Kabupaten Semarang - Sekitar 20 petani lansia di Desa Timpik, Semarang, rutin menabuh gamelan setiap Selasa malam. Mereka tergabung dalam kelompok Wreda Laras.
Foto Edu
Ketika Para Petani Desa Timpik Mengisi Usia Senja dengan Menabuh Gamelan
βDang, ding, dung, deng, gong...β Bunyi bonang, saron, kenong, dan gong bersahut-sahutan dari sebuah teras rumah di Dusun Bogo, Desa Timpik, Kecamatan Susukan, Kabupaten Semarang.Β Foto: Nindya Afifah
Para penabuhnya adalah sekitar 18-20 warga lansia berusia rata-rata 70 tahun ke atas. Sehari-hari mereka adalah petani, dan setiap Selasa malam mengisi waktu dengan bermain gamelan. Mereka menaman diri βWreda Larasβ. Foto: Nindya Afifah
βSetiap ketukan memiliki peran dan keterkaitan satu sama lain, sehingga diperlukan kerja sama dan kepekaan untuk dapat memainkannya dengan baik,β ujar Bintang Seva Anela, mahasiswi Fakultas Sastra Jepang Angkatan 2023 yang juga ketua kelompok KKN. Foto: Nindya Afifah
Tidak hanya butuh kemampuan dalam memainkan alat musik, tetapi juga perlu sinergi, konsentrasi, dan kekompakan antarpemain agar menghasilkan irama yang harmonis. Foto: Nindya Afifah
Pelatihnya Sudjimin, 75 tahun, pensiunan guru Matematika dan IPS yang hobi bermain gamelan sejak kelas 6 SD.Β Foto: Nindya Afifah
Selain para lansia, Sudjimin juga telaten mengajar 11 mahasiswa dari berbagai fakultas di Universitas Negeri Semarang yang tengah Kuliah Kerja Nyata di desa tersebut sejak pertengahan Juli hingga akhir Agustus nanti. Foto: Nindya Afifah
