JK Dukung Ponpes Gontor Wujudkan Pendidikan Berkarakter Lewat GIHES 2026

JK Dukung Ponpes Gontor Wujudkan Pendidikan Berkarakter Lewat GIHES 2026

Charolin Pebrianti - detikJatim
Minggu, 16 Agu 2026 13:40 WIB
Wakil Presiden RI ke-10 dan ke-12 Jusuf Kalla (JK), Ketua Badan Wakaf Gontor sekaligus Wakil Ketua MPR RI Hidayat Nur Wahid saat bertemu di {Ponpes Gontor.
Wakil Presiden RI ke-10 dan ke-12 Jusuf Kalla (JK), Ketua Badan Wakaf Gontor sekaligus Wakil Ketua MPR RI Hidayat Nur Wahid beserta jajaran. (Foto: Istimewa)
Ponorogo -

Wakil Presiden RI ke-10 dan ke-12 Jusuf Kalla (JK) memberikan dukungan terhadap penyelenggaraan Global Islamic Holistic Education Summit (GIHES) 2026. Forum pendidikan internasional ini digelar Pondok Modern Darussalam Gontor (PMDG), Universitas Darussalam (UNIDA) Gontor, dan Forum Pesantren Alumni Gontor (FPAG).

GIHES 2026 akan berlangsung pada 5-6 September 2026 di Hotel Borobudur, Jakarta Pusat. Forum tersebut akan mempertemukan tokoh pendidikan dari berbagai negara untuk membahas arah pendidikan holistik dalam menghadapi tantangan generasi masa depan.

JK menilai gagasan Gontor menyiapkan peta jalan pendidikan hingga 100 tahun ke depan merupakan langkah yang visioner. Menurutnya, pemikiran tersebut tidak hanya relevan bagi Indonesia, tetapi juga dapat memberikan kontribusi bagi dunia pendidikan global.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

"Saya mendukung acara GIHES. Gontor berpikir untuk ke depan, 100 tahun ke depan. Ini sangat bagus," kata JK dalam keterangan pers, Minggu (16/8/2026).

Menurut JK, Gontor menjadi salah satu lembaga pendidikan di Indonesia yang berani memikirkan arah pendidikan dalam rentang waktu yang sangat panjang.

ADVERTISEMENT

"Baru pertama kali di Indonesia lembaga pendidikan memikirkan untuk 100 tahun ke depan, bagaimana pendidikan di Indonesia, bahkan di dunia," ujarnya.

Dukungan JK terhadap Gontor juga tidak terlepas dari hubungan panjang keluarganya dengan pesantren tersebut. Dia menyebut sang ayah, Haji Kalla, telah menaruh kepercayaan terhadap pendidikan Gontor sejak puluhan tahun lalu.

"Bagi saya dan keluarga, terutama almarhum ayah saya, Gontor selalu menjadi harapan. Tahun 70-an, waktu ayah saya masih hidup, beliau meyakini bahwa sekolah terbaik itu cuma satu, yaitu Gontor," ungkap JK.

"Itulah mengapa adik-adik dan kemenakan saya banyak yang menimba ilmu di sana," sambungnya.

Ketua Badan Wakaf Gontor sekaligus Wakil Ketua MPR RI Hidayat Nur Wahid mengatakan GIHES 2026 akan mengangkat sejumlah persoalan pendidikan, termasuk karakter dan ketahanan mental generasi muda.

Menurut Hidayat, perkembangan teknologi informasi yang begitu pesat belum sepenuhnya diimbangi dengan penguatan karakter. Hal itu terlihat dari masih adanya generasi muda yang dinilai kurang memiliki kemampuan berkolaborasi, etos kerja, hingga kepemimpinan.

"Banyak generasi muda saat ini yang sulit berkolaborasi, tidak memiliki etos kerja kuat, dan lemah dalam aspek leadership," kata Hidayat.

Dia menilai pendidikan pesantren memiliki pola pembinaan yang dapat menjadi salah satu rujukan dalam menjawab tantangan tersebut. Di pesantren, pendidikan tidak hanya berlangsung di ruang kelas, tetapi juga melalui kehidupan sehari-hari para santri.

"Kami melihat bahwa pendidikan holistik yang sejati itu ada di pesantren, di mana selama 24 jam penuh santri dibina mental, moral, dan soft skill-nya," jelasnya.

Melalui GIHES 2026, Gontor ingin memperkenalkan konsep pendidikan pesantren kepada masyarakat internasional. Model tersebut diharapkan dapat menjadi salah satu alternatif dalam menyiapkan calon pemimpin masa depan yang memiliki integritas sekaligus kemampuan menghadapi perubahan zaman.

Forum ini akan menghadirkan tokoh pendidikan dan pembicara dari berbagai negara yang merepresentasikan sejumlah kawasan dunia hingga lima benua.

Sekjen Forum Pesantren Alumni Gontor (FPAG) KH Anang Rikza Masyhadi mengatakan GIHES diharapkan menjadi ruang bertemunya nilai-nilai pendidikan pesantren dengan perkembangan pendidikan modern.

"Kehadiran para tokoh global ini diharapkan mampu menciptakan sinergi antara nilai-nilai luhur pesantren dengan inovasi pendidikan modern," kata Anang.

Dia berharap pertemuan tersebut tidak berhenti pada pertukaran gagasan, tetapi dapat melahirkan konsep pendidikan yang mampu menjawab kebutuhan generasi mendatang.

"Tujuannya guna menciptakan ekosistem pendidikan dan kesehatan yang berkelanjutan bagi generasi mendatang," pungkasnya.



(ihc/dpe)

Anda menyukai artikel ini

Artikel disimpan

Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Belum ada komentar.
Jadilah yang pertama berkomentar di sini

Hide Ads