Iran merupakan negara di kawasan Timur Tengah yang memiliki sejarah panjang sebagai salah satu pusat peradaban dunia. Peradaban Iran sendiri telah tumbuh sejak ratusan tahun sebelum Masehi, membentuk fondasi budaya, politik, dan kekuatan regional yang bertahan hingga kini.
Kuatnya negara Iran merupakan warisan bangsa Persia yang berjaya sejak abad ke-6, ketika Kekaisaran Persia berpusat di wilayah Iran dan dikenal sebagai salah satu peradaban terkuat di dunia.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Namun, di tengah warisan sejarah tersebut, Iran kini diguncang gelombang demo berskala nasional disertai seruan untuk mengakhiri Republik Islam. Hal ini menandai gejolak besar dalam dinamika politik dan sosial negara itu.
Profil Negara Iran
Iran atau secara resmi bernama Islamic Republic of Iran, merupakan negara di kawasan Timur Tengah dengan ibu kota Teheran. Negara ini berdiri pada 1 April 1979 setelah Revolusi Islam dan hingga kini menjadi salah satu aktor geopolitik paling berpengaruh di kawasan.
Bahasa resmi Iran adalah Bahasa Persia (Farsi) yang digunakan dalam pemerintahan, pendidikan, dan kehidupan sehari-hari. Dari sisi etnis, mayoritas penduduk Iran adalah Persia, disusul oleh Azeri, Kurdi, Mazandarani, serta berbagai kelompok etnis minoritas lainnya.
Dikutip dari website Kementerian Luar Negeri RI, dalam struktur kenegaraan, Iran memiliki jabatan Pemimpin Tertinggi (Supreme Leader) yang memegang kekuasaan tertinggi negara sekaligus otoritas agama. Posisi tersebut saat ini masih dijabat oleh Ayatollah Seyyed Ali Khamenei, yang memiliki kewenangan luas atas militer, kehakiman, dan kebijakan strategis negara.
Sementara itu, kepala pemerintahan Iran dijabat oleh presiden, yang dipilih secara langsung oleh rakyat. Sejak 2024, jabatan presiden dipegang oleh Masoud Pezeshkian, menggantikan pemerintahan sebelumnya di tengah dinamika politik dan sosial yang terus berkembang.
Sistem politik Iran menggabungkan unsur republik dan teokrasi, yang berlandaskan ideologi Islam Syiah Imam Dua Belas (Ja'fari). Prinsip utama sistem ini adalah Velayat-e Faqih, yakni supremasi ulama dalam mengawasi dan mengarahkan jalannya pemerintahan.
Dalam praktiknya, Iran memiliki lembaga eksekutif, legislatif, dan yudikatif, namun semuanya berada di bawah pengawasan Pemimpin Tertinggi. Parlemen dipilih rakyat, presiden menjalankan pemerintahan sehari-hari, sementara kebijakan utama negara tetap dikendalikan oleh struktur keulamaan yang menjadi ciri khas Republik Islam Iran.
Gejolak Besar Iran Saat Ini
Gejolak besar tengah melanda Iran dalam hampir dua pekan terakhir, ditandai oleh gelombang aksi protes anti-pemerintah yang kini memasuki hari ke-13 pada Jumat (9/1/2026).
Aksi ini disebut sebagai salah satu tantangan terbesar bagi Republik Islam Iran dalam beberapa tahun terakhir, dengan eskalasi cepat dari tuntutan ekonomi menjadi seruan perubahan rezim.
Dilansir CNN, pemicu awal protes berasal dari kemarahan publik terhadap kondisi ekonomi, khususnya inflasi tinggi dan anjloknya nilai mata uang. Kenaikan drastis harga kebutuhan pokok seperti minyak goreng dan ayam, serta kebijakan bank sentral yang menghentikan dolar bersubsidi bagi importir, mendorong para pedagang bazar turun ke jalan sebelum protes meluas ke mahasiswa dan masyarakat umum.
Dampak protes ini sangat luas, menjangkau lebih dari 100 kota di berbagai provinsi Iran, termasuk wilayah barat dan tenggara yang sensitif secara etnis. Para pengunjuk rasa meneriakkan slogan keras seperti "mati bagi diktator" yang secara langsung merujuk pada Pemimpin Tertinggi Iran, Ayatollah Ali Khamenei.
Menurut kelompok HAM, korban jiwa terus bertambah seiring respons aparat keamanan yang semakin represif. Iran Human Rights NGO (IHRNGO) melaporkan sedikitnya 51 pengunjuk rasa, termasuk sembilan anak-anak, tewas, sementara lebih dari 2.000 orang ditangkap sejak protes dimulai.
Pemerintah Iran memberlakukan pemadaman internet hampir total untuk membatasi arus informasi keluar negeri. Langkah ini menuai kecaman internasional dan meningkatkan kekhawatiran akan potensi kekerasan lebih besar, bahkan disebut berisiko memicu "pembantaian" oleh aktivis HAM.
Pemimpin Tertinggi Iran, Ayatollah Ali Khamenei, bersikap keras terhadap para demonstran dan menuding mereka sebagai aktor perusak yang didukung asing. "Ada penghasut yang ingin menyenangkan presiden Amerika dengan merusak fasilitas umum," ujar Khamenei, seraya menegaskan bahwa "Republik Islam tidak akan mundur menghadapi mereka yang ingin menghancurkan kami".
Dari Washington, Presiden Amerika Serikat Donald Trump mengeluarkan peringatan keras terhadap Teheran. "Jika mereka mulai membunuh rakyatnya, kami akan menghantam mereka dengan sangat keras," kata Trump, meski ia menegaskan tidak akan mengirim "pasukan di darat" ke Iran.
Sementara itu, Reza Pahlavi, putra shah terakhir Iran yang kini hidup di pengasingan, secara terbuka mendukung aksi protes dan menyerukan keterlibatan internasional. Ia meminta Trump untuk "siap membantu rakyat Iran," seiring munculnya kembali sebagian seruan pemulihan monarki di tengah krisis yang kian mengguncang legitimasi Republik Islam.
(hnh/kri)












































Komentar Terbanyak
MUI Desak RI Keluar dari Board of Peace Buntut Serangan AS-Israel ke Iran
Pernyataan Soal Zakat Picu Polemik, Menag Sampaikan Klarifikasi
PBNU Kutuk Serangan AS-Israel ke Iran: Brutal dan Merusak Tatanan