Sst.. Ada Bocoran Materi Wawancara STAN Nih, Merapat Guys!

Rahma Harbani - detikEdu
Sabtu, 23 Jul 2022 19:00 WIB
Ilustrasi kampus PKN STAN
Ilustrasi kampus PKN STAN (Dok. STAN)
Jakarta -

Seleksi penerimaan mahasiswa baru Politeknik Keuangan Negeri STAN (PKN STAN) akan memasuki tahap wawancara pada 8-12 Agustus 2022. Untuk mempersiapkan diri, simak bocoran materi wawancara dari Direktur PKN STAN Rahmadi Murwanto berikut, yuk!

Menurut penuturan Rahmadi, pertanyaan wawancara berkisar pada pertanyaan seputar kebiasaan sehari-hari peserta yang bersifat apa adanya. Tidak ada penilaian salah atau benar yang diberlakukan dalam tes tersebut.

"(Pada tes wawancara) yang ditanya kebiasaan sehari-hari mereka (peserta) melakukan apa (atau) kalau mereka menghadapi masalah cara mereka menyelesaikan seperti apa. Dan ini bukan sesuatu yang (menilai jawaban) ini lebih baik daripada itu," tutur dia melalui siaran langsung Instagram PKN STAN dalam diskusi Beasiswa OSC Talks, dikutip Sabtu (23/7/2022).

Pada dasarnya, Rahmadi mengungkapkan, tes wawancara di PKN STAN bertujuan untuk melakukan konfirmasi ulang pada hasil tes psikotes. "Kedua, (tes wawancara untuk) menggali sekaligus melengkapi profil soft competency di psikotes," katanya.

Rahmadi membeberkan alasan diperlukan penyaringan lagi dari hasil psikotes melalui wawancara meski profil seorang peserta sudah dianggap cocok dan siap oleh psikolog. Sebab, berdasarkan pengalaman sebelumnya, sekitar 10 persen hasil psikotes peserta tidak cocok dengan kriteria peserta yang dicari.

"Nah, biasanya maksimal 10 persen yang akhirnya ternyata begitu diwawancara, (peserta) tidak sesuai dengan profilnya (hasil psikotes)," jelas dia.

"(Misal) dari 770 peserta yang lulus psikotes dan kebugaran, yang 70 (peserta) kita drop, kemudian sisanya (700) kita terima," imbuh dia lagi.

Alasan Adanya Seleksi Ketat Masuk STAN

Sebelum masuk ke seleksi lanjutan II yakni tes wawancara, peserta disaring melalui seleksi lanjutan pertama yakni tes psikotes serta tes kesehatan dan kebugaran. Rahmadi mengungkapkan pihaknya memang mencari peserta yang tidak hanya pintar namun juga cocok dengan lingkungan kampus.

"Psikotes memang kita buat semacam standar (dengan) aspek psikologis yang memungkinkan mereka masuk PKN STAN itu sukses. Jadi, tidak hanya pintar tapi cocok untuk kuliah di kampus," kata dia.

Pasalnya, Rahmadi bercerita, tidak sedikit mahasiswa STAN memilih untuk mengundurkan diri akibat merasa tidak stres dan tekanan yang diterima selama berkuliah. Khususnya pada tahun 1980-an, tercatat ada sekitar 15 persen mahasiswa yang gagal menyelesaikan studi.

"Misalnya, angkatan saya dulu yang masuk ada 500 (mahasiswa), kemudian ketika lulus hanya 330-an. Jadi berat," ungkap dia.

"Tapi (pada) tahun 2000-an berkurang, khususnya tahun 2010-an hingga 2019-an. Nah, khusus pada mahasiswa penerimaan tahun lalu, belum ada yang DO (drop out)," lanjutnya.

Rahmadi mengatakan, fenomena tersebut dapat disebabkan oleh sejumlah faktor. Salah satunya adalah motivasi dari mahasiswa itu sendiri.

"Ada satu kasus, orang tuanya terlalu bersemangat, anaknya kurang termotivasi. Lulus (masuk STAN) dia. (Tapi), semester-semester akhir menggagalkan diri," ceritanya.

Faktor kedua, kata Rahmadi, sistem perkuliahan di STAN memang lebih ketat dibandingkan dengan lainnya. Seperti, ketetapan IPK minimal kelulusan di angka 2,75 dan larangan nilai di bawah D untuk semua mata kuliah.



Simak Video "KuTips: Cara Kilat Nyatet Otomatis Tanpa Repot Ngetik"
[Gambas:Video 20detik]
(rah/pal)

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT

Ranking PTN

Berikut daftar 5 Perguruan Tinggi terbaik Indonesia