×
Ad

Kemendikdasmen Rilis Program STEM Nasional: Patahkan Mitos Sains Sulit dan Mahal

Novia Aisyah - detikEdu
Kamis, 03 Sep 2026 09:33 WIB
Mendikdasmen dalam peluncuran STEM Nasional di Kudus (3/9/2026). Foto: YouTube/Ditjen GTK Kemendikdasmen
Jakarta -

Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah (Kemendikdasmen) RI meluncurkan program STEM (Sains, Teknologi, Enjinering, dan Matematika) Nasional di PAUD Terpadu Kalirejo Kudus, Jawa Tengah pada Kamis (3/9/2026).

"Kita memang ingin membangun ini sejak awal, sejak pendidikan anak usia dini. Dan ini juga kami kaitkan dengan kebijakan Bapak Presiden tentang Wajib Belajar 13 Tahun dan mengenalkan sains sejak dari zaman kanak-kanak," kata Mendikdasmen Abdul Mu'ti dalam peluncuran tersebut.

"Ketika saya menyampaikan gagasan itu, ada yang mengkritik saya, bagaimana anak TK bisa belajar sains, bagaimana anak TK bisa belajar matematika? Tentu kita punya pemahaman yang berbeda dari yang mengkritik itu karena mungkin bayangan dia matematika itu ngitung. Itung-itungan yang kadang belum masanya," lanjutnya.

Patahkan Mitos Itu Sulit dan Mahal

Mendikdasmen menegaskan pihaknya ingin menumbuhkan kecintaan dan kemampuan pada teknologi sejak dini. Ia menyebut mitos bahwa sains itu sulit dan mahal, harus diubah.

"Jadi STEM itu tidak harus selalu berada di ruangan laboratorium yang canggih, regane larang, terus suasananya juga dibuat seperti rekayasa begitu. Itu tidak salah, tapi tidak harus begitu STEM itu," ungkapnya.

Abdul Mu'ti menyinggung perlunya growth mindset untuk belajar sains. Ia menekankan, perlu membangun pola pikir ini sebelum melakukan sesuatu, demikian pula dalam belajar sains.

"Sehingga mindet itu kita ubah dengan sains itu mudah, artinya semua orang bisa menjadi santis, kemudian sains itu ruah, tidak harus membeli peralatan lab yang miliaran. Tetapi bisa dari keseharian di mana anak-anak itu bisa menemukan banyak hal di lingkungan sekitarnya," kata Mu'ti.

Selain itu, ia juga mengatakan belajar sains perlu menggembirakan, mindful, dan meaningful.

"Nah, yang ini belum ketemu bahasa Indonesianya, sehinga saya masih pakai bahasa aslinya mindful dan meaningful," ujarnya.



Simak Video "Video Data Temuan Kecurangan TKA: Live Saat Ujian-Pembocoran Soal Via Medsos"

(nah/pal)
Berita Terkait
Berita detikcom Lainnya
Berita Terpopuler

Video

Foto

detikNetwork