Inilah Kyushoku, Program MBG di Jepang yang Sukses Jadi Standar Gizi Anak Sekolah

ADVERTISEMENT

Inilah Kyushoku, Program MBG di Jepang yang Sukses Jadi Standar Gizi Anak Sekolah

Fahri Zulfikar - detikEdu
Selasa, 29 Sep 2026 20:01 WIB
Shokuiku dan Kyushoku, Program MBG di Jepang yang Sukses Jadi Standar Gizi Anak Sekolah
Foto: Laila Hartshauser, MPH via LinkedIn/Shokuiku dan Kyushoku, Program MBG di Jepang yang Sukses Jadi Standar Gizi Anak Sekolah.
Jakarta -

Jepang memiliki semacam program Makan Bergizi Gratis (MBG) bernama Kyushoku. Program ini telah ada sejak 1889 di sebuah sekolah swasta yang terletak di sebuah kuil Buddha di Kota Tsuruoka.

Mengutip Global Child Nutrition Foundation (GCNF), Kyushoku awalnya dimulai oleh para pemuka agama yang mengumpulkan makanan sumbangan dari masyarakat. Hasilnya disajikan sebagai makan siang gratis kepada anak-anak dari keluarga miskin.

Gerakan ini memicu program serupa di berbagai kota di Jepang. Usai Perang Dunia II, program makan siang sekolah ditingkatkan ketika Jepang menghadapi kekurangan pangan parah dan banyak anak menderita kekurangan gizi.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Diresmikan UU pada 1954, Menu Disesuaikan Potensi Lokal

Kyushoku diresmikan dalam Undang-Undang Program Makan Siang Sekolah nasional pada 1954. UU ini mewajibkan semua SD dan SMP untuk menetapkan dan menyediakan makan siang sekolah yang aman dan bergizi bagi semua siswa.

Sebagian besar program dikelola oleh pakar makanan dan nutrisi, yang juga menyusun menu makanan bergizi. Pakar atau guru tersebut juga aktif berinteraksi dengan keluarga siswa dan berbagi informasi seputar nutrisi yang baik.

ADVERTISEMENT

Menu makanan bergizi untuk anak sekolah tidak dibuat secara merata secara nasional. Menu dirancang untuk mencakup beragam makanan yang dipandu oleh musim setempat.

Pemerintah pusat sangat mendorong sekolah untuk menggunakan produk lokal dalam mengembangkan menu mereka.

"Ketika siswa dapat mengonsumsi makanan lokal setiap hari sekolah, hal itu membantu mengembangkan pemahaman siswa tentang bagaimana makanan mereka diproduksi sebelum sampai di piring mereka," jelas Kei Kuriwaki, Presiden International Child Nutrition Japan dan Penasihat di Global Child Nutrition Foundation, dikutip dari GCNF.

"Ini juga membantu siswa mengembangkan apresiasi yang lebih besar terhadap budaya makanan tradisional Jepang dan mendorong rasa hormat yang lebih besar terhadap lingkungan serta kepedulian terhadap cara makanan ditanam," tambahnya.

Menurut data sampai Mei 2021, 99,7% dari semua sekolah dasar negeri dan 98,2% dari semua sekolah menengah pertama telah menyediakan makan siang sekolah. Pada tahun yang sama, data menunjukkan bahwa 56% dari seluruh pembelian makanan yang dilakukan oleh sekolah-sekolah yang berpartisipasi merupakan produk lokal.

Jadi Standar Gizi bagi Anak Sekolah-Pendidikan Karakter

Dalam sebuah kunjungan pada Juni 2026 lalu, tim Fakultas Kesehatan Masyarakat (FKM) Universitas Airlangga (Unair) menemukan bahwa Kyushoku telah diakui secara global sebagai salah satu sistem intervensi gizi anak usia sekolah terbaik. Tim FKM Unair melihat langsung bagaimana operasional dapur sekolah dikelola dengan standar higienitas yang sangat ketat.

"Proses pengolahan makanan skala besar dilakukan menggunakan fasilitas modern dan diawasi langsung oleh guru gizi profesional guna memastikan kecukupan nutrisi harian siswa terpenuhi," tulis laporan di situs FKM Unair, dikutip Selasa (29/9/2026).

Berkat standar kebersihan yang ketat, laporan kasus keracunan yang menimpa anak sekolah di Jepang sangat sedikit. Kasus keracunan yang pernah terjadi, biasanya disebabkan oleh kelalaian vendor yang menyebabkan kontaminasi roti atau susu, bukan pada olahan makanan dapur.

Tim FKM Unair juga menemukan bahwa program 'MBG' di Jepang tidak sekadar memberikan makanan bergizi gratis, tetapi menjadi sarana pendidikan karakter. Para siswa dan keluarga mereka secara aktif terlibat dalam mendukung program.

Saat jam makan siang, siswa langsung mengubah ruang kelas menjadi ruang makan dan menata ulang meja mereka sebagai meja makan. Sejak dini, para siswa belajar mengenakan pakaian pelindung, menyajikan makanan, hingga merapikan sisa makanan secara mandiri.

Di banyak sekolah, siswa juga diajarkan untuk bergantian saling menyajikan makanan kepada teman-teman mereka dan memimpin pembersihan setelahnya. Keterlibatan ini membentuk siswa yang disiplin, bertanggung jawab, mampu bekerja sama dalam tim, menghargai makanan, serta memiliki kesadaran akan kebersihan sejak dini.

Siswa Mengonsumsi Lebih Banyak Protein

Melalui program Kyushoku, siswa di Jepang menjadi cenderung mengonsumsi lebih banyak makanan kaya protein seperti ikan dan daging serta lebih banyak sayuran dan buah-buahan. Tanpa makan siang bergizi di sekolah, siswa cenderung mengonsumsi lebih banyak lemak dan garam serta lebih sedikit serat.

Untuk pendanaannya, sebagian besar sekolah mendanai biaya pengelolaan program, sementara bahan makanan dibayar oleh orang tua. Bagi keluarga yang tidak mampu membayar, akan diberikan tunjangan melalui layanan kesejahteraan sosial Jepang.



(faz/nwk)

Anda menyukai artikel ini

Artikel disimpan

Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Belum ada komentar.
Jadilah yang pertama berkomentar di sini

Ranking PTN

Berikut daftar 5 Perguruan Tinggi terbaik Indonesia
Hide Ads