Strategi

Kolom Hikmah

Strategi

Aunur Rofiq, Penulis Kolom - detikHikmah
Jumat, 09 Jan 2026 08:01 WIB
Strategi
Foto: Edi Wahyono
Jakarta -

Manajemen strategi, dalam perspektif Islam, melibatkan perencanaan dan implementasi yang cermat untuk mencapai tujuan yang lebih besar. Dalam firman-Nya surah al-Hasjir ayat 18 yang terjemahannya, "Wahai orang-orang yang beriman, bertakwalah kepada Allah dan hendaklah setiap orang memperhatikan apa yang telah diperbuatnya untuk hari esok (akhirat). Bertakwalah kepada Allah. Sesungguhnya Allah Mahateliti terhadap apa yang kamu kerjakan."

Pada ayat ini Allah SWT. mengingatkan orang beriman agar benar-benar bertakwa kepada-Nya dan memperhatikan hari esok, akhirat. Wahai orang-orang yang beriman! Kapan dan di mana saja kamu berada bertakwalah kepada Allah SWT. dengan sungguh-sungguh melakukan semua perintah Allah dan menjauhi semua larangan-Nya; dan hendaklah setiap orang siapa pun dia memperhatikan apa yang telah diperbuatnya untuk hari esok, yakni untuk hidup sesudah mati, di akhirat dengan berbuat kebaikan atas dasar iman, ditopang dengan ilmu dan hati yang ikhlas semata-mata mengharap rida-Nya sebab hidup di dunia ini sementara, sedangkan hidup di akhirat itu abadi; dan bertakwalah kepada-Nya dengan menjaga hubungan baik dengan Allah SWT. manusia dan alam. Sungguh, Allah SWT. Mahateliti sekecil apa pun juga terhadap apa yang kamu kerjakan sehingga semua yang kamu lakukan berada dalam pengetahuan-Nya.

Firman di atas mendorong para hambanya untuk membuat perencanaan yang baik dan mempertimbangkan masa depan. Ingatlah bahwa apa pun yang diambil strategi tersebut akan menjadi pertanggungjawaban kelak.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Diperkuat dengan surah al-Baqarah ayat 286 yang terjemahannya, "Allah tidak membebani seseorang melainkan sesuai dengan kesanggupannya. Dia mendapat (pahala) dari (kebajikan) yang dikerjakannya dan dia mendapat (siksa) dari (kejahatan) yang diperbuatnya. (Mereka berdoa), "Ya Tuhan kami, janganlah Engkau hukum kami jika kami lupa atau kami melakukan kesalahan."

Ayat ini mengajarkan pentingnya menjaga janji dan berkomitmen dalam mencapai tujuan yang telah ditetapkan.Dalam menjaga janji tentu harus memperhitungkan ketepatan waktu dalam melakukan tindakan agar tepat seperti yang dijanjikan. Disini seseorang dituntut membuat perencanaan yang mendetail dari setiap kegiatannya. Dr. Yusuf Qardhawi dalam bukunya yang diterjemahkan dengan judul "Titik lemah umat Islam." Disebutkan bahwa kelemahan umat salah satunya adalah lemah dalam perencanaan.

ADVERTISEMENT

Sesuatu yang menjadi tujuan hendaknya direncanakan dengan matang untuk mencapainya. Mengarahkan dengan segala kekuatan yang ada ke arah spesialisasi, hingga mencapai standard yang paling tinggi dalam berbagai bidang kehidupan. Setiap hal yang menutupi kesempatan hendaknya diangkat agar tujuan tidak ada rintangan. Tentu sebagai orang beriman strategi yang diterapkan tidak melanggar ketentuan ajaran Islam.

Dalam situasi kekinian untuk mencapai sesuatu tujuan apakah itu karier ( perusahaan, politik dan lain lain) atau posisi pimpinan suatu wilayah, jabatan tertentu sebagian orang telah menerapkan segala cara untuk mendapatkannya meskipun ia tahu bahwa itu melanggar norma-norma keyakinan. Kenapa hal ini terjadi ?
Disini peranan bisikan setan sangat menggoda dan nafsu dalam dirinya tiadalah kuat sehingga nafsu mengeksekusinya.

Islam telah mengingatkan nafsu (hawa nafsu) adalah dorongan atau keinginan yang muncul dalam diri manusia yang dapat mendorong seseorang menuju kebaikan maupun keburukan. Jika tidak dikendalikan, nafsu dapat menyebabkan perilaku buruk dan sikap negatif.Pesona gemerlap dunia telah melemahkan kekuatan diri sehingga justru nafsu yang mengendalikannya.

Allah SWT. telah memperingatkan tentang nafsu dalam firman-Nya surah al-Khaf ayat 28, "Bersabarlah engkau (Nabi Muhammad) bersama orang-orang yang menyeru Tuhannya pada pagi dan petang hari dengan mengharap keridaan-Nya. Janganlah kedua matamu berpaling dari mereka karena mengharapkan perhiasan kehidupan dunia. Janganlah engkau mengikuti orang yang hatinya telah Kami lalaikan dari mengingat Kami serta menuruti hawa nafsunya dan keadaannya melewati batas."

Ayat ini melarang umat Islam untuk terpengaruh oleh godaan duniawi dan melupakan kewajiban mereka dalam menjalankan agama. Dan juga mengingatkan untuk tidak mengikuti orang-orang yang telah kehilangan arah dan mengikuti hawa nafsu mereka.

Oleh sebab itu, jika engkau berkeinginan mengikuti kontestasi atau mempunyai suatu keinginan untuk dicapai, maka hendaknya mengikuti ketentuan-ketentuan dan tidak melanggar larangan-Nya. Semoga Allah SWT. melindungi kita semua dan para elite pemegang kekuasaan untuk tidak semena-mena dalam berbuat.

Aunur Rofiq

Penulis adalah Pendiri Himpunan Pengusaha Santri Indonesia

Artikel ini merupakan kiriman pembaca detikcom. Seluruh isi artikel menjadi tanggung jawab penulis. (Terima kasih - Redaksi)




(erd/erd)

Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Hide Ads