang tiap hari selama Ramadan di detikcom pukul 17.45 WIB. Jangan terlewat!
Program ini didukung oleh PT Bank Syariah Nasional (BSN).
(dvs/kri)











































Komentar Terbanyak
Israel Serang Gaza dengan Senjata Pemusnah Tubuh, MUI Pertanyakan Peran Board of Peace
Perkiraan 1 Ramadan 2026: Pemerintah, BRIN, Muhammadiyah dan NU
Hilal Tak Terlihat di RI, Awal Puasa Ramadan 2026 Tak Serentak