Hari Aksara Internasional 2026 diperingati setiap 8 September setiap tahunnya. Mengusung tema global "Literacy for People, The Planet, and Prosperity" atau "Literasi untuk Sesama, Semesta, dan Sejahtera", Hari Aksara Internasional memperingati tahun ke-60.
Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah (Mendikdasmen) Abdul Mu'ti menyebut Hari Aksara Internasional 2026 menekankan pentingnya literasi untuk kehidupan yang lebih sejahtera. Hari Aksara Internasional pertama kali dirayakan pada 1966.
"Enam dekade perjalanan ini mengingatkan kita bahwa literasi tetap menjadi fondasi penting bagi martabat manusia, pendidikan sepanjang hayat, dan kemajuan bangsa dan negara," tutur Menteri Mu'ti.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Hal tersebut ia sampaikan pada Peringatan Hari Aksara Internasional 2026 yang ditayangkan secara daring melalui YouTube Kemendikdasmen, Selasa (8/9/2026).
Masih Ada Siswa Dunia yang Belum Mahir Membaca
Mu'ti menyoroti data yang disampaikan UNESCO tentang keterampilan literasi anak-anak di dunia. Ia menyebutkan sampai saat ini, masih ada 739 juta pemuda dan orang dewasa yang belum memiliki keterampilan literasi dasar.
Ia juga menyoroti data yang menyatakan 4 dari 10 siswa di dunia belum mencapai tingkat kemahiran minimum dalam membaca di akhir jenjang sekolah dasar (SD). Data ini menurut Mu'ti menunjukkan kekurangan akses terhadap hak dasar terhadap pendidikan.
"Ini adalah pengingat bagi kita semua bahwa masih banyak saudara-saudara kita yang belum mendapatkan akses terhadap hak dasar mereka, hak untuk belajar, memahami, dan berkembang," bebernya.
Pada masa kini, Hari Aksara Internasional dipandang lebih luas dan modern, tak sekadar kemampuan membaca dan menulis. Kehadiran kecerdasan artificial, perkembangan teknologi digital, krisis lingkungan, dan perubahan sosial mengharuskan masyarakat semakin peka.
Peka dalam hal ini adalah mereka harus mampu memahami informasi secara kritis dan berpikir reflektif terhadap konten yang dikonsumsi. Segala informasi yang didapat perlu digunakan untuk memperbaiki kehidupan dan lingkungan.
"Literasi hari ini adalah tentang kemampuan membaca dunia, memahami realitas sosial, lingkungan, dan ekonomi serta mengambil tindakan untuk menjadikan dunia lebih baik lagi," sampainya.
Literasi untuk Sesama, Semesta, dan Sejahtera
Dari tema global UNESCO, Menteri Mu'ti menyebut tema tersebut diadaptasi menjadi "Literasi untuk Sesama, Semesta, dan Sejahtera". Sesama diartikan sebagai upaya agar tidak ada seorang pun yang tertinggal dari kesempatan belajar melalui inklusi, literasi kritis, dan dialog antar generasi.
Semesta bermakna sebuah usaha agar pengetahuan menumbuhkan kepedulian terhadap lingkungan melalui literasi iklim, konservasi, dan aksi keberlanjutan yang nyata.
Terakhir, sejahtera diartikan sebagai upaya agar tiap orang terus berusaha untuk memiliki kecakapan hidup, literasi finansial, wirausaha, dan keterampilan digital. Berbagai keterampilan ini penting agar setiap orang mampu bekerja, berkarya, dan hidup lebih baik lagi.
"Tema 3S ini menjadi rumah gerakan yang ringkas, mudah diingat, dan kontekstual bagi satuan pendidikan, komunitas, dan seluruh masyarakat Indonesia," kata Mu'ti.
