×
Ad

Diterapkan di Pesantren, Seperti Apa Pendidikan Holistik Itu?

Trisna Wulandari - detikEdu
Sabtu, 05 Sep 2026 20:00 WIB
Kepala PSKP Kemendikdasmen Irsyad Zamjani, PhD di Global Islamic Holistic Education Summit (GIHES) 2026 di Borobudur Hotel Jakarta, Jl Lapangan Banteng, Jakarta, Sabtu (5/9/2026). Foto: Trisna Wulandari/detikcom
Jakarta -

Kepala Pusat Standar dan Kebijakan Pendidikan, Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah (Kemendikdasmen), Irsyad Zamjani, PhD menyoroti pendidikan holistik yang tidak hanya mementingkan keunggulan akademik, tetapi juga pendidikan karakter pelajar. Hal menurutnya telah dikembangkan di pesantren selama iin.

Praktik pendidikan Islam holistik di lingkungan pesantren menurutnya selaras dengan upaya di sekolah-sekolah untuk mendesain aktivitas kokurikuler dan ekstrakurikuler. Keduanya diharapkan dapat membentuk karakter siswa secara terencana.

"Kebijakan nasional mencoba untuk mencapai apa yang telah diketahui pesantren ratusan tahun lalu," ucap Irsyad pada Global Islamic Holistic Education Summit (GIHES) 2026 di Borobudur Hotel Jakarta, Jl Lapangan Banteng, Jakarta, Sabtu (5/9/2026).

Alumnus Pondok Modern Darussalam Gontor ini menjelaskan, Kemendikdasmen sebelumnya sudah memperkenalkan konsep pembelajaran mendalam (deep learning) dengan dengan prinsip pembelajaran menyenangkan (joyful learning), pembelajaran yang berkesadaran (mindful learning), dan pembelajaran yang bermakna (meaningful learning).

"Mindful learning, yang mana tidak hanya disampaikan pada pelajar di ruang kelas, tetapi mereka juga menmahami sudah sampai mana tahap pengetahuan yang ia capai, mengapa ia mempelajarinya, atau reflektif," tuturnya.

Lebih lanjut, delapan dimensi profil lulusan meliputi keimanan dan ketakwaan pada Tuhan YME, kewargaan, penalaran kritis, kreativitas, kolaborasi, kemandirian, kesehatan, dan komunikasi, yang perlu dikuasai anak di setiap akhir jenjang pendidikan.

Sementara itu, Pondok Modern Darussalam Gontor yang genap berusia 100 tahun ini mengutamakan prinsip berbudi tinggi, berbadan sehat, berpengetahuan luas, dan berpikiran bebas (independent mind). Menurut Irsyad, aspek-aspek ini dinilai menjadi pilar upaya pendidikan holistik sehari-hari di lingkungan pendidikan pesantren, yang turut membentuk karakter santri.

Ia mencontohkan, pendidikan karakter diselipkan dalam keseharian santri menunggu Subuh, antre berwudu, dan disiplin makan di lingkungan asrama. Santri juga belajar belajar bekerja sama lewat kegiatan Ramadan, pentas pertunjukan, klub-klub olahraga hingga bahasa, dan lain-lain.

Adapun pengayaan pengetahuan yang didukung oleh guru-guru turut memastikan para santri tetap dilayani secara akademis. Namun, pengajaran menurutnya tidak lagi berfokus pada bagaimana memberikan pengetahuan pada santri, tetapi seperti karakter santri saat diberi akses pada pengetahuan.

Dengan penguatan budi, badan, dan pengetahuan, Irsyad menilai, santri kemudian dapat menjadi pemikir bebas yang punya kapasitas untuk berpikir tidak hanya untuk diri sendiri, tetapi juga terkait isu yang lebih luas.



Simak Video "Video: Pengasuh Diduga Lakukan Pencabulan, Ponpes di Lampung Dibakar Massa"

(twu/pal)
Berita Terkait
Berita detikcom Lainnya
Berita Terpopuler

Video

Foto

detikNetwork