Dosen Kampus Top AS Curhat Mahasiswanya Tak Paham Pecahan-Aljabar SMP

ADVERTISEMENT

Dosen Kampus Top AS Curhat Mahasiswanya Tak Paham Pecahan-Aljabar SMP

Tim detikEdu - detikEdu
Selasa, 18 Agu 2026 17:00 WIB
Ilustrasi Kuliah
Ilustrasi kuliah. Foto: Shutterstock/
Jakarta -

Dosen Matematika University of California (UC) Berkeley, Amerika Serikat, Zvezdelina Stankova mengeluh karena terpaksa harus mengajarkan matematika tingkat SMP ke mahasiswanya. Ia mengatakan, beberapa mahasiswa tertinggal 5-8 tahun dalam matematika.

"Jam kerja yang seharusnya digunakan untuk membahas integral malah jadi pelajaran tentang pecahan dan aljabar dasar yang seharusnya dipelajari siswa di SMP," kata Stankova dalam tulisan opininya di The San Fransisco Standard, dikutip Selasa (18/8/2026).

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Fenomena Umum di Kampus

Atas ketidaksiapan mahasiswa masuk kampus, Stankova dan ribuan dosen di 10 kampus UC, termasuk lima peraih Nobel, menandatangani surat terbuka yang berisi desakan pada kampus untuk mengembalikan tes terstandar pada penerimaan mahasiswa baru, yakni Scholastic Assessment Test (SAT) dan American College Testing (ACT).

Ia menjelaskan, fenomena ini tidak hanya terjadi di UC Berkeley, tetapi juga di kampus UC lainnya, meskipun tidak persis sama. "Ini bukan cuma cerita satu profesor atau masalah satu kampus," ujarnya.

ADVERTISEMENT

Berdasarkan laporan Senate-Administration Workgroup on Admissions, UC San Diego, Final Report, edisi 8 Januari 2026, antara tahun 2020-2025, 70 persen mahasiswanya memiliki kemampuan matematika di bawah tingkat SMP.

"Selama lima tahun terakhir, UC San Diego mengalami penurunan tajam dalam kesiapan akademis mahasiswa baru-terutama dalam matematika, tetapi juga dalam keterampilan menulis dan berbahasa. Antara tahun 2020 dan 2025, jumlah mahasiswa yang kemampuan matematikanya di bawah tingkat sekolah menengah atas meningkat hampir tiga puluh kali lipat," tulis laporan tersebut.

"Terlebih lagi, 70% dari mahasiswa tersebut berada di bawah tingkat sekolah menengah pertama, mencapai sekitar 1 dari 12 anggota kelompok mahasiswa baru," sambungnya.

Hilangnya Tes Terstandar

Stankova menjelaskan, penghapusan SAT dan ACT berlaku bertahap sejak pandemi di kampus-kampus UC. Alasannya antara lain karena dunia pendidikan terganggu akibat pandemi dan demi menerapkan kesetaraan bagi seluruh calon mahasiswa.

Sejak itu, staf penerimaan mahasiswa baru dilarang untuk mempertimbangkan hasil tes terstandar tersebut, yang sebelumnya dijadikan tolok ukur penerimaan pelajar asal SMA-SMA di California.

Namun, Stankova menyoroti, kampus-kampus ternama lain sudah mencabut aturan penghapusan tes terstandar sejak pandemi usai.

"MIT, Stanford, Harvard, dan Yale, semuanya menangguhkan persyaratan hasil tes terstandar selama pandemi. Semuanya telah memberlakukannya kembali. Di seluruh Ivy League, perubahan serupa sedang terjadi. UC sedang bergerak sebaliknya," tulis Stankova.

Ia mengungkapkan kekhawatirannya soal sikap kampus atas penerimaan mahasiswa baru. Sebab, di samping evaluasi kebijakan terstandar yang berkali-kali tertunda, kebijakan penerimaan terbaru diperkirakan baru akan selesai pada Juni 2027.

"Senat Akademik sekarang merencanakan peninjauan yang akan selesai pada Juni 2027, yang berarti tidak ada kebijakan penerimaan baru yang dapat berlaku sebelum musim gugur 2028.Mahasiswa tidak punya waktu sebanyak itu: mereka hanya kuliah sekali!," sesalnya.

Mahasiswa Teknik Tak Bisa Matematika

Kekhawatiran Stankova dan ribuan dosen UC menurutnya sangat beralasan. Mereka menilai persyaratan dan sistem penerimaan mahasiswa baru yang tidak cermat mengevaluasi pendaftar membuat pelajar yang belum siap masuk kampus jadi diterima, mengambil kuota pendaftar lain yang jadi tidak lolos seleksi.

Ia mencontohkan, mahasiswa UC dengan nama samaran Elias diterima di program studi (prodi) teknik unggulan. Padahal, orang tua Elias sendiri kaget dan tahu Elias paling lemah dalam mata pelajaran Matematika semasa SMA. Alhasil, orang tuanya beranggapan, bisa jadi sang anak diterima karena aspek lain yang tidak mereka sadari.

Hilangnya Kesempatan Calon Mahasiswa Lain

Sedangkan Nadia, pelajar lain, tidak lolos masuk kampus-kampus UC. Padahal, ia sudah menyicil mengambil mata kuliah Kalkulus II dan mata kuliah sains, teknologi, engineering (rekayasa), dan matematika (STEM) tingkat perguruan tinggi.

Stankova menjelaskan, dengan kembalinya tes terstandar seperti SAT dan ACT, pelajar seperti Nadia berkesempatan lolos seleksi masuk kampusnya dan mengenyam pendidikan di universitas di California.

Sedangkan pelajar seperti Elias justru dapat mengejar dan memantapkan dulu dasar-dasar matematika di community college, sebelum nantinya mendaftar dan masuk kampus UC.

Jumlah Mahasiswa Tak Paham Matematika Meningkat

Ia mengungkapkan, sebelum 2020, UC Berkeley menyelenggarakan ujian diagnostik untuk mahasiswa baru Kalkulus I. Antara 2018 dan 2020, 71% dari sekitar 2.200 mahasiswa yang diuji dinyatakan siap atau hampir siap untuk kalkulus.

" Hanya 0,14% yang diuji berada di bawah tingkat aljabar dasar," ungkapnya,

Namun, kebalikannya menurut Stankova tampak sejak UC menerapkan sistem penerimaan mahasiswa baru tanpa tes.

Ia mengungkapkan, dari sekitar 2.800 mahasiswa Kalkulus I yang diuji antara 2021 dan 2023 dengan diagnostik berbeda yang mengukur kemahiran dalam delapan topik matematika, rupanya persentase siswa yang siap atau hampir siap untuk kalkulus turun menjadi 51%. Angka ini bahkan merosot menjadi 44% pada tahun 2023.

Stankova menjelaskan, kesiapan mempelajari kalkulus dalam uji tersebut diartikan sebagai mahasiswa yang memiliki kemahiran dalam 5-8 topik matematika.

Menurutnya, yang paling mengkhawatirkan yaitu meningkatnya persentase mahasiswa yang tidak paham satupun topik matematika, yang merupakan bekal untuk belajar kalkulus.

Akibatnya, pada 2022-2023, banyak hasil ujian mahasiswanya bernilai nol.

"17 persen siswa tidak menjawab satu pun dari delapan topik diagnostik dengan benar. Pada tahun 2022-2023, lebih dari sepertiga siswa mengalami kekurangan pemahaman akan matematika yang parah, dan nilai yang paling umum pada ujian tersebut adalah nol," ujarnya.

Beban Mengajar Berlipat untuk 2 Kelompok

Ia juga mendapati fenomena pergeseran jumlah mahasiswa yang siap mempelajari kalkulus dan yang tidak. Sebelum 2020, menurutnya lebih banyak mahasiswa yang paham, tetapi kini mayoritas mahasiswa tidak siap belajar kalkulus.

Akibatnya, ia sebagai dosen memiliki dua tanggung jawab di satu ruang kuliah, yaitu mengajar mereka yang siap dan yang belum siap belajar kalkulus tingkat perguruan tinggi.

"Kami menyaksikan mahasiswa berjuang memahami materi yang seharusnya sudah mereka kuasai bertahun-tahun sebelumnya. Kami menghentikan kuliah sejenak untuk mengulang pengajaran persamaan linear, alih-alih memperluas pemahaman mahasiswa tentang persamaan diferensial," tulisnya.

"Orang-orang yang memperdebatkan kebijakan ini di TV, dalam rapat komite, dan dalam politik, tanpa mempertimbangkan nilai ujian mahasiswa, tidak berdiri di depan 700 mahasiswa tiga kali seminggu atau memberi nilai ujian tengah semester pertama dengan rata-rata D/F. Kami yang menghadapi mereka," imbuh Stankova.

Rekomendasi Perbaikan Krisis Matematika

Berdasarkan laporan UC San Diego, terdapat beberapa rekomendasi langkah untuk menghadapi krisis kesiapan matematika pada mahasiswa. Berikut di antaranya:

Buat dan terapkan indeks matematika mahasiswa, yang memprediksi kecenderungan mahasiswa untuk remedial, berdasarkan data penempatan dan variabel berbasis transkrip, seperti studi yang sudah diambil, nilai, dan sekolah asal.

Gunakan indeks matematika untuk mencocokkan mahasiswa dengan jurusannya, sehingga jumlah mahasiswa yang kesulitan matematika masih dapat ditangani.

Terapkan syarat matematika pada jurusan tertentu, pastikan calon mahasiswa tahu beda persyaratan per jurusan.

Terapkan tes matematika awal untuk semua mahasiswa baru yang prodinya membutuhkan matkul terkait matematika, sehingga perbaikan kesiapan belajar matematika bisa dilakukan lebih awal, yakni sejak sebelum masuk kuliah resmi.

Tingkatkan selektivitas kampus dengan tetap memerhatikan kesetaraan dan keterbukaan akses bagi calon mahasiswa

Bagi sekolah-sekolah yang nilai rapor siswanya tidak selaras dengan hasil tes penempatan, maka kampus perlu memberikan feedback terkait kualitas kurikulum dan 'inflasi' nilai yang terjadi

Terapkan indeks matematika sebagai salah satu indikator seleksi calon mahasiswa baru yang ingin masuk prodi-prodi yang membutuhkan kemampuan kuantitatif atau analisis tinggi.

Selengkapnya mengenai rekomendasi dan temuan UC San Diego terkait krisis matematika, literasi, dan kemampuan bahasa mahasiswa beserta rekomendasinya bisa diakses dengan klik DI SINI.



(twu/nwk)
Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Ranking PTN

Berikut daftar 5 Perguruan Tinggi terbaik Indonesia
Hide Ads