Sekolah Nasional Terintegrasi (SNT) memiliki kurikulum yang berbeda dengan sekolah reguler. Apa perbedaannya?
Secara umum, SNT menggunakan kurikulum nasional dengan pendekatan pembelajaran mendalam. Kurikulum dijalankan berbasis pendekatan STEAMS (Science, Technology, Engineering, Arts, Mathematics, and Sport), digitalisasi pembelajaran, dan pengayaan tingkat global.
Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah (Mendikdasmen) Abdul Mu'ti menyebut kurikulum SNT disusun oleh tim di tingkat pusat melalui Badan Kebijakan Pendidikan Dasar dan Menengah (BKPDM). Penyelenggaraan SNT dibuat dengan dasar hukum Instruksi Presiden (Inpres) Nomor 10 Tahun 2026 tentang Program Sekolah Nasional Terintegrasi (SNT).
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Karena itu penyelenggaraan SNT ini dibuat dengan dasar hukum Inpres secara khusus, tidak mengikuti aturan yang sekarang ini berlaku," paparnya pada acara Taklimat Media Program Sekolah Nasional Terintegrasi di Plaza Insan Berprestasi, Gedung A Kemendikdasmen, Jakarta, Senin (20/7/2027) ditulis Selasa (21/7/2026).
Berdasarkan aturan saat ini, Mu'ti membeberkan, penyelenggaraan SMP berada di bawah kewenangan pemerintah kabupaten/kota. Sedangkan SMA diselenggarakan oleh pemerintah provinsi.
"Sementara SNT ini diselenggarakan oleh Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah, sehingga penyelenggaraan langsung pemerintah pusat, bukan pemerintah daerah," ujar Mu'ti lebih lanjut.
Kurikulum di SNT Kemendikdasmen
Direktur Jenderal Pendidikan Anak Usia Dini, Pendidikan Dasar, dan Pendidikan Nonformal dan Informal (Dirjen PAUD Dasmen PNFI), Gogot Suharwoto pada kesempatan yang sama menjelaskan lebih jauh tentang kurikulum yang dipakai SNT. Ia mengatakan, kurikulum SNT terdiri dari tiga lapisan, yaitu:
1. Kurikulum Nasional (Fondasi)
Kurikulum Nasional menjadi standar, arah, capaian pembelajaran nasional, dan dasar penyelenggaraan pembelajaran mendalam (deep learning).
2. Kurikulum Kekhasan Sekolah (Penguat)
Karakter, visi, dan program unggulan sesuai kebutuhan peserta didik dan sekolah (STEM, kepemimpinan, bahasa asing). Gogot menyebut, setiap SNT nantinya punya ikon tersendiri atau kekhasan.
"Ada SNT yang punya fasilitas pertanian, ada yang fasilitas perikanan, ada fasilitas coding dan AI, dan fasilitas-fasilitas tertentu yang memang menjadi ikon dari SNT," papar Gogot.
3. Kurikulum Berbasis Konteks Lokal (Pengaya)
Berdasarkan potensi daerah, kearifan lokal, budaya, dan kebutuhan masyarakat sebagai sumber belajar bermakna. Dalam kurikulum ini, Mendikdasmen menekankan bukan berarti Pemerintah Daerah menyusun kurikulum sendiri.
"Tapi kurikulum nasional yang disusun itu dalam muatannya mengandung nilai-nilai atau keunggulan-keunggulan yang ada di dalam satu daerah. Sehingga, kurikulumnya tetap kurikulum nasional yang di dalamnya ada muatan lokal," urai Mendikdasmen.
Pendekatan STEAMS
Dalam pelaksanaannya, SNT akan menggunakan pendekatan STEAMS, yaitu:
- Science: Memahami fenomena, sebab-akibat, dan bukti
- Technology: Alat, sistem, dan pemanfaatan data digital
- Engineering: Merancang, menguji, dan memperbaiki solusi
- Arts: Kreativitas, desain, ekspresi, dan komunikasi
- Mathematics: Pola, data, model, dan pengambilan keputusan
- Sports: Gerak, kesehatan, kerja tim, dan disiplin.
Itulah kurikulum yang digunakan di SNT Kemendikdasmen. Semoga bermanfaat dan bisa jadi pertimbanganmu untuk bersekolah di sini ya detikers!










































