Empat bandara di Indonesia ditutup sementara imbas erupsi Gunung Anak Krakatau per Minggu (6/9) siang. Menurut catatan sejarah, abu vulkanik telah lama menimbulkan bahaya bagi penerbangan. Kenapa?
Berdasarkan keterangan dari AirNav, bandara yang ditutup akibat erupsi Gunung Anak Krakatau adalah Bandara Internasional Soekarno-Hatta, Bandara Radin Inten II, Bandara Halim Perdanakusuma dan Bandara Budiarto.
Erupsi Gunung Anak Krakatau dimulai pada Jumat, 4 September 2026 pukul 23.23 WIB. BMKG mencatat erupsi ini mengeluarkan abu vulkanik dengan ketinggian hingga 20.000 kaki yang bergerak ke sebagian DKI Jakarta, Banten, Jawa Barat, dan perairan sekitarnya. Sementara pada ketinggian hingga 50.000 kaki, abu bergerak ke arah Banten, Lampung, Bengkulu, Selat Sunda bagian selatan, serta Samudra Hindia.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Penutupan bandara akibat erupsi Gunung Anak Krakatau bukanlah yang pertama kali maupun tanpa alasan. Menurut catatan sejarah, dunia aviasi berubah setelah letusan Gunung Galunggung di Tasikmalaya yang merusak dua pesawat internasional.
Sejarah Letusan Gunung Galunggung pada Dunia Penerbangan
Pada 24 Juni 1982, pesawat British Airways B747 yang kehilangan daya pada keempat mesinnya saat terbang di ketinggian 11.300 m dari Kuala Lumpur. Pesawat ini terbang menuju Perth, Australia.
Selama enam belas menit berikutnya, pesawat meluncur turun tanpa daya dari ketinggian 11.300 m ke 3.650 m. Untungnya, pilot berhasil menyalakan kembali tiga mesin dan melakukan pendaratan darurat yang sukses di Jakarta, Indonesia.
Tiga minggu kemudian, pesawat B747 milik Singapore Airlines yang menuju Melbourne, Australia, melaporkan insiden serupa. Kali ini, dua mesin kehilangan daya dan pesawat tersebut juga berhasil dialihkan pendaratannya ke Jakarta.
Menurut laman World Meteorological Organization (WMO), investigasi terhadap kedua kasus ini menunjukkan bahwa seluruh mesin pesawat mengalami mati mesin akibat masuknya abu vulkanik. Pesawat-pesawat tersebut diketahui telah melintasi abu vulkanik yang berasal dari letusan Gunung Galunggung di Indonesia.
Secara tidak langsung, standar keselamatan dan prosedur darurat dunia penerbangan berubah imbas abu vulkanik dari Gunung Galunggung. Mengutip arsip detikcom, letusan Gunung Galunggung terjadi pada April 1982 hingga Januari 1983. Letusan ini menjadi salah satu bencana geologi terpanjang dalam sejarah Indonesia.
Bahaya Abu Vulkanik pada Pesawat
Masuknya abu vulkanik dan gas ke dalam mesin dapat berdampak buruk pada kinerja pesawat saat terbang. Dampak tersebut meliputi:
1. Gangguan mesin seperti mati mesin
2. Erosi pada komponen avionik dan mesin
3. Penyumbatan filter dan saluran pipa
4. Penurunan kualitas bahan bakar
5. Abrasi pada kaca depan dan bagian tepi depan pesawat
6. Korosi pada permukaan logam akibat adanya tetesan asam.
Untuk mengatasi hal ini, WMO membentuk International Airways Volcano Watch (IAVW) untuk memantau dampak letusan gunung api pada dunia penerbangan.
