×
Ad

Hasil PISA 2025 Dirilis, Skor Matematika Indonesia Menurun

Trisna Wulandari - detikEdu
Rabu, 09 Sep 2026 10:58 WIB
Ilustrasi murid. Foto: Getty Images/Rani Nurlaela Desandi
Jakarta -

Hasil Program for International Student Assessment (PISA) 2025 menunjukkan penurunan skor matematika siswa berusia 15 tahun di Indonesia. Turun dua poin dari 2022, skor matematika PISA 2025 RI 2025 sebesar 364 poin.

"Kita ada kenaikan skor untuk sains 6 poin, membaca juga skor yang naik 6 poin, matematika ada penurunan 2 poin," terang Kepala Pusat Asesmen Pendidikan (Pusmendik) Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah (Kemendikdasmen) Rahmawati.

Hal tersebut ia sampaikan pada Peluncuran Hasil PISA 2025 di Gedung E Kemendikdasmen, Jl Jenderal Sudirman, Jakarta, Selasa (8/9/2026).

Digelar sejak tahun 2000, asesmen PISA mengukur kemampuan siswa dalam menerapkan pengetahuan dan keterampilan membaca, sains dan matematika untuk merespons situasi nyata sehari-hari. Program penilaian siswa internasional dari Organisasi Kerja Sama dan Pembangunan Ekonomi (OECD) ini diikuti lebih dari 760.000 siswa dari 91 negara dan perekonomian pada April-Mei 2025.

PISA 2025 di Indonesia diikuti oleh siswa berusia 15 tahun di SMP, MTs, SMA, SMK, dan MA. Setelah pengambilan sampel sekolah secara geografis oleh OECD dan pendataan siswa berusia 15 tahun di sekolah sampel oleh Kemendikdasmen, siswa kemudian dipilih oleh OECD secara random dengan jumlah maksimal 42 murid per sekolah.

Kesulitan di Soal Matematika

Rahmawati menambahkan, persentase jumlah siswa yang mencapai kompetensi minimum matematika pada hasil PISA 2025 RI mencapai 16,93 persen. Ia menjelaskan, siswa yang telah mencapai kompetensi minimum artinya bisa memformulasikan masalah sehari-hari ke dalam konteks atau formula matematika.

"Nah ini yang menjadi pekerjaan kita juga. Karena permasalahan sehari-hari ini artinya ada informasi, baik dalam bentuk teks, dalam bentuk grafik, dalam bentuk kabel, yang informasinya bisa jadi ada yang relevan, ada yang tidak relevan, kemudian kita diminta untuk memecahkan solusi. Tapi, sebelum kita memecahkan solusi, kita harus bisa menerjemahkan apa formula matematika dari masalah tersebut," ucapnya.

Karena itu, siswa lainnya yang belum dapat memilah informasi dan belum memahami konsep matematika secara kuat dapat terjebak dengan banyaknya informasi rinci yang disampaikan pada soal.

"Dia harus bisa menerjemahkan. Kita sangat unggul kalau sudah diketahui persamaan matematikanya, tinggal menghitung, tinggal mencari," ucapnya.

Tindak Lanjut Hasil PISA 2025 Matematika RI

Merespons hasil PISA 2025 Indonesia, Kepala Badan Kebijakan Pendidikan Dasar dan Menengah Kemendikdasmen Toni Toharudin mengatakan penurunan skor matematika perlu dipandang sebagai pengingat untuk memperkuat kemampuan siswa dalam bernalar dan memecahkan masalah.

"Saya kira itu perlu dibaca secara hati-hati dan tidak hanya dilihat sebagai angka, tetapi sebagai sinyal bahwa kemampuan para siswa kita, terutama dalam bernalar dan memecahkan masalah itu masih harus diperkuat," tuturnya.

Tindakan selanjutnya untuk merespons skor PISA 2025 RI tersebut menurut Toni antara lain berfokus pada peningkatan kompetensi guru dan memastikan pembelajaran matematika lebih kontekstual.

"Saya kira pemanfaatan hasil assessment yang sudah kita lakukan, terutama di dalam Tes Kemampuan Akademik, ini harus menjadi alat diagnosis. Dan juga tentunya pendampingan pada satuan pendidikan yang memang membutuhkan peningkatan untuk capaian ini, terutama yang masih rendah," sambungnya.

Ubah Mindset Guru: Matematika Aplikatif, Bukan Hafal Rumus

Peningkatan konsistensi implementasi kurikulum di kelas menurutnya juga perlu diperkuat agar rancangan upaya penguatan literasi dan numerasi berjalan.

"Kurikulum nasional kita sebenarnya telah memberi, apa namanya, ruang, bagi penguatan baik literasi maupun numerasi, dan juga kemampuan bernalar melalui program kita yaitu pembelajaran mendalam. Tapi tantangannya adalah konsistensi implementasi kita di kelas," katanya.

Ia menambahkan, pihaknya juga akan mengubah mindset pelatihan terhadap guru agar pembelajaran dapat diarahkan pada pemahaman konsep, penerapan konsep di dalam kehidupan yang nyata, dan pemecahan masalah.

"Bukan sekedar menghafal rumus. Jadi dukungan, terutama dukungan dari buku, dukungan dari pelatihan guru, asesmen, dan juga pendampingan sekolah, itu yang juga akan diselaraskan dengan arah tersebut," ucapnya.



Simak Video "Video: Maudy Ayunda Harap Teknologi Bisa Kurangi Kesenjangan di Dunia Pendidikan"

(twu/nwk)
Berita Terkait
Berita detikcom Lainnya
Berita Terpopuler

Video

Foto

detikNetwork